Tuesday, July 21, 2026
spot_img
Home Blog Page 66

Prof. M. Jamil Sampaikan Keharmonisan dan Perkembangan Islam di Indonesia di International Islamic Academy of Uzbekistan

 

Tashkent, Uzbekistan , muisumut.– Rabu, 6 November 2024, Prof. M. Jamil dari Indonesia memaparkan gambaran perkembangan Islam di Indonesia serta pentingnya kerja sama internasional di International Islamic Academy of Uzbekistan dalam kunjungan MUI Sumatera Utara ke Uzbelistan. Dalam pemaparannya, Prof. Jamil menjelaskan bahwa Indonesia, dengan populasi besar yang mayoritas beragama Islam, memiliki keberagaman organisasi masyarakat (ormas) Islam yang dapat hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini dimungkinkan oleh dasar negara yang diterima semua kalangan serta pemahaman agama yang moderat dan toleran.

Prof. Jamil juga mengapresiasi kontribusi Indonesia di kancah internasional melalui tokoh-tokoh Muslim berkaliber tinggi yang menghasilkan karya akademis luas. Selain itu, ia menggarisbawahi berdirinya kampus-kampus di Indonesia yang berhasil melahirkan generasi terpadu, yang menguasai ilmu pengetahuan dan spiritualitas secara seimbang. Perkembangan religiusitas masyarakat Indonesia, tambahnya, semakin terarah dan terukur melalui berbagai peraturan yang dibuat negara untuk membentuk kehidupan beragama yang damai.

Dalam presentasinya, Prof. Jamil menyoroti pentingnya menggali kekayaan peradaban Islam di Uzbekistan sebagai perbandingan yang inspiratif. Ia menyebut tokoh-tokoh besar seperti Bahauddin Naqshband, Imam Bukhari, Ibnu Sina, hingga Timurlenk sebagai sumber pengetahuan yang bisa memperkaya perspektif dan memperkuat peradaban Islam di Indonesia.

Selain itu, Prof. Jamil menyampaikan perhatian mengenai beberapa aspek keislaman yang masih perlu diperbaiki di Uzbekistan. Menurutnya, makanan dengan sertifikasi halal masih jarang dijumpai di negara ini. Ia menekankan pentingnya pemahaman lebih mendalam tentang praktik-praktik keislaman, seperti shalat, zakat, dan lainnya, yang perlu ditingkatkan demi pengamalan agama yang lebih utuh.

Ia juga menekankan perlunya mempererat kolaborasi antara ulama dari Indonesia dan Uzbekistan, agar kedua negara dapat saling belajar dan mendukung pemahaman Islam yang damai dan moderat. Dengan adanya hubungan yang lebih mendalam, Prof. Jamil berharap Indonesia dan Uzbekistan bisa memperkuat posisi sebagai pusat peradaban Islam yang berdaya saing di

MUI Sumatera Utara Bertemu dengan Kedutaan Besar RI di Uzbekistan: Diskusikan Potensi Kerjasama di Bidang Keagamaan dan Pariwisata

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  – 6 November 2024, Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Uzbekistan pada Rabu (6/11). Delegasi MUI disambut hangat oleh Sintia Christianity Saeh, Charge d’Affaires sekaligus Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tashkent. Rombongan tidak langsung diterima Duta Besar karena Duta Besar Uzbekistan baru saja wafat dan penggantinya, Ibu Siti Rohaini, belum tiba di Tashkent.

Dalam pertemuan tersebut, Sintia Saeh mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama Kedutaan Uzbekistan menerima kunjungan dari MUI Sumatera Utara, setelah MUI Pusat melakukan kunjungan tahun lalu. Ia menyampaikan pandangannya bahwa kunjungan ini sangat strategis, mengingat hubungan sejarah antara Indonesia dan Uzbekistan yang erat, terutama dalam bidang keagamaan dan budaya.

“Kunjungan ini menjadi simbol hubungan yang erat dan bersejarah antara kedua negara, terlebih dengan tujuan utama untuk ziarah ke makam Imam Bukhari. Indonesia dan Uzbekistan dapat menjajaki kerja sama di bidang pariwisata, ilmu pengetahuan Islam, hingga produk halal,” ujar Sintia.

Pada kesempatan tersebut, Sintia juga menyebutkan bahwa pada tahun 2025 Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan ke Uzbekistan. Presiden Prabowo berencana mengusulkan pembangunan Taman Soekarno di Samarkand, dekat dengan makam Imam Bukhari, sebagai simbol persahabatan kedua negara.

“Di Uzbekistan, masyarakat kami kerap mengingat Indonesia dengan nama besar Soekarno. Hal ini tidak lepas dari kunjungan Presiden Soekarno ke Uzbekistan yang kala itu masih merupakan bagian dari Uni Soviet pada tahun 1956 dan 1961,” tambah Sintia.

Pada era Uni Soviet di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev, Bung Karno menggunakan strategi diplomatik unik. Ia menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan Khrushchev hanya jika pemerintah Soviet dapat menemukan makam Imam Bukhari. “Dulu makam ini tidak dikenal, tidak ditemukan [makam] Imam Bukhari ini. Tapi Bung Karno menyadarkan pemerintah sini [Uzbekistan] bahwa di sini ada tokoh utama, yaitu Imam Bukhari,” ungkap Sintia. Bung Karno bahkan menyampaikan, “Tidak akan saya datang ke sini kalau tidak dibangunkan [makam] Imam Bukhari.”

Usaha Bung Karno ini berujung pada renovasi dan pembangunan kompleks makam Imam Bukhari yang kini menjadi salah satu tujuan wisata religi utama di Uzbekistan. Mengenang peran besar Bung Karno, pemerintah Indonesia mengusulkan kepada pemerintah Uzbekistan untuk membangun perpustakaan khusus bernama Soekarno Memorial Library di dekat makam tersebut. “Kita mengusulkan supaya di tempat ini dibangun, karena dulu ada kaitan dengan Bung Karno, [yaitu] Soekarno Memorial Library. Semacam perpustakaan Bung Karno, untuk mengenang bahwa Bung Karno yang kemudian menemukan tempat ini [Makam Imam Bukhari],” tambah Sintia.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Umum MUI Sumatera Utara menyatakan rasa syukurnya atas kesempatan berkunjung dan mempelajari lebih dalam sejarah dan praktik keagamaan di Uzbekistan. “Kunjungan ini telah lama kami rencanakan dan almarhum Ketua Umum H. Abdullah Syah, sangat berkeinginan untuk bisa hadir di sini. Selama di Uzbekistan, kami berziarah ke berbagai tempat bersejarah, termasuk di Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Kami banyak belajar bahwa mazhab yang dianut adalah Hanafi, dan pemerintah menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan Islam,” ujarnya.

Delegasi MUI juga sempat mengunjungi Islamic Academy dan Madrasah Mir Ali, serta menyampaikan minat untuk mengirimkan mahasiswa Indonesia untuk belajar di Uzbekistan. Ketua MUI Sumut menyebutkan bahwa pihak universitas di Uzbekistan tertarik menerjemahkan kitab Imam Bukhari ke dalam bahasa Indonesia.

Sintia Saeh menambahkan bahwa perkembangan Islam di Uzbekistan sangat berproses, terutama setelah masa Uni Soviet yang sangat membatasi ekspresi keagamaan. Saat ini, di bawah pemerintahan presiden saat ini, masyarakat mulai diberikan kebebasan beragama, meskipun masih ada beberapa aturan seperti larangan pemakaian cadar bagi wanita sejak Oktober 2023. Pemerintah juga mendorong pendidikan bagi wanita agar mereka dapat berperan lebih aktif dalam dunia kerja.

Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Uzbekistan, terutama dalam pengembangan pariwisata religi, pendidikan, dan pemahaman keislaman yang lebih mendalam

MUI Sumut Hadiri Pertemuan dengan Dinas Kesehatan, Tegaskan Fatwa Terkait Vaksin Polio

Medan, muisumut.or.id., 5 November 2024 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, diwakili oleh Dr. Irwansyah, M.H.I., Dewan Pimpinan yang membidangi Fatwa, hadir dalam Rapat Koordinasi Program VaxSocial yang diadakan untuk mendukung upaya imunisasi polio di wilayah Sumatera Utara. Rapat tersebut berlangsung di Ruang Rapat II Kantor Gubernur Sumatera Utara, dengan partisipasi berbagai pihak termasuk WHO Indonesia, GHS, Dinas Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, serta beberapa perwakilan Puskesmas.

Program vaksinasi polio ini rencananya akan difokuskan di Kota Medan dan Kabupaten Langkat, mengingat masih adanya penolakan dari sebagian masyarakat untuk menerima vaksin polio. Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Basarin Yunus, dalam sambutannya, menyatakan harapannya agar semua pihak bersinergi demi kesuksesan program ini demi kesehatan anak-anak di Sumatera Utara. “Kami berharap program vaksinasi ini bisa berjalan optimal dengan dukungan seluruh pihak terkait,” ujar Basarin.

Penjelasan MUI Tentang Fatwa Vaksin Polio

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Irwansyah menyampaikan bahwa sejak tahun 2002, Komisi Fatwa MUI telah mengeluarkan fatwa terkait vaksin Polio Injeksi (IPV) dan pada tahun 2005 terkait Vaksin Polio Oral (OPV). Kedua fatwa tersebut mengakui bahwa dalam proses pembuatan vaksin polio, terdapat paparan dengan zat najis, meskipun dalam produk akhir tidak ditemukan kandungan najis tersebut.

“Karena kondisi mendesak dan belum ada alternatif lain yang halal, Komisi Fatwa MUI memutuskan untuk membolehkan penggunaan vaksin polio tersebut selama tidak ada pilihan lain,” jelas Irwansyah. Ia juga menekankan bahwa MUI berharap adanya upaya dari pemerintah, termasuk WHO, untuk memproduksi vaksin polio yang halal, terutama bagi negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Kendala dan Tantangan Edukasi Vaksin Polio

Irwansyah juga mengidentifikasi beberapa kendala dalam efektivitas vaksinasi polio. Salah satunya adalah minimnya edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya vaksin. “Banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi lengkap mengenai manfaat vaksin, ditambah lagi dengan efek samping ringan seperti demam yang kadang terjadi setelah vaksinasi,” ungkapnya. Selain itu, isu kehalalan juga masih menjadi perhatian masyarakat, yang membuat sebagian ragu untuk divaksinasi.

Lebih lanjut, Irwansyah menjelaskan bahwa fatwa MUI memiliki dua poin keputusan, yaitu:

  1. Pada dasarnya, penggunaan obat atau vaksin yang berasal dari atau bersinggungan dengan benda najis adalah haram.
  2. Namun, pemberian vaksin IPV dan OPV kepada anak-anak yang memiliki kekebalan rendah atau immunocompromised dibolehkan, selama belum ada alternatif vaksin yang suci dan halal.

MUI Sebagai Mitra Pemerintah dalam Upaya Kesehatan

Menutup penjelasannya, Irwansyah menyatakan bahwa MUI mendukung penuh upaya pemerintah dalam bidang kesehatan, termasuk vaksinasi yang bertujuan untuk menjaga kesehatan generasi bangsa. “MUI berfungsi sebagai pelayan umat (khadimul ummah) dan sekaligus mitra pemerintah (shadiiqul hukumah). Sinergi antara MUI dan pemerintah diharapkan terus berjalan dengan baik, tentunya dalam batas kewenangan dan kemampuan MUI, khususnya terkait penjelasan hukum syar’i,” pungkasnya.

Pertemuan ini mencerminkan komitmen MUI Sumatera Utara dalam mendukung program kesehatan nasional, sambil tetap menjalankan peran pentingnya dalam memberikan pencerahan hukum syariat bagi masyarakat Muslim di Sumatera Utara.

Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara Bahas Hukum Waris dan Muzakarah  Edisi November 2024

0

Medan, muisumut.or.id., 5 November 2024 — Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara menggelar sidang penting yang berlangsung di Ruang Rapat Fatwa MUI Sumut, Jalan Majelis Ulama No. 03, Sutomo Ujung, Medan Timur. Sidang yang digelar pada Selasa, 5 November 2024 ini membahas berbagai isu strategis, di antaranya hukum waris dalam Islam, dinamika politik jelang Pilkada 2024, dan sejumlah persoalan sosial keumatan lainnya.

Pembahasan Hukum Waris

Topik utama yang disoroti dalam sidang kali ini adalah persoalan hukum waris yang masih sering memicu perdebatan di tengah masyarakat Muslim. Komisi Fatwa MUI Sumut meneliti berbagai aspek hukum waris untuk memastikan pembagian harta warisan dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dalam sidang tersebut, sejumlah kasus konkret turut diangkat sebagai contoh, guna merumuskan keputusan yang mampu memberikan keadilan bagi seluruh ahli waris.

Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut menyatakan bahwa penting bagi MUI untuk memberikan panduan yang jelas dan aplikatif agar umat Islam memahami hak dan kewajiban dalam hal pembagian warisan. “Kami berharap, melalui pembahasan ini, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya mengikuti aturan syariat dalam mengelola warisan, sehingga tercipta keadilan dan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.

Mudzakarah Edisi November: Pencerahan Politik Menjelang Pilkada 2024

Selain hukum waris, MUI Sumut juga menggelar Mudzakarah yang menjadi forum untuk membahas isu-isu strategis bagi umat Islam. Dengan suasana politik yang kian memanas menjelang Pilkada 2024, MUI Sumut merasa perlu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar bijak dalam menentukan pilihan politik mereka.

Menyikapi Masalah Sosial dan Keagamaan yang Berkembang

Sidang Komisi Fatwa juga menyoroti berbagai masalah sosial, ekonomi, dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Sumatera Utara. Komisi Fatwa berupaya memberikan solusi dari sudut pandang syariat Islam atas berbagai fenomena yang memengaruhi kehidupan umat Muslim di wilayah ini.

Dalam kesempatan tersebut, Komisi Fatwa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga ukhuwah Islamiyah dan memperkuat nilai-nilai agama dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. “MUI Sumut berkomitmen untuk terus memberikan pencerahan dan arahan yang bermanfaat bagi masyarakat, agar umat Islam dapat hidup dengan tenang dan damai di tengah-tengah berbagai dinamika sosial yang ada,” ungkap salah satu anggota Komisi Fatwa.

Sidang ini menjadi ajang penting bagi MUI Sumut dalam menjaga persatuan umat dan memberikan panduan yang sesuai dengan syariat Islam bagi masyarakat. MUI Sumut berharap, seluruh keputusan yang diambil dalam sidang ini dapat memberi manfaat yang luas dan membawa kedamaian bagi masyarakat Sumatera Utara.

Delegasi MUI Sumatera Utara  Menjadi Sorotan TV Uzbekistan di Timur Square

0

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id., 5 November 2025 – Dalam kunjungan ke Amir Timur Square di Tashkent, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mendapat perhatian media lokal. TV Uzbekistan, salah satu stasiun televisi Dunyo bo‘ylab yang bercorak dokumenter di negara tersebut, mewawancarai Prof. Dr. Jamil, perwakilan dari delegasi MUI Sumut, yang berbagi pandangannya mengenai keindahan dan kekayaan budaya Uzbekistan, serta tujuan utama rombongan selama berada di negara Asia Tengah tersebut.

Saat sesi wawancara bersama reporter TV Dunyo bo‘ylab, Azizah, Prof. Jamil menyampaikan beberapa hal menarik mengenai kunjungan ini. Azizah membuka wawancara dengan menanyakan durasi dan tujuan kunjungan delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Prof. Jamil menjelaskan bahwa delegasi mereka akan berada di Uzbekistan selama sekitar tujuh hari. “Uzbekistan adalah negara yang penuh dengan sejarah Islam yang kaya dan mempesona. Banyak ulama besar yang lahir di sini, menjadikan negara ini sebagai pusat peradaban Islam yang sangat menginspirasi,” ungkapnya. Prof. Jamil juga menambahkan, “Kami berada di sini untuk melakukan ziarah serta bertukar ilmu dan pengalaman dengan para cendekiawan dan ulama Uzbekistan.”

Wawancara semakin menarik ketika Azizah menanyakan kota mana di Uzbekistan yang paling berkesan bagi delegasi MUI Sumut di antara Bukhara, Samarkand, dan Tashkent. Prof. Jamil dengan antusias menyatakan bahwa ketiga kota tersebut memiliki keistimewaan masing-masing. “Bukhara, Samarkand, dan Tashkent adalah kota-kota yang luar biasa. Bukhara dikenal sebagai kota seribu madrasah, Samarkand adalah pusat ilmu pengetahuan dan arsitektur Islam klasik, sementara Tashkent sebagai ibukota memiliki nuansa modern yang harmonis dengan nilai tradisi. Kami sangat senang dan antusias melihat keindahan budaya dan sejarah dari masing-masing kota,” jelas Prof. Jamil.

Lebih lanjut, Prof. Jamil menyampaikan kekagumannya pada arsitektur kuno yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman di Uzbekistan, terutama di situs-situs bersejarah seperti Amir Timur Square, yang menjadi simbol kejayaan Amir Timur (Tamerlane) sebagai sosok pemimpin dan penakluk besar di Asia Tengah. “Amir Timur adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam, dan kehadiran patungnya di tengah kota mengingatkan kita pada peran pentingnya dalam perkembangan peradaban Islam,” tambahnya.

TV  Dunyo bo‘ylab, Uzbekistan  juga menyoroti antusiasme delegasi MUI Sumut yang mengunjungi berbagai situs bersejarah sebagai bagian dari ziarah dan studi perbandingan. Prof. Jamil mengungkapkan bahwa Uzbekistan tidak hanya memiliki sejarah yang kaya tetapi juga menawarkan pelajaran berharga dari keberagaman budayanya. “Kami ingin belajar bagaimana Uzbekistan melestarikan sejarah dan budayanya, termasuk situs-situs madrasah dan masjid yang tetap terjaga meski telah berusia ratusan tahun. Hal ini sangat menginspirasi kami dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Islam di Indonesia,” pungkasnya

Rombongan MUI Sumatera Utara Kunjungi Amir Temur Square di Tashkent

0

Tashkent, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  Selasa, 5 November – Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara memulai perjalanan mereka dari Samarkand menuju kota Tashkent, Uzbekistan, pagi ini pukul 09.00 waktu setempat. Mereka tiba di Tashkent pada pukul 16.00 setelah menempuh perjalanan dengan bus. Perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar 5 jam, namun ditempuh lebih lama dikarnakan banyak persinggahan.  Dalam perjalanan, rombongan mengunjungi  Menara Televisi Tashkent, salah satu ikon kota yang merupakan bangunan tertinggi di Asia Tengah dengan ketinggian mencapai 375 meter. Menara ini, yang terbuat dari baja, dibangun pada 1978 dan mulai beroperasi pada 15 Januari 1985.

Setibanya di Tashkent, sebelum menuju hotel, rombongan menyempatkan diri untuk mengunjungi Amir Timur Square. Alun-alun ini awalnya merupakan taman yang dibangun pada era Gubernur Jenderal Turkestan Rusia, terletak di persimpangan dua jalan utama, yakni Jalan Moskow (kini Jalan Amir Timur) dan Jalan Kaufmann (kini Jalan Milza Ulugh Beg). Awalnya dikenal sebagai Alun-Alun Constantinov, taman ini didirikan pada 1882 oleh Nikolai Ulyanov di bawah arahan Mikhail Chernyayev. Setelah Revolusi Rusia pada 1917, alun-alun ini diganti namanya menjadi Alun-Alun Revolusi, yang kemudian dihiasi dengan patung Joseph Stalin pada akhir 1940-an. Patung Stalin kemudian dihilangkan pada 1961, dan digantikan dengan patung Karl Marx pada 1968. Setelah Uzbekistan merdeka pada 1991, alun-alun ini diubah namanya menjadi Alun-Alun Amir Timur pada 1994, di mana patung Amir Timur kini berdiri sebagai simbol kebanggaan nasional. Tepat di sebelah selatan alun-alun, Museum Amir Timur dibangun pada 1996.

Rombongan MUI Sumatera Utara memilih untuk tidak memasuki Museum Amir Timur, namun mengagumi sejarah dan arsitektur museum dari luar. Museum Sejarah Dinasti Timurid, yang juga dikenal sebagai Museum Amir Temur, terletak di pusat kota Tashkent dan merupakan salah satu landmark penting di kota tersebut. Dibuka pada 1996 untuk menghormati Amir Temur, museum ini mengabadikan sejarah dan kontribusi besar Amir Temur dalam membangun Asia Tengah dan mempersatukan Uzbekistan. Museum ini termasuk dalam daftar “Objek Ilmiah Unik Negara” Uzbekistan dan menerima sekitar 2 juta pengunjung setiap tahun, termasuk wisatawan internasional.

Lima Guru Besar berfoto bersama
Lima Guru Besar berfoto bersama

Uzbekistan, yang merdeka pada 1991, menaruh perhatian besar terhadap pemulihan budaya dan pengakuan terhadap tokoh sejarah seperti Amir Temur yang berjasa besar bagi kemajuan negara. Pada 1996, ulang tahun Amir Temur yang ke-660 diperingati secara nasional sebagai “Tahun Amir Temur,” dan museum ini dibuka sebagai bagian dari penghormatan tersebut.

Museum ini memiliki tiga lantai dengan desain arsitektur bundar dan kubah bergaya oriental. Interiornya dihiasi dengan marmer, fresko, dan lampu kristal besar setinggi 8,5 meter dengan 106 ribu liontin. Museum ini menyimpan sekitar 5 ribu koleksi, termasuk manuskrip, senjata, keramik, dan koin yang berasal dari masa pemerintahan Amir Temur dan dinastinya. Salah satu koleksi paling berharga adalah salinan Quran Utsman dan panel miniatur yang menggambarkan perjalanan hidup Amir Temur.

Secara rutin, museum ini mengadakan berbagai pameran internasional yang menampilkan koleksi langka, seperti manuskrip kuno dan lukisan miniatur, bekerja sama dengan negara-negara seperti India, Iran, dan Oman. Beberapa pameran museum ini bahkan pernah diadakan di luar negeri, seperti “Renaisans Timurid” di Prancis, Expo 2000 di Jerman, dan “Warna-Warni Kain dan Keramik” di Australia.

Kunjungan rombongan MUI Sumatera Utara ke Tashkent dan Amir Timur Square ini diharapkan dapat mempererat hubungan budaya dan memperdalam pemahaman mengenai sejarah besar peradaban Islam yang pernah berjaya di Asia Tengah.

Delegasi MUI Sumut Sampaikan Terimakasih ke Pusat Kajian Imam Bukhari dan Sekolah Tinggi Ilmu Hadis di Uzbekistan

0

Samarkand, Uzbekistanm muisumut.or.id, 4 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI-SU) yang diwakili oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional (HLNKI), KH Akhyar Nasution, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kesempatan mengunjungi Pusat Kajian Imam Bukhari di Uzbekistan. Lembaga pemerintah ini didirikan untuk memperkenalkan kontribusi keilmuan para ulama Asia Tengah yang dalam literatur klasik dikenal dengan sebutan ma wara’a an-Nahr atau Transoxiana.

Dalam wawancara, KH Akhyar Nasution mengungkapkan kebahagiaannya ketika mendapatkan informasi dari Rektor Dr. Barot Amonov bahwa mulai Oktober 2024, Pusat Kajian Imam Bukhari akan menawarkan program beasiswa internasional bagi mahasiswa dari berbagai negara. “Kami sangat berharap dapat mengirim mahasiswa berprestasi dari Indonesia melalui dukungan MUI Sumut. Ini adalah kesempatan besar bagi generasi muda Indonesia untuk mendalami ilmu dan peradaban Islam yang berkembang pesat di Asia Tengah,” ujar KH Akhyar.

Program beasiswa ini juga ditujukan kepada para peneliti manuskrip keislaman dari seluruh dunia, terutama mereka yang ingin meneliti tentang karya-karya para ulama Asia Tengah. Lembaga ini telah melakukan banyak inisiatif dalam mengumpulkan, meneliti, menerjemahkan, serta mempublikasikan berbagai karya ulama Asia Tengah, khususnya karya-karya monumental dari Imam Bukhari. Dr. Barot Amonov menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan agar generasi muda di seluruh dunia dapat mengenal dan mengapresiasi warisan intelektual yang dihasilkan para ulama besar.

Tidak hanya mengunjungi Pusat Kajian Imam Bukhari, delegasi MUI Sumut juga diberi kehormatan untuk berkunjung ke Sekolah Tinggi Ilmu Hadis Imam Bukhari. Lembaga pendidikan ini fokus pada kajian mendalam terhadap Al-Quran dan Hadits, dengan kajian hadits yang mencakup berbagai kitab yang disusun oleh para Imam Hadits seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah. KH Akhyar menyampaikan bahwa Sekolah Tinggi Ilmu Hadis ini telah menjadi pusat penting dalam melahirkan generasi cendekiawan yang mampu memahami dan mengembangkan ilmu hadits secara mendalam.

Delegasi MUI Sumut juga mendapatkan kesempatan untuk meninjau fasilitas di Sekolah Tinggi Ilmu Hadis tersebut, termasuk perpustakaan, ruang kelas, dan sarana olahraga mahasiswa. “Melihat fasilitas dan komitmen pendidikan yang ada, kami merasa sangat terinspirasi dan berharap agar lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia juga dapat terus berkembang dan memperluas program kajian hadits yang terstruktur dan mendalam,” tambah KH Akhyar.

Kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan kerjasama antara MUI Sumut dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Uzbekistan, namun juga membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk mendapatkan akses ke ilmu pengetahuan yang berharga dari salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tengah. KH Akhyar menegaskan komitmen MUI Sumut untuk terus mendukung mahasiswa dan peneliti Indonesia dalam mengejar kesempatan belajar di luar negeri, agar ilmu dan wawasan yang diperoleh dapat membawa manfaat bagi perkembangan Islam di tanah air.

4o

ChatGPT dapat membuat kesalahan. Periksa info penting.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Imam Abu Mansur Al-Maturidi di Samarkand

Samarkand, Uzbekistan, musumut.or.id., 4 November 2024– Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, melakukan ziarah ke makam Imam Abu Mansur Al-Maturidi, seorang tokoh besar dalam sejarah Islam. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda ilmiah MUI Sumut di Uzbekistan, dalam rangka memperdalam wawasan tentang para ulama berpengaruh dari Asia Tengah, yang menjadi pusat peradaban Islam pada masanya.

Rombongan tiba di kompleks makam pada Senin (4/11/2024) pukul 15.15 waktu setempat. Untuk mencapai makam, para anggota rombongan harus berjalan kaki sejauh 200 meter, karena bus tidak dapat memasuki area makam yang sakral. Di tempat tersebut, rombongan melaksanakan pembacaan tahtim dan doa yang dipimpin oleh KH Akhyar Nasution, sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Al-Maturidi, sosok yang dikenal karena sumbangsihnya dalam merumuskan dan menjaga kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Imam Abu Mansur Al-Maturidi, yang memiliki nama lengkap Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi, adalah seorang ahli kalam dan tokoh teologi Islam berpengaruh pada masanya. Berasal dari Samarkand, beliau berhasil mematahkan berbagai paham menyimpang dengan argumentasi yang kuat dan logis, serta mempertahankan ajaran Islam yang lurus dan sesuai dengan sunnah Rasulullah dan para Sahabat.

Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar ziarah, tetapi juga sarana untuk mengingat kembali kontribusi besar Imam Al-Maturidi dalam menjaga ajaran Islam yang murni. “Ulama yang kita ziarahi ini, Imam Abu Mansur Al-Maturidi, adalah salah satu dari dua imam besar yang merumuskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah. Bersama Abu Musa Al-Asy’ari, beliau berperan penting dalam meluruskan paham-paham yang menyimpang di zamannya,” tutur Buya Maratua.

Lebih lanjut, Buya Maratua menjelaskan bahwa sebagai ahli kalam dan aqidah, Imam Abu Mansur Al-Maturidi banyak berjasa dalam mengembalikan paham yang menyimpang kepada ajaran Islam yang asli. “Pada masa itu, banyak paham menyimpang seperti Mu’tazilah dan Qadariyah yang berkembang di kawasan ini. Imam Al-Maturidi, dengan ilmunya, mampu meluruskan paham-paham tersebut dan kembali mengajarkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para Sahabat,” tambahnya.

Imam Al-Maturidi dikenal pula dengan gelar Rais Ahlussunnah (Pemimpin Ahlussunnah) dan al-Imam al-Zahid (Pemimpin yang Zuhud), karena keteguhannya dalam ilmu dan kesederhanaannya dalam hidup. Beberapa tokoh besar juga tercatat sebagai muridnya, termasuk Abu Bakar Ahmad al-Juzjani, Abu Nashr Ahmad al-‘Iyadh, dan Nushair bin Yahya al-Balkhi, yang turut menyebarkan ajarannya di berbagai penjuru wilayah.

Rombongan juga menemukan batu batu nisan disamping makam Imam Maturidi yang diyakini oleh arkiolog bahwa dulu makam ini ada 6 tingkat, dan batu batu ini adalah bagiannya

Ziarah ini meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan MUI Sumut. “Ini bukan hanya tentang mengenang tokoh besar, tapi juga menghidupkan kembali semangat memperjuangkan Islam yang lurus dan moderat, sesuai yang diajarkan para pendahulu kita,” tutup Buya Maratua.

Kunjungan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi umat Islam, khususnya di Indonesia, untuk terus menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari, serta meneruskan perjuangan ulama terdahulu yang senantiasa mengutamakan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Rombongan MUI Sumut Ziarah ke Makam Amir Timur di Samarkand

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id., 4 November 2024 – Dalam upaya mempererat spiritualitas dan menghidupkan kembali jejak sejarah peradaban Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan kunjungan ziarah ke makam Amir Timur, atau Gur-e Amir Maqbarasi, di Samarkand. Kegiatan ziarah ini bertujuan untuk meneladani tokoh Islam besar, mengenal arsitektur bersejarah, dan menguatkan nilai-nilai persaudaraan antarbangsa.

Setibanya di lokasi, rombongan MUI Sumut terpesona oleh keindahan arsitektur bangunan bersejarah yang memiliki kubah berwarna biru eksotis, yang menjadi salah satu ciri khas kompleks Gur-e Amir. Selain mempelajari sejarah Amir Timur dan kontribusinya dalam perkembangan peradaban Islam, rombongan juga mendengarkan kisah-kisah menarik yang disampaikan oleh pemandu wisata, Adil Bek. Beberapa kisah misteri seputar makam ini menambah daya tarik bagi para pengunjung.

Di dalam mausoleum, rombongan melihat batu nisan Amir Timur yang terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua, sekilas tampak seperti hitam. Batu zamrud ini dipercaya sebagai batu terbesar yang ditemukan pada masa cucu Amir Timur, Ulugh Beg, yang terkenal dengan observatoriumnya di Samarkand. Konon, batu ini ditemukan di Tiongkok dan telah diukir dengan nama Amir Timur sebagai pengingat garis keturunan langsungnya dari Ghengis Khan.

Rombongan MUI Sumut dipandu Adil Bek, yang memandu  menyusuri area kompleks makam Amir Timur. Setibanya di sana, rombongan terkesima dengan kemegahan arsitektur bangunan, khususnya kubah biru yang khas dan megah. Kompleks Gur-e Amir ini juga menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa anggota keluarga Dinasti Timurid, termasuk Ulugh Beg, cucu Amir Timur yang terkenal atas kontribusinya dalam ilmu astronomi di Samarkand

Selama kunjungan, rombongan juga menjumpai puing-puing bekas bangunan madrasah yang terletak di sekitar area makam. Puing-puing ini menjadi saksi bisu kejayaan pendidikan Islam pada masa Dinasti Timuri, yang dulu mendirikan madrasah sebagai pusat pendidikan. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. Di sebelah madrasah terdapat masjid yang masih berfungsi. Ketiga bangunan ini membentuk satu ansambel.  Reruntuhan madrasah ini mengingatkan pengunjung akan pentingnya peran pendidikan dalam mengembangkan peradaban.

Saat berada di dalam mausoleum, rombongan mengamati batu nisan Amir Timur yang sangat eksotis, terbuat dari batu zamrud berwarna hijau tua yang sekilas tampak hitam. Batu zamrud ini konon adalah yang terbesar pada zamannya, didatangkan dari Tiongkok, dan memiliki ukiran nama Amir Timur sebagai simbol garis keturunannya dari Ghengis Khan. Keunikan batu zamrud ini menjadi salah satu daya tarik yang membuat pengunjung terkagum-kagum akan sejarah dan kemegahan Dinasti Timurid.

Rombongan MUI Sumatera Utara yang dipimpin  Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak  menyempatkan untuk berdoa bersama di depan kuburan Amir Timur dan beberapa kuburan disebelahnya, Untuk mengenali kuburannya ada papan pengumuman sehingga lebih mudah pengunjung untuk mengetahui posisi makam tersebut, di samping bahwa makam Amir Timur berbeda karena terbuat dari Zamrud berwarna hijau tua yang tampak seperti warna hitam

Selain itu, rombongan juga menemukan area belanja suvenir yang menarik, berada dalam bangunan menyerupai gua di sekitar kompleks makam. Beberapa orang menganggap Gur-e Amir, makam Ruhabad, dan makam Aksaray sebagai satu ansambel karena letaknya yang berdekatan. Ruhabad (abad ke-14) adalah sebuah makam kecil dan konon berisi sehelai rambut Nabi Muhammad. Madrasah satu lantai yang ada kini menampung toko kerajinan. .  Tempat ini menyediakan berbagai suvenir khas, mulai dari kerajinan lokal hingga cendera mata dengan nuansa sejarah Islam, yang bisa menjadi kenang-kenangan dari kunjungan mereka ke Samarkand. Keberadaan tempat suvenir ini menambah pengalaman tersendiri bagi rombongan, yang turut berinteraksi dengan masyarakat setempat serta mendukung ekonomi lokal.

Ziarah ini tak hanya memberikan wawasan sejarah yang kaya, tetapi juga membawa pengalaman spiritual yang mendalam. Ketua MUI Sumut menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menghormati jasa besar Amir Timur dalam sejarah peradaban Islam dan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Islam yang berharga.

Dengan menghidupkan kembali tradisi ziarah, rombongan MUI Sumut berharap agar umat Islam semakin mengenal sejarah dan meneladani tokoh-tokoh besar Islam, serta mempererat persaudaraan di antara umat Islam di seluruh dunia

Delegasi MUI Sumut Berziarah ke Makam Imam Bukhari

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id,  4 November 2024 – Setelah pertemuan dengan Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Hadis dan Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara  berziarah ke makam Imam Bukhari, yang memang berada satu komplek . Namun, karena makam tersebut sedang dalam tahap perbaikan, rombongan hanya dapat berziarah dan berdoa dari luar makam.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, memimpin doa bersama di lokasi ziarah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan, “Kami sangat ingin berziarah lebih dekat, namun kondisi yang tidak memungkinkan. Semoga kompleks makam ini segera selesai, sehingga umat Islam sedunia bisa berziarah kembali.”

Makam Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari merupakan situs penting bagi umat Islam, berlokasi di Desa Khartang Samarkand  dan saat ini tengah dilakukan proyek berskala besar untuk rekonstruksi lengkap lahan seluas 48.300 meter persegi di sekitarnya. Proyek ini mencakup pembangunan masjid besar baru dengan kapasitas 8.000 jamaah dan taman lanskap yang indah seluas 4.400 meter persegi. Diharapkan, masjid ini akan mampu menampung hingga 5 juta peziarah setiap tahunnya.

Kompleks tersebut juga akan mencakup situs ziarah dengan mausoleum Imam Bukhari, ruang shalat yang luas, dan hotel yang dibangun sesuai dengan prinsip halal. Pembangunan diharapkan selesai pada tahun 2025, sehingga dapat memberikan akses yang lebih baik bagi peziarah yang ingin menghormati salah satu ulama terkemuka dalam sejarah Islam.

Momen ziarah ini menegaskan komitmen MUI Sumut untuk terus menjaga hubungan spiritual dengan warisan keilmuan Islam dan memperkuat jalinan ukhuwah antar umat.