Tuesday, July 21, 2026
spot_img
Home Blog Page 67

MUI Sumatera Utara Mendapat Undangan Beasiswa dari Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, Samarkand

0

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id.,  4 November 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menerima undangan kehormatan dari Imam Bukhari International Scientific Research Center di Samarkand, Uzbekistan, dalam pertemuan yang dilaksanakan pada hari Senin, 4 November 2024. Undangan ini merupakan langkah awal dalam mempererat hubungan ilmiah dan budaya antara MUI Sumut dengan lembaga internasional terkemuka di Uzbekistan.

Direktur Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari, Ziyodov Shovosil Yunusovich, menyampaikan harapan dan sambutan hangat dalam pertemuan tersebut. Beliau menegaskan komitmen lembaga ini untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya kaya Asia Tengah, serta melestarikan dan menyebarkan warisan keilmuan, keagamaan, dan spiritual dari para ilmuwan besar, termasuk Imam Bukhari dan Imam Tirmizi. Selain itu, Pusat Penelitian ini terus melakukan upaya penelitian dan promosi nilai-nilai keislaman yang luhur di tingkat global.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak menyambut positif kesempatan tersebut dan menyampaikan bahwa ini adalah awal yang baik bagi MUI Sumut untuk mengirimkan kader-kader terbaiknya ke High School for Hadith Sciences yang bernaung di bawah pusat penelitian ini. Kerja sama ini diharapkan akan membuka jalan bagi para peneliti dan pelajar Indonesia untuk mendalami ilmu hadits langsung di pusat yang berdekatan dengan tempat kelahiran Imam Bukhari, salah satu ulama besar Islam.

Beasiswa Internasional Imam Bukhari 2025

Sebagai bagian dari kolaborasi internasional, Pusat Penelitian Ilmiah Internasional Imam Bukhari juga membuka program Beasiswa Internasional Imam Bukhari 2025. Beasiswa ini dirancang untuk para peneliti asing yang tertarik mendalami sejarah dan budaya Asia Tengah, serta mempelajari warisan ilmiah ulama-ulama besar dari wilayah ini. Program ini berbentuk Fellowship Penelitian, yang memberi akses kepada fasilitas penelitian modern serta tempat tinggal yang nyaman bagi para penerima beasiswa.

Program ini diharapkan akan dimulai pada 1 April 2025 dengan durasi minimum dua bulan. Aplikasi dapat diajukan melalui Sekretaris Akademik Pusat Penelitian, dengan batas akhir penerimaan pada 20 Desember 2024. Aplikasi harus mencakup curriculum vitae, pernyataan singkat mengenai penelitian yang diusulkan, serta dua surat rekomendasi yang dikirim langsung ke Pusat.

Dengan adanya inisiatif ini, MUI Sumatera Utara berharap dapat membuka kesempatan lebih luas bagi kader-kader muda dalam memperoleh pendidikan tinggi ilmu hadits yang mendalam, serta meningkatkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Uzbekistan.

MUI Sumut Hadiri Seminar Internasional di Uzbekistan untuk Perkuat Moderasi Islam

Samarkand, Uzbekistan, muisumut.or.id, 4 November 2024 — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berpartisipasi dalam seminar internasional bertajuk “The Efforts of Scholarly Institutions in Promoting Values of Moderation to Reject Extremism and Enhance the Civilizational Dimension of Islam: Experiences of Indonesia and Uzbekistan as a Model.” Acara ini diselenggarakan oleh Imam Bukhari International Scientific Research Center bekerja sama dengan High School for Hadith Sciences dan MUI Sumut.

Acara ini dimulai dengan sambutan dari Dr. Barot Amonov Muradovich, Rektor High School for Hadith Sciences, yang menyampaikan apresiasinya atas kunjungan MUI Sumut dan menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan Islam di Uzbekistan dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi Islam. Dalam sambutannya, Amonov juga memperkenalkan sejarah madrasah-madrasah besar di Uzbekistan, seperti Madrasah Mir Arab, sebagai simbol komitmen negara dalam mendukung pengembangan ilmu keislaman.

Ziyodov Shovosil Yunusovich, Direktur Imam Bukhari International Scientific Research Center, turut menyampaikan sambutan hangatnya. Beliau menyampaikan pentingnya menjaga warisan spiritual Imam Bukhari dan mengajak peserta untuk menonton video dokumentasi tentang kegiatan di pusat ilmiah tersebut. Ia juga berharap dapat melihat mahasiswa Indonesia memperoleh beasiswa di pusat ini, sebagaimana mahasiswa dari berbagai negara lain seperti Malaysia, Rusia, dan Aljazair yang telah hadir sebelumnya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, memperkenalkan rombongannya yang terdiri dari para dosen, guru besar, dan rektor Universitas Al-Washliyah. Beliau menyampaikan rasa bangganya atas hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Uzbekistan serta menekankan pentingnya menjaga akidah umat. Maratua juga mengungkapkan apresiasinya terhadap budaya tarekat Naqsyabandiyah yang terkenal di Sumatera Utara dan Uzbekistan.

Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta berdiskusi mengenai upaya memperkuat moderasi Islam dan menanggulangi ekstremisme di dunia Islam. Pada akhir seminar, kedua delegasi saling menyerahkan cinderamata sebagai simbol persahabatan dan penghargaan atas kerjasama dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang moderat. MUI Sumut berharap partisipasinya dalam seminar ini akan semakin mempererat hubungan Indonesia-Uzbekistan dalam mengedepankan nilai-nilai Islam yang damai dan moderat.

Belajar dari Registan Square, Uzbekistan: MUI Sumut Ajak Indonesia Hadirkan Wisata Sejarah Modern yang Mendidik

0

Samarqand, Uzbekistan, muisumut.or.id –3 November 2024,  Rombongan MUI Sumatera Utara sangat antusias menyaksikan pertunjukan proyeksi 3D spektakuler yang digelar setiap hari setelah magrib di Registan Square, Samarkand. Pertunjukan ini memukau ribuan penonton dengan menampilkan perjalanan sejarah melalui perpaduan musik dan cahaya di tengah situs bersejarah. Proyek ini merupakan program permanen dari pemerintah Uzbekistan untuk meningkatkan daya tarik wisata di Samarkand, kota yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam.

Pertunjukan yang terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya ini berlangsung sekitar 30 sd 45 menit, menyajikan visualisasi sejarah Uzbekistan yang diambil dari berbagai peristiwa penting, menghidupkan kisah-kisah masa lalu yang telah membentuk peradaban Timur. Berbeda dari hiburan serupa di kota-kota lain, pertunjukan musik dan cahaya di Registan Square didasarkan sepenuhnya pada fakta sejarah. Uzbekistan menjadi negara pertama di dunia yang menggelar pertunjukan musik dan cahaya 3D permanen, berfungsi sekaligus sebagai sarana edukasi untuk memperkenalkan warisan budaya dan sejarah kawasan tersebut kepada masyarakat luas.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap pertunjukan tersebut. “Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan,” ujarnya. “Meski tidak memahami bahasa yang digunakan, kami tetap merasakan emosi yang kuat serta efek kehadiran yang luar biasa. Visualisasi sejarah ini dengan sempurna menggambarkan estetika peradaban Islam yang selalu kami cintai.”

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, turut mengungkapkan kekagumannya. “Kami semua terpukau sepanjang pertunjukan berlangsung. Tokoh-tokoh pahlawan sejarah Uzbekistan terlihat seolah hidup, membuat kami merasa seperti melakukan perjalanan ke masa ribuan tahun yang lalu,” katanya dengan antusias.

Dr. Ardiansyah juga mengingatkan bahwa pengalaman ini mengingatkannya pada kunjungan ke Singapura di mana ada pertunjukan cahaya dan air yang menggunakan semprotan laut sebagai layar. “Namun, pertunjukan di Samarkand ini sangat emosional karena diadakan di situs bersejarah dan yang disajikan juga sarat dengan sejarah Islam. Artefak yang ditampilkan dalam proyeksi 3D pun autentik dan asli, yang semakin menambah kesan bersejarah pada pertunjukan ini,” tambahnya.

Keunikan lain dari pertunjukan ini adalah pendekatan yang diambil oleh Uzbekistan. Tidak seperti pertunjukan serupa yang sering kali menyisipkan elemen fiksi, pertunjukan ini sepenuhnya berlandaskan sejarah. Setiap adegan dalam pertunjukan mengangkat peristiwa nyata, memungkinkan penonton untuk mengenal lebih dalam tokoh-tokoh luar biasa dari Timur dan perkembangan budaya yang unik di kawasan ini.

Ketua Umum MUI Sumut berharap bahwa pelajaran dari pertunjukan ini dapat diambil dan diterapkan dalam pengembangan wisata edukatif di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. “MUI bisa menjadi motor penggerak wisata halal yang juga mengandung edukasi sejarah dan budaya. Memang, biayanya mungkin cukup besar karena memerlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti sejarawan, produser, sutradara, dan teknologi pencahayaan. Namun, hasilnya pasti akan lebih besar karena selain menarik pengunjung, ini juga akan mengedukasi masyarakat dan memperkuat citra bangsa kita di mata dunia,” pungkasnya.

Dengan pertunjukan ini, Uzbekistan telah menunjukkan bahwa teknologi modern dapat menjadi medium untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya yang kaya, sekaligus membangkitkan kebanggaan nasional. Inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengemas sejarah dan budaya sebagai daya tarik wisata yang berkesan.

Mengagumi Warisan Islam di Uzbekistan: Rombongan MUI Sumut Jelajahi Registan Square

Samarqand, Uzbekistan, muisumut.or.id, 3 November 2024
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bukhoro ke Samarkand sejauh sekitar 291 kilometer yang memakan waktu sekitar lima jam, rombongan MUI Sumatera Utara akhirnya tiba di kota bersejarah ini menjelang waktu magrib. Dalam perjalanan menuju Samarkand, rombongan juga sempat berziarah ke makam sufi besar, Abd al-Khaliq Gijduvani, sebuah pengalaman yang memberikan kedamaian tersendiri. Sesampainya di Samarkand, sebelum beristirahat di hotel, rombongan mengunjungi Registan Square, ikon kota ini yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang tinggi.

Saat menyaksikan kemegahan Registan, rasa kagum tidak terhindarkan. Skala besar bangunan, harmoni proporsi, serta kemewahan arsitektur kuno yang penuh detail mengundang penghormatan mendalam bagi para arsitek dan seniman yang menciptakan mahakarya ini. Di pusat Samarkand, Registan merupakan alun-alun besar yang dikelilingi oleh tiga madrasah abad pertengahan: Madrasah Ulugbek, Madrasah Sherdor, dan Madrasah Tilla-Kori. Ketiga madrasah ini berdiri kokoh sebagai simbol keagungan peradaban Islam di Asia Tengah dan menjadi contoh sempurna seni perkotaan serta desain arsitektur era tersebut. Pada tahun 2001, UNESCO mengakui ansambel ini sebagai Situs Warisan Dunia, memperkokoh Registan sebagai salah satu destinasi sejarah dunia yang harus dikunjungi.

Saat rombongan tiba, para pengunjung telah ramai berkumpul, menanti pertunjukan teater yang memanfaatkan dinding besar madrasah sebagai layar raksasa, lengkap dengan permainan cahaya yang spektakuler. Seiring langit yang semakin gelap, suasana alun-alun berubah magis dengan proyeksi cahaya yang menampilkan sejarah Samarkand dan ketiga madrasah. Pertunjukan ini tidak hanya indah secara visual tetapi juga penuh makna, menghadirkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang memperkaya pemahaman para penonton akan budaya Timur yang penuh kejayaan.

Sejarah Registan dan Tiga Madrasah Agung

Setiap madrasah di Registan dibangun pada periode yang berbeda, mencerminkan perkembangan seni arsitektur selama berabad-abad. Madrasah Ulugbek adalah yang tertua, dibangun atas perintah Ulugbek, cucu penguasa besar Timur (Tamerlane), yang terkenal sebagai astronom dan ilmuwan. Madrasah ini didirikan antara tahun 1417 hingga 1420 dan menjadi pusat keilmuan terkemuka di Timur abad pertengahan. Dua abad kemudian, di bawah pemerintahan Bahodur Yalangtush, dua madrasah lainnya, Sherdor dan Tilla-Kori, berdiri megah di sisi lain alun-alun. Madrasah Sherdor, yang berarti “pemilik singa”, dibangun pada 1619-1636 dan berdiri simetris dengan Madrasah Ulugbek, sementara Madrasah Tilla-Kori, atau “berlapis emas”, didirikan pada 1647-1660.

Selama berabad-abad, Registan juga berfungsi sebagai pasar sentral kota Samarkand. Di sinilah persimpangan enam jalan utama bertemu, dan istri Tamerlane, Tuman-aka, mendirikan pusat perbelanjaan kubah bernama Chor-su. Pada akhir abad ke-17, ketika ibu kota Khanate dipindahkan ke Bukhara dan Jalur Sutra berhenti melewati Samarkand, alun-alun ini sempat mengalami masa stagnasi. Namun, pada akhir abad ke-18, kehidupan di Registan kembali bergairah, dan kota ini perlahan kembali hidup dengan toko-toko tradisional yang ramai.

Madrasah Ulugbek: Pusat Ilmu Pengetahuan Abad Pertengahan

Madrasah Ulugbek, sebagai madrasah tertua di Registan, menjadi pusat ilmu pengetahuan terkemuka berkat upaya Ulugbek yang juga membangun observatorium besar di Samarkand. Madrasah ini dirancang oleh Kamaleddin Muhandis, murid ahli matematika terkenal Kazi-zade Rumi, dan memiliki halaman luas yang dikelilingi oleh ruangan-ruangan tempat para pelajar menimba ilmu. Dinding madrasah dihiasi pola geometris rumit dan mosaik biru tua yang memesona, menunjukkan keanggunan artistik yang luar biasa.

Madrasah Sherdor: Simbol Keberanian dan Keindahan

Madrasah Sherdor didirikan sebagai refleksi Madrasah Ulugbek dengan ukuran yang lebih besar, dihiasi dengan ornamen megah yang mencerminkan kebesaran penguasa pada masa itu. Meski sederhana di bagian dalam, madrasah ini tetap memikat dengan simbol singa pada fasadnya yang ikonik, sebuah lambang yang jarang ditemukan dalam arsitektur Islam.

Madrasah Tilla-Kori: Permata Emas di Registan

Madrasah Tilla-Kori, yang artinya “berlapis emas”, dibangun sepuluh tahun setelah Madrasah Sherdor dan berfungsi ganda sebagai masjid. Bagian dalamnya dipenuhi dekorasi emas yang mewah, dan kubah masjidnya dihiasi lukisan berlapis emas, menghadirkan pemandangan yang menakjubkan bagi setiap pengunjung.

Malam itu, di bawah langit Samarkand yang gemerlap, rombongan MUI Sumatera Utara disuguhkan pengalaman yang tak terlupakan, menyaksikan sejarah yang hidup dalam perpaduan antara seni, arsitektur, dan cahaya. Sebagai pusat kebudayaan Islam yang pernah berjaya, Registan tidak hanya memamerkan keindahan bangunan tetapi juga menggugah perasaan hormat terhadap sejarah besar Samarkand, menjadikannya sebagai destinasi yang abadi bagi setiap jiwa yang mencintai sejarah dan budaya Islam.

MUI Sumut Berziarah ke Makam Sufi Abd al-Khaliq Gijduvani di Bukhara, Dr. Maratua Simanjuntak Sampaikan Pesan

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,3 November 2024, Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. Maratua Simanjuntak saat berziarah ke makam sufi Abd al Khaliq Gijduvani di Bukhoro, Ahad 3 November 2014, menyampaikan pesan Imam Al-Ghazali mengenai tujuan utama dalam praktik ziarah kubur yang telah lama diamalkan umat Islam. Menurut Al-Ghazali, ziarah kubur memiliki dua manfaat: pertama, peziarah dapat memetik hikmah dari peristiwa kematian orang yang diziarahi; kedua, ahli kubur memperoleh manfaat doa dari peziarah. Dari sini, Al-Ghazali menyarankan agar peziarah mendoakan ahli kubur terlebih dahulu, kemudian merenung dan mendoakan diri sendiri.

Dr. Maratua juga mengutip Sayyid Az-Zabidi, yang menganjurkan agar peziarah mendahulukan doa untuk ahli kubur sebelum berdoa untuk dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dari Abu Darda ra yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Tiada seorang hamba muslim mendoakan saudaranya secara sembunyi (ghaib) melainkan ada malaikat yang mendoakannya, ‘Untukmu semisal itu.’”

Bukhara dan Peninggalan Sufi Terkenal Abd al-Khaliq Gijduvani

Bukhara menyimpan warisan budaya Islam yang berharga, salah satunya adalah makam sufi besar Abd al-Khaliq Gijduvani (wafat 1180/1220). Gijduvani merupakan murid Syekh Yusuf al-Hamadani dan pendiri tarekat “Hajagan” (Jalan Para Guru), yang kemudian melahirkan ajaran Naqsyabandiyah. Pada tahun 1432-1433, Mirzo Ulugbek, penguasa Maverannakhr, membangun madrasah di samping makamnya sebagai bentuk penghormatan.

Di awal abad ke-21, sebuah memorial modern juga didirikan untuk mengenang Gijduvani, menampilkan iwan kayu berukir dengan kubah biru di atas makamnya. Lahir pada tahun 1118 di Gijduvan, Abd al-Khaliq berasal dari keluarga religius dan sejak kecil dikelilingi oleh nilai-nilai Islam. Pada usia sembilan tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan sejak usia muda bersemangat mencari ilmu keagamaan.

Selama berada di Bukhara, ia mendalami pengetahuan di berbagai perpustakaan yang menyimpan manuskrip berharga. Pertemuannya dengan Syekh Yusuf al-Hamadani membawa Gijduvani menjadi murid kesayangan dan kelak menjadi tokoh penting dalam perkembangan tasawuf di Asia Tengah.

Hasful Huznain Dipercaya Kembali Pimpin MUI Sergai untuk Periode 2024-2029

Pantai Cermin, muisumut.or.id – Drs. H. Hasful Huznain, SH, kembali dipercaya  sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) untuk masa khidmat 2024-2029. Pemilihan ini berlangsung secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-V MUI Sergai, yang diadakan pada 2-3 November 2024 di Aula Pantai Wong Rame, Desa Kota Pari, Kecamatan Pantai Cermin.

Pelaksanaan Musda ke-V MUI Sergai ini disusun dan dikawal oleh Organizing Committee (OC) yang dipimpin Kiyai Sunarto sebagai Ketua, H. Zulkarnain Panjaitan sebagai Sekretaris, dan H. Abdul Malik sebagai Bendahara. Adapun Steering Committee (SC) yang dipimpin Dr. Hidayat dan Ahmad Al Hadi bertanggung jawab dalam pengesahan tata tertib serta proses pemilihan formatur.

Dalam Musda tersebut, terpilih 11 orang formatur, termasuk H. Syarif Santoso sebagai Ketua Dewan Pertimbangan, H. Hasful Huznain sebagai Ketua Umum, dan H. Elmis sebagai Sekretaris Umum. Formatur ini terdiri dari perwakilan berbagai organisasi masyarakat, antara lain Muhammadiyah (diwakili Achyar), Al Washliyah (diwakili Dauli Damanik), dan NU (diwakili H. Maralutan Siregar), serta beberapa perwakilan dari MUI Kecamatan, seperti H. Syahrul Nasution, Kisman, Daiman, dan H. Kholid Harahap.

Dalam struktur kepengurusan Dewan Pertimbangan MUI Sergai periode 2024-2029, K.H. Maralutan Siregar didapuk sebagai Ketua, dengan Ardiyansyah sebagai Sekretaris. Sementara itu, Dewan Pimpinan MUI Sergai dipimpin oleh Ketua Umum H. Hasful Huznain, dibantu Wakil Ketua Umum Dauli Damanik, H. Jairan, dan Sunarto. Sekretaris Umum dijabat oleh H. Elmis, dengan H. Kuswan sebagai Bendahara Umum, dan H. Abdul Malik sebagai Bendahara, serta didukung oleh 11 Ketua dan 11 Sekretaris lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum MUI Sergai terpilih, H. Hasful Huznain, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh panitia serta perwakilan MUI Kecamatan se-Sergai atas terselenggaranya Musda dengan baik. “Kepercayaan ini adalah amanah yang harus kami emban. Kami mengharapkan bimbingan dari Dewan Pertimbangan serta kerja sama seluruh pengurus untuk membawa MUI Sergai menjadi lebih baik dalam membina umat,” ungkapnya.

Wakil Ketua Umum MUI Sumut, H. Asro, turut hadir memberikan ucapan selamat kepada pengurus terpilih. Ia menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru ini dapat menghadapi tantangan dengan semangat kerja sama, mempererat silaturahim, dan niat yang tulus untuk memajukan MUI Sergai. “Semoga kepengurusan baru ini membawa MUI Sergai menjadi lebih baik lagi di masa mendatang,” pungkasnya.

“Inspirasi Ibnu Sina: Delegasi MUI Sumut Perkuat Komitmen untuk Menjadi Manfaat bagi Umat”

0

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id3 November 2024 Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut, melakukan kunjungan ke Bukhara. Dalam kunjungan ini, delegasi MUI Sumut tidak hanya menikmati keindahan budaya dan sejarah kota tua Bukhara, tetapi juga mengambil inspirasi dari sosok Ibnu Sina, tokoh besar dari Bukhara yang telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban.

Ibnu Sina, atau yang dikenal di Barat sebagai Avicenna, adalah seorang polymath Muslim yang berjasa di bidang kedokteran, filsafat, astronomi, dan sastra. Dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Dunia,” Ibnu Sina meninggalkan karya monumentalnya, Al-Qānūn fī al-Thibb (Buku Pengobatan), yang menjadi standar pengajaran kedokteran selama berabad-abad. Tokoh besar dari era Keemasan Islam ini adalah simbol dedikasi dalam ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara dalam keterangannya menyampaikan bahwa kunjungan ini bukan sekadar perjalanan budaya, tetapi juga misi untuk menyerap nilai-nilai kearifan dari tokoh besar seperti Ibnu Sina. “Sebagaimana Ibnu Sina, kita di MUI Sumatera Utara bertekad untuk mengabdikan ilmu yang kita miliki demi kemaslahatan umat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan Ibnu Sina adalah salah satu teladan terbaik dalam hal ini,” ujarnya.

Para anggota delegasi MUI Sumut mengunjungi patung perunggu Ibnu Sina di Bukhara, yang berdiri sebagai penghormatan bagi sang tokoh. Melalui patung ini, rombongan mendapat inspirasi dari nilai-nilai yang diajarkan Ibnu Sina, yakni pentingnya ilmu yang bermanfaat dan dedikasi tanpa pamrih. Patung tersebut mengingatkan bahwa Ibnu Sina tak hanya dikenal sebagai dokter terkemuka, tetapi juga sebagai seorang penulis produktif yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.

Ibnu Sina menulis sekitar 450 judul buku, dan 240 di antaranya bertahan hingga kini, termasuk 40 buku di bidang kedokteran. Dalam setiap karya tulisnya, Ibnu Sina berupaya menghadirkan ilmu yang tak hanya bermanfaat bagi kaum Muslim, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Delegasi MUI Sumut berharap untuk meneladani semangat beliau dalam menuliskan ilmu dan menyebarkannya demi kebaikan bersama.

Musda V MUI Kabupaten Serdang Bedagai: Menguatkan Peran Ulama sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah

Serdang Bedagai, muisumut.or.id,  2 November 2024 Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Arso, SH., Ag, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) V Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Serdang Bedagai yang digelar di Woong Rame, Pantai Cermin. Acara ini dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, dan perwakilan dari MUI kecamatan se-Kabupaten Serdang Bedagai.

Dalam sambutannya, Dr. Arso menegaskan pentingnya memilih pemimpin yang memenuhi syarat sesuai dengan pedoman Islam. Ia menyampaikan bahwa hasil rapat koordinasi MUI se-Sumatera Utara sebelumnya telah menekankan hal ini sebagai bagian dari komitmen MUI untuk mendukung pemimpin yang dapat membimbing umat. Hal ini juga selaras dengan hasil ijtimak ulama tahun 2009, yang menegaskan kewajiban umat Islam untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan syariat.

“Musda ini adalah bagian dari pedoman dasar MUI. Musyawarah ini penting untuk memperkuat jajaran MUI di berbagai tingkatan,” ujar Dr. Arso.

Dr. Arso juga menekankan bahwa MUI memiliki peran ganda sebagai pelayan umat dan mitra pemerintah. “Ulama adalah mitra umara (pemerintah). Tugas kita berat karena banyak tantangan, baik dari dalam maupun luar. Kita harus menjaga akidah umat agar tetap kuat, terlebih dalam menghadapi berbagai penistaan agama yang terjadi,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Dr. Arso mengingatkan tiga hal yang diridai Allah SWT, yaitu:

  1. Menghindari Syirik – Di era modern yang semakin canggih, umat Islam tetap harus waspada terhadap segala bentuk kesyirikan.
  2. Bersatu dalam Agama – Meskipun berbeda pilihan politik, terutama menjelang pemilu, umat Islam diharapkan tetap bersatu dan berpegang teguh pada agama.
  3. Memberikan Nasihat yang Baik – Ulama memiliki peran penting sebagai penasihat bagi pemerintah, memberikan tuntunan yang bijak dalam setiap kebijakan.

Dalam kesempatan ini, Dr. Arso juga mengingatkan tentang pentingnya dukungan umat terhadap MUI yang berperan sebagai roda penggerak dalam mengayomi umat. Ia menegaskan bahwa umat Islam perlu mempersiapkan generasi yang kuat, baik dari sisi akidah maupun ekonomi, agar tidak mudah terpengaruh oleh tantangan zaman.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serdang Bedagai, Pj Bupati, perwakilan dari Dandim dan Polres, serta Dewan Pertimbangan MUI Serdang Bedagai, H. Darmawijaya dan Adlin Tambunan. Para peserta yang hadir termasuk ketua-ketua MUI dari setiap kecamatan di Serdang Bedagai.

Dr. Arso, didampingi oleh Dr. Irwansyah, M.H.I, Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara, menyampaikan harapannya agar kepengurusan MUI yang terpilih nantinya dapat semakin memaksimalkan perannya dalam mengayomi umat. “Semoga kepengurusan baru dapat memperkuat MUI dalam menjalankan tugas dan misinya,” ujarnya.

Musda V ini diharapkan menjadi langkah konkret bagi MUI Serdang Bedagai dalam memperkokoh perannya sebagai penjaga akidah umat, pelayan masyarakat, serta mitra pemerintah dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

MUI Sumut Nikmati Budaya Tradisional Uzbekistan dalam Malam yang Berkesan di Kota Tua Bukhara

0

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id., – Jumat, 1 November 2024, Rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menghabiskan malam penuh kenangan di kawasan bersejarah Lyabi Hauz, jantung kota tua Bukhara, Uzbekistan. Dalam kesempatan makan malam ini, mereka tidak hanya menikmati sajian kuliner khas, tetapi juga merasakan keunikan budaya Uzbekistan yang disajikan melalui pertunjukan tari, nyanyian, dan fashion show tradisional di Nodir Devonbegi Madrasah.

Setiap malam, madrasah ini menyelenggarakan acara yang menghidupkan kembali warisan budaya Uzbek, menghadirkan paduan antara seni tari dan busana tradisional yang memikat. Para pengunjung dapat menikmati hidangan lezat sambil menyaksikan pertunjukan yang menggugah kekaguman akan kekayaan budaya lokal. Bagi rombongan MUI Sumut, pengalaman ini memberikan wawasan mendalam tentang seni dan tradisi yang telah terjaga selama berabad-abad di tanah Uzbek.

mahasiswa madrasah memperkenalkan budaya dan tariannya
mahasiswa madrasah memperkenalkan budaya dan tariannya

Suasana di sekitar Lyabi Hauz begitu memikat. Meskpun malam yang terasa dingin taman di kawasan ini dipenuhi pengunjung. Di sekitar kolam yang dikelilingi pohon-pohon tua, para wisatawan dapat menikmati pemandangan yang menyejukkan dan mengunjungi  toko suvenir yang menawarkan berbagai macam barang khas Uzbekistan. Bagi rombongan MUI Sumut, berkeliling di kawasan ini menjadi pengalaman yang berkesan, sekaligus memberikan kesempatan untuk melihat dan berbelanja suvenir khas.

Usai menikmati makan malam,  rombongan menemukan patung ikonik Khoja Nasrudin – seorang tokoh legendaris dalam budaya Uzbekistan yang sering dikaitkan dengan kisah-kisah penuh humor dan satir. Patung perunggu tersebut menampilkan sosok Nasrudin yang sedang menunggang keledai dalam pose jenaka. Patung ini ditempatkan di atas pedestal berbentuk persegi panjang dengan posisi dua kaki keledai yang menyentuh dasar, seakan menggambarkan gerakan dinamis keledai yang tengah berjalan. Sosok Khoja Nasrudin mengingatkan beberapa anggota rombongan akan tokoh Abu Nawas dari kisah “1001 Malam,” yang juga populer di Indonesia dengan cerita-cerita humor yang penuh pesan moral.

berfoto bersama patung Abu Nawas
berfoto di patung Abu Nawas

Malam itu menjadi lebih dari sekadar santapan lezat. Perpaduan antara budaya, sejarah, dan seni tradisional Uzbekistan yang disajikan di Lyabi Hauz berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan MUI Sumut. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga menambah inpirasi untuk membangkitakan wisata halal di Indoensia khususnya Sumatera Utara, dimaa ada tempat orang bisa menikmati makanan sambil menikmati budaya serta berbelanja..

Berbelanja di Trading Domes, Mengingat Kuatnya Ekonomi Islam

Bukhara, Uzbekistan,muisumut.or.id, 2 November 2024 — Dalam rangkaian perjalanan mengunjungi situs-situs bersejarah di kota tua Bukhara, rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) menyempatkan diri untuk merasakan atmosfer perdagangan di bazar kubah atau “trading domes” yang masih aktif hingga kini. Keberadaan kubah-kubah perdagangan ini menjadi pengingat akan kuatnya ekonomi Islam yang dulu mewarnai sejarah Jalur Sutra, sebuah jaringan perdagangan global yang menghubungkan Asia dengan Eropa.

Pada masa kejayaannya di abad pertengahan, Bukhara dikenal sebagai pusat perdagangan internasional yang sangat ramai. Pedagang dari berbagai negara, seperti Asia Tengah, Iran, India, Rusia, hingga Tiongkok, menjadikan kota ini sebagai titik pertemuan dalam kegiatan bisnis mereka. Di sana, berbagai jenis produk dijajakan di sepanjang jalan utama kota, yang dipenuhi oleh area perbelanjaan dan karavanserai yang memfasilitasi para pedagang untuk beristirahat dan bertransaksi.

Bangunan berkubah atau “toki” yang masih berdiri hingga saat ini merupakan inovasi arsitektur pada masanya. Kubah-kubah ini didirikan di alun-alun dan persimpangan kota, menciptakan suasana yang nyaman untuk aktivitas jual beli, bahkan di musim panas. Struktur bangunan yang luas dengan lengkungan dan kanopi melindungi para pedagang dan pengunjung dari teriknya matahari. Sejarah mencatat bahwa konstruksi bangunan ini dimulai pada masa pemerintahan Abdullah-khan II lebih dari 400 tahun yang lalu, dan beberapa di antaranya masih digunakan sebagai pusat perdagangan hingga sekarang.

Adapun tiga kubah perdagangan utama yang bertahan di Bukhara saat ini adalah Toqi Zargaron, Toqi Sarrafon, dan Toqi Tilpak-Furushon. Selain ketiga kubah tersebut, terdapat juga Tim Abdulla Khan, sebuah bangunan berkubah besar yang berfungsi sebagai pusat penjualan sutra.

Toqi Zargaron: Pusat Perhiasan Bersejarah

Toqi Zargaron adalah kubah perdagangan paling utara dan terbesar di antara yang lainnya. Berdiri megah di pusat bersejarah Bukhara, Toqi Zargaron menjadi destinasi favorit rombongan MUI Sumut. Nama “Zargaron” berasal dari kata “Zargar,” yang berarti perhiasan, mengacu pada 36 bengkel dan toko perhiasan yang memenuhi area tersebut. Dibangun pada tahun 1569-1570, Toqi Zargaron menjadi saksi bisu kejayaan ekonomi Bukhara saat itu, yang baru saja dikukuhkan sebagai ibu kota wilayah.

Dengan lokasi strategisnya yang berada di persimpangan antara kompleks Poi Kalon di barat dan madrasah Ulugbeg serta Abdulaziz Khan di timur, Toqi Zargaron terus menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia, termasuk rombongan MUI Sumut yang menikmati pengalaman berbelanja di tempat penuh sejarah ini. Atmosfer yang tercipta membawa kembali ingatan akan pertukaran barang dan budaya di masa lampau, yang menjadi jantung peradaban Islam dan kontribusi penting dalam ekonomi global.

Tim Abdulla Khan: Harmoni Arsitektur dan Kenyamanan

Sekitar 100 meter di selatan Toqi Zargaron, terdapat kubah perdagangan lain, Tim Abdulla Khan, yang dibangun pada tahun 1577. Bangunan ini memiliki ciri khas pencahayaan yang unik, dengan jendela-jendela kecil dan lubang-lubang di kubahnya, menciptakan suasana sejuk yang tetap nyaman meskipun berada di bawah panas matahari. Rombongan MUI Sumut menikmati suasana Tim Abdulla Khan yang hingga kini masih ramai dengan pedagang kain dan karpet, menampilkan kekayaan tekstil dari masa lalu yang tetap relevan di masa kini.

Kunjungan MUI Sumut ke bazar-bazar berkubah ini tidak hanya menjadi momen wisata sejarah, tetapi juga sebagai refleksi atas pentingnya peran Islam dalam perkembangan ekonomi global. Perjalanan ini menyadarkan kembali betapa Islam memberikan kontribusi besar dalam bidang perdagangan, di mana nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan keseimbangan menjadi prinsip utama dalam aktivitas bisnis di sepanjang Jalur Sutra.

Dengan melestarikan dan memahami warisan ini, masyarakat Muslim di era modern diharapkan dapat terus menginspirasi dan memperkuat perekonomian berbasis syariah yang mendukung kesejahteraan umat secara berkelanjutan. Rombongan MUI Sumut membawa pulang bukan hanya oleh-oleh khas Bukhara, tetapi juga semangat ekonomi Islam yang pernah memajukan peradaban di masa silam.