Tuesday, July 21, 2026
spot_img
Home Blog Page 68

MUI Sumut Jajaki Kerjasama Pengiriman Mahasiswa ke Universitas Madrasah Mir Arab Aliy di Bukhoro

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id.,—Setelah mengunjungi madrasah Mir-Arab di kota tua Bukhoro tingkat Mutawasithoh (Menengah) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menghadiri undangan Universitas Madrasah Mir Arab Aliy, pada Sabtu 2 November 2024, di kampus Mir Arab Aliy yang dihadiri oleh 23 delegasi yang langsung dipimpin Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak.  Dalam pertemuan dilakukan  langkah penting dalam upaya pengembangan Pendidikan Tinggi Kader Ulama dengan menjajaki kerjasama pengiriman mahasiswa ke Universitas Mir Arab Aliy di Bukhoro.

Dalam kunjungan ini, delegasi MUI Sumut disambut oleh Rektor Mir Arab, Prof. Dr. Jobir bin Rustam, yang juga Mufti Bukhoro, beserta jajaran pimpinan kampus lainnya. Prof. Jobir menyampaikan rasa gembiranya atas kehadiran delegasi dari Sumatera Utara dan berharap silaturrahmi ini dapat mempererat hubungan antar lembaga. “Kami sangat senang bisa bersilaturrahim dengan delegasi dari Sumatera Utara. Dalam waktu dekat, kami juga akan menerima kunjungan dari ulama Perlis, Malaysia,” ungkap Prof. Jobir.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Jobir juga menceritakan sejarah dan perjalanan pendidikan ulama di Bukhoro, yang meski sempat terpuruk selama 100 tahun masa penjajahan, kini telah bangkit kembali dan menghasilkan banyak ulama terkemuka. Ia menyebutkan sejumlah tokoh ulama lulusan Bukhoro seperti Syekh Ahmad Abdulhamidovich Qodiro (1951-2004) dan Syekh Muhammad Sodiq Muhammad Yusuf, yang pernah menjabat sebagai Mufti Yillari pada 1989-1993.

“Di sini, proses uji kelayakan mahasiswa melibatkan hingga 15 penguji, sehingga kami menghasilkan ulama-ulama hebat,” ujar Prof. Jobir. Saat ini, Universitas Mir Arab Aliy memiliki sekitar 100 mahasiswa putra dan putri yang asramanya terpisah dan pembiayaannya sepenuhnya didukung oleh pemerintah. Ia juga mengungkapkan bahwa pada 2017, Ramzan Kadyrov, Presiden Republik Chechnya, adalah salah satu alumnus dari madrasah ini.

Dr. H. Maratua Simanjuntak, MA, dalam sambutannya, menyampaikan rasa terima kasih dan mengapresiasi sistem pendidikan yang diterapkan di Universitas Mir Arab Aliy. Ia menjelaskan bahwa MUI Sumut memiliki program serupa melalui Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) yang juga memberlakukan sistem beasiswa dan asrama selama tiga tahun.

“Kami berharap ada kesempatan bagi mahasiswa kami untuk belajar di sini, mungkin satu atau dua orang untuk tahap awal,” ujar Dr. Maratua. Prof. Jobir menyambut baik harapan ini dan menyatakan kesiapan mereka untuk menindaklanjuti kerjasama tersebut. “InsyaAllah, kami sangat terbuka untuk merealisasikannya,” balas Prof. Jobir.

Pertemuan ini juga diwarnai dengan perbincangan hangat antara Prof. Jobir dan Dr. Ardiansyah, LC, MA, Wakil Ketua Umum MUI Sumut, yang sama-sama pernah belajar di Universitas Madinah, Arab Saudi. Keduanya berbagi pengalaman yang semakin mempererat suasana keakraban dalam pertemuan tersebut.

Sebagai tanda persahabatan dan komitmen awal kerjasama, kedua belah pihak melakukan tukar-menukar cendera mata sebelum mengakhiri pertemuan. Langkah ini menjadi harapan baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan kader ulama di Sumatera Utara melalui kerjasama internasional yang mendalam dan berkelanjutan.

Kunjungan MUI Sumut ke Madrasah Mir-i Arab: Menggali Jejak Pendidikan Islam di Bukhara

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id., 2 November 2024, MUI Sumatera Utara melakukan kunjungan ke Madrasah Mir-i Arab yang terletak di jantung kota Bukhara, Uzbekistan. Madrasah ini menjadi pusat pendidikan Islam bersejarah dan merupakan salah satu dari tiga bangunan utama yang membentuk kompleks Po-i-Kalyan, bersama dengan Menara Kalyan dari abad ke-12 dan Masjid Kalyan dari abad ke-16. Madrasah ini dibangun oleh penguasa Shaibanid, Ubaydullah Khan, pada tahun 1535-1536 dan menjadi simbol kebanggaan sejarah Islam di kawasan Asia Tengah.

Madrasah Mir-i Arab, yang dalam bahasa Arab berarti “Pangeran Arab,” dinamai sesuai dengan nama Syekh Abdullah Yamani, seorang ulama terkenal dari Yaman yang memimpin komunitas Muslim Bukhara pada masa Muhammad Shaybani. Syekh Yamani, yang berperan sebagai penasihat spiritual bagi beberapa Khan, dimakamkan di dalam madrasah yang kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di kawasan tersebut.

Kunjungan ini juga memberi kesempatan bagi tim untuk menelusuri kegiatan belajar di dalam madrasah yang saat ini dihuni oleh sekitar 180 siswa. Para siswa diberikan fasilitas lengkap termasuk asrama, makan, dan keperluan belajar, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada pendidikan agama. Selain itu, madrasah ini memiliki sekitar 10 guru yang membimbing para siswa dalam memahami dan mendalami ajaran Islam.

Namun, akses bagi pengunjung ke dalam madrasah ini cukup terbatas. Meski demikian, para pengunjung masih diperbolehkan berinteraksi dan bertanya langsung kepada para guru yang dengan senang hati menjelaskan sejarah dan peran penting madrasah dalam pengembangan ilmu agama di Bukhara. Di pintu masuk, pengunjung akan menemukan maqbarah atau makam pendiri madrasah, yaitu Syekh Abdullah Yamani, yang merupakan sosok inspiratif dalam pengembangan Islam di Asia Tengah.

Madrasah Mir-i Arab tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan tetapi juga memiliki nilai arsitektur yang khas. Dengan desain bangunan persegi panjang yang megah, madrasah ini dihiasi dengan ubin mosaik berwarna pirus yang menawan. Fasad dua lantainya hampir sepenuhnya ditutupi dekorasi faience berlapis kaca, yang memberikan keindahan sekaligus keunikan tersendiri pada bangunan ini.

Kunjungan ini diharapkan memberikan inspirasi bagi MUI Sumut dalam upaya memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang warisan pendidikan Islam, serta bagaimana madrasah tradisional dapat berperan dalam membentuk karakter generasi muda muslim.

MUI Sumut di Kota Tua Bukhara: Menggali Makna Spiritualitas di Masjid Kalyan

Bukhara, Uzbekistan , muisumut.or.id, 2 November  2024, Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melakukan ziarah spiritual di Kota Tua Bukhara, Uzbekistan, dan mengunjungi Masjid Kalyan yang bersejarah. Masjid ini merupakan salah satu simbol arsitektur Islam di Asia Tengah, yang masih berdiri kokoh dan penuh makna sejak pembangunannya.

Dalam bahasa Uzbekistan, kompleks masjid ini disebut Po-i-Kalan, yang berarti “Kaki Besar”. Masjid Kalyan pertama kali didirikan pada tahun 713 Masehi dan kemudian diperluas oleh penguasa Dinasti Karakhanid, Arslan Khan, pada tahun 1121. Terletak di pusat kota Bukhara, masjid ini dikelilingi bangunan bersejarah lainnya yang menyimpan nilai keagamaan dan kebudayaan.

Sayangnya, pada awal abad ke-13, pasukan Genghis Khan menyerbu Bukhara dan merusak kompleks masjid. Hanya Menara Kalyan yang berhasil selamat dari serangan tersebut. Pada masa kekuasaan Ubaydullah Khan pada tahun 1514, kompleks ini kembali diperbaiki dan disempurnakan. Dengan empat iwan besar, kubah yang indah, serta pilar-pilar yang kokoh, Masjid Kalyan menjadi salah satu masjid terbesar di wilayah ini, memancarkan kemegahan seni arsitektur Persia yang diabadikan dalam 288 kubahnya.

Pesona Menara dan Madrasah Mir-i Arab

Kompleks ini juga mencakup Menara Kalyan dan Madrasah Mir-i Arab, yang menjulang megah di sudut kompleks. Menara Kalyan, setinggi 46 meter, dikenal sebagai “menara kematian” karena pada masa lalu digunakan sebagai tempat eksekusi bagi para pelanggar hukum. Namun, fungsi utamanya adalah untuk mengumandangkan azan. Menara ini dihiasi dengan ornamen geometris dan kaligrafi ayat-ayat Al-Quran yang menambah keindahannya.

Madrasah Mir-i Arab, yang didirikan pada 1536 oleh Syekh Abdullah Yamani, juga terletak dalam kompleks ini. Madrasah ini merupakan salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Bukhara dan bersebelahan dengan makam Ubaydullah Khan, sang pendiri. Pada tahun 1997, Masjid Kalyan dan seluruh kompleksnya direnovasi dan dijadikan situs warisan dunia oleh UNESCO.

Ziarah MUI Sumut: Mengenang Warisan Islam di Bukhara

Ziarah ini diharapkan memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para delegasi, mengingatkan mereka akan kebesaran peradaban Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad di Asia Tengah. Bukhara, dengan situs-situs seperti Masjid Kalyan, mengisyaratkan kejayaan dan keberlanjutan kebudayaan Islam yang tetap relevan dan terpelihara hingga kini.

“Ziarah Spiritual MUI Sumut di Makam Syekh Bahauddin Naqsyabandi: MUI Sumut dapat bingkisan Khusus”

Bukhoro, Uzbekistan, muisumut.or.id,  1 November 2024, Rombongan Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara (MUI Sumut) setelah mengadakan ziarah ke makam Sayyid Amir Kulol, guru dari Syekh Bahauddin Naqsyabandi. langung mengunjungi untuk berziarah ke Syeh Bahauddin Naqsyabandi. Ziarah ini bukan hanya menjadi momen untuk berdoa, tetapi juga kesempatan untuk merasakan suasana spiritual yang mendalam di kompleks makam yang lebih besar lagi di wilayah tersebut.Suasana dimakam ini begitu mengundang spritualitas keimanan, banyak makam lain yang terpisah namun masih satu komplek pemakaman.

Suasana di tempat wudhu kompleks makam sangat bersih dan tertata dengan baik. Tidak terlihat sampah ataupun kotoran, yang didukung oleh perencanaan pembangunan yang sangat baik. Meski tidak ada peraturan larangan alas kaki, orang yang memasuki area wudhu tetap memakai alas kaki. Setiap keluar, lantai langsung dipel menggunakan handuk khusus, menjaga kebersihan tanpa cela.

Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua MUI Sumatera Utara juga menerima bingkisan sajadah dan Al-Qur’an dari penjaga makam. Penjaga tersebut kemudian membuka sebuah ruangan yang dikenal sebagai “cilahona,” tempat Syekh Bahauddin dahulu sering melakukan zikir hingga 41 malam. Para rombongan MUI pun berkesempatan berdoa dan berzikir di tempat tersebut, merasakan atmosfer spiritual yang mendalam sehingga beberapa anggota rombongan tampak enggan meninggalkan lokasi tersebut.

Ziarah ini juga disempurnakan dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum MUI Sumut di depan makam Imam Bahauddin. Makam beliau berada di halaman dalam masjid, dikelilingi pagar beton dan dihiasi bunga yang tertata rapi. Makam ini tidak menimbulkan kesan angker atau kotor, tetapi penuh ketenangan dan keindahan. Selain itu, terdapat dua pohon rindang yang menaungi area makam, menyediakan tempat duduk melingkar yang menambah kenyamanan bagi peziarah.

Di bagian belakang masjid, berdiri sebuah menara tinggi yang dibangun dari batu bata tanpa penguat baja, mengikuti arsitektur khas bangunan-bangunan bersejarah di Uzbekistan seperti di Bukhara, tempat kelahiran Imam Bukhari. Menara ini mengingatkan para pengunjung akan keindahan arsitektur Islam kuno dan nilai sejarah tarekat Naqsyabandiyah yang terus berkembang hingga saat ini.

Ziarah ke makam Imam Bahauddin al-Naqsyabandi ini tidak hanya memberikan pengalaman spiritual, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antara MUI Sumut dengan komunitas Tarekat Naqsyabandi, sekaligus menjadi kesempatan untuk merenungi ajaran-ajaran luhur para pendahulu dalam menapaki kehidupan yang lebih baik dan penuh makna.

Sepanjang jalan menuju masjid, terdapat taman yang ditumbuhi pohon dan bunga, menciptakan suasana harum dan nyaman menjelang waktu Maghrib. Di taman kecil tersebut, terdapat papan-papan berisi petuah dari Imam Bahauddin al-Naqsyabandi dalam bahasa Rusia dan Inggris, yang mengingatkan pengunjung tentang ajaran-ajaran beliau sebagai pedoman hidup.

Menghormati Warisan Sufi, Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Sayyid Amir Kulol di Uzbekistan

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id., — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berziarah ke makam Sayyid Mir (Amir) Kulol Buxoriy pada Jumat, 1 November 2024. Ziarah ini merupakan bagian dari kunjungan spiritual untuk menghormati salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam yang juga menjadi guru spiritual Muhammad Bahouddin Naqshband, pendiri Tarekat Naqsyabandiyah.

Rombongan MUI Sumatera Utara yang dipimpin oleh Ketua Umum Dr. Maratua Simanjuntak dan Dewan Pimpinan lainnya, tiba di kompleks makam melalui gerbang megah yang menyambut dengan arsitektur yang penuh nuansa keagungan. Setelah memasuki gerbang, para delegasi disuguhi pemandangan masjid yang indah dengan arsitektur megah serta taman-taman yang asri, memberikan suasana khusyuk dan damai bagi para peziarah.

Di area makam, rombongan menyempatkan diri untuk berdoa bersama, dipimpin oleh Prof. Dr. Muhammad Jamil, MA. Doa dan lantunan zikir dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada Sayyid Amir Kulol yang dikenal sebagai ulama mazhab Hanafi, mursyid, dan salah satu tokoh sufi terkemuka dari akhir abad ke-13.

Mengenal Sayyid Amir Kulol Buxoriy

Sayyid Amir Kulol lahir di Desa Suxor, dekat Bukhara, yang kini masuk dalam wilayah Distrik Kogon. Beliau wafat pada 29 November 1370. Amir Kulol merupakan guru spiritual dari Tarekat Naqsyabandiyah, khususnya bagi Muhammad Bahouddin Naqshband, yang kelak mendirikan tarekat tersebut. Julukan “Kulol” diberikan kepadanya yang berarti “pengrajin tembikar,” karena keluarga beliau dikenal sebagai pengrajin tembikar yang handal.

Sejak usia muda, Amir Kulol dikenal sebagai sosok dengan fisik kuat dan gemar berlatih seni bela diri. Dalam masyarakat sufi, banyak tokoh yang memilih profesi populer untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Amir Kulol juga menerapkan pendekatan ini untuk membawa masyarakat menuju ajaran Islam.

Ayahnya, Amir Hamza, adalah keturunan dari Madinah, Hijaz, dan sempat bersahabat dengan syekh Yassawiyah, Sayyid Ata. Dalam suatu kesempatan, Sayyid Ata meramalkan bahwa Amir Kulol kelak akan mencapai derajat tinggi dalam jalan spiritual. Ramalan ini terbukti saat Amir Kulol berhasil menjadi sosok sufi berpengaruh dan membawa banyak pengikut menuju kebajikan dan pemahaman mendalam akan ajaran Islam.

Kehidupan dan Warisan Spiritual

Amir Kulol dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan penuh kasih, meskipun memiliki keterampilan dan pengetahuan yang mendalam dalam bidang syariat, tasawuf, dan hakikat. Ia mengajarkan pentingnya mencari rezeki yang halal kepada para muridnya, serta menekankan pemahaman mendalam tentang halal dan haram.

Salah satu momen penting dalam kehidupan spiritual Amir Kulol adalah pertemuannya dengan gurunya, Khoja Muhammad Bobo Samosiy, di sebuah arena gulat. Samosiy melihat dalam diri Amir Kulol potensi besar dalam spiritualitas dan mengambilnya sebagai murid. Pertemuan ini menandai awal perjalanan panjang Amir Kulol dalam dunia tasawuf, yang membuatnya menjadi salah satu dari tujuh tokoh sufi terkemuka di Bukhara.

Keturunan Sayyid Amir Kulol juga dikenal memiliki pengaruh besar. Salah satu kerabatnya bahkan menjadi menantu Sultan Yildirim Bayazid dari Kekaisaran Ottoman, dan dikenal sebagai Amir Sultan yang dicintai masyarakat Bursa, Turki.

Ziarah ini menjadi kesempatan berharga bagi delegasi MUI Sumatera Utara untuk meresapi warisan spiritual Amir Kulol serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanah untuk terus menebarkan kebaikan dan ajaran Islam di tengah masyarakat. Warisan Amir Kulol sebagai ulama dan tokoh sufi yang rendah hati dan berpengaruh tetap relevan, menjadi inspirasi bagi umat Islam hingga saat ini.

Menyusuri Jejak Peradaban Islam, Delegasi MUI Sumut Sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz

0

Bukhoro, muisumut.or.id – 1 November 2024. Dalam rangkaian kunjungannya di Uzbekistan, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berkesempatan melaksanakan sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz, sebuah masjid bersejarah di Bukhara. Rombongan MUI Sumut, yang dipimpin oleh Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak merasa terhormat dapat beribadah di masjid yang sarat nilai sejarah dan budaya ini.

Masjid Bolo Hauz dikenal dengan sebutan “Masjid Empat Puluh Pilar” karena arsitekturnya yang menggunakan banyak pilar di terasnya. Nama Bolo Hauz sendiri berarti “Masjid Berkolam,” yang merujuk pada kolam berbentuk oktagonal di halaman depan masjid. Masjid ini didirikan pada tahun 1712 oleh Abu’l Fayud Khan dari Dinasti Astarkhanid sebagai penghormatan untuk Bibi Khanum, ibu dari dinasti tersebut.

Keunikan lain dari masjid ini adalah berbagai elemen arsitektural dan dekorasi yang dipengaruhi oleh budaya dan tradisi Islam Asia Tengah. Masjid ini merupakan satu-satunya bangunan bersejarah yang tetap terawat di kawasan alun-alun Registan Bukhara, yang serupa dengan Registan di Samarkand, tempat yang juga terkenal dengan situs-situs Islam bersejarah.

Saat rombongan tiba di masjid dengan berjalan kaki sejauh 500 meter dari Museum Imam Al-Bukhari, mereka disambut oleh suasana khas masjid bermazhab Hanafi. Dalam mazhab ini, terdapat beberapa perbedaan teknis dalam pelaksanaan ibadah. Salah satu perbedaannya adalah pelaksanaan tausiyah yang berlangsung sekitar 40 menit sebelum azan kedua. Setelah azan pertama, jamaah menunaikan sholat sunnah empat rakaat, diikuti oleh azan kedua, khutbah, dan sholat Jumat. Dalam sholat mazhab Hanafi, makmum tidak mengucapkan “Amiin” setelah imam membaca surat Al-Fatihah.

Seusai sholat, K. Akhyar Nasution dan Dr. Akmaluddin Syahputra berkesempatan bercengkrama dengan khatib masjid, memperkenalkan delegasi dari Indonesia, dan membahas sejarah serta keunikan Masjid Bolo Hauz. Kesempatan tersebut menjadi momen berharga bagi delegasi MUI Sumut untuk memahami perbedaan budaya dan tradisi keislaman yang berkembang di kawasan Asia Tengah.

Masjid Bolo Hauz telah melalui banyak perubahan dan restorasi sejak pembangunannya. Selama invasi Tentara Merah Soviet pada awal abad ke-20, banyak situs sejarah Islam di Bukhara yang mengalami kerusakan parah, termasuk Masjid Bolo Hauz. Pemerintah Uni Soviet kemudian melakukan program restorasi pada tahun 1960 untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Upaya restorasi lebih lanjut dilakukan secara serius oleh Pemerintah Uzbekistan, yang mengembalikan kemegahan masjid sebagai karya seni dekoratif nasional Uzbek.

Keindahan arsitektur Masjid Bolo Hauz semakin memperkaya pengalaman delegasi MUI Sumut dalam menapaki jejak-jejak sejarah Islam di Uzbekistan. Keunikan desain bangunan yang dilengkapi dengan pilar-pilar megah, ceruk-ceruk kubah, serta motif geometris dan stalaktit di langit-langit masjid menjadikan tempat ini bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

Bagi delegasi MUI Sumut, kunjungan dan sholat Jumat di Masjid Bolo Hauz menjadi pengalaman yang mengesankan, menguatkan ikatan spiritual, dan memperdalam apresiasi terhadap kekayaan sejarah serta keberagaman Islam di belahan dunia lain.

Jejak Keilmuan Imam Al Bukhari: Kunjungan Spiritualitas MUI Sumut di Bukhara

Bukhara, muisumut.or.id – 1 November 2024, delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara melanjutkan perjalanan mereka di Uzbekistan dengan mengunjungi Kompleks Memorial Imam Al Bukhari di Bukhara. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk lebih memahami peran penting Imam Al Bukhari dalam pengembangan ilmu hadis serta kontribusinya dalam menguatkan ajaran Islam.

Kompleks Memorial Imam Al Bukhari, yang didirikan pada tahun 2001, menjadi salah satu situs utama yang mengabadikan jejak sang ulama besar, Imam Muhammad ibn Ismail al-Bukhari. Museum ini dibangun dalam desain modern yang dirancang oleh Zoirsho Kilichev, arsitek utama kota Bukhara. Bangunan megah ini tidak hanya memikat dari segi arsitektur, tetapi juga menyimpan sejarah dan nilai spiritual yang mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia. Tempat ini sangat direkomdasikan untuk dikunjungi, pengunjung hanya diminta untuk membayar 20.000 som yang jika dirupiahkan hanya 25.000 rupiah (1 som = 1,24 rupiah)

Warisan Ilmu dan Dedikasi Imam Al Bukhari

Imam Al Bukhari dikenal luas sebagai salah satu ulama terbesar dalam kajian hadis. Karya monumentalnya, Al-Jame as-Sahih, merupakan kitab yang memuat koleksi hadis-hadis sahih yang telah melalui seleksi ketat berdasarkan ketelitian dan penelitian mendalam. Dalam menyusun kitab ini, Imam Al Bukhari mempelajari lebih dari 600.000 hadis, dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 7.000 hadis yang diseleksi dan dimasukkan ke dalam bukunya. Oleh karena kontribusi besarnya, beliau mendapat gelar Amirul Mu’minin fil Hadith, yang bermakna “Pemimpin dalam Ilmu Hadis.”

Kunjungan ke museum ini memungkinkan delegasi MUI Sumut untuk melihat lebih dekat artefak-artefak bersejarah dan koleksi yang menggambarkan kehidupan serta perjalanan keilmuan Imam Al Bukhari. Salah satu daya tarik museum ini adalah pasir atau batu yang diambil dari makam asli Imam Al Bukhari di Samarkand, yang memberikan nuansa spiritual tersendiri bagi para pengunjung.

 

Penghormatan terhadap Jejak Keilmuan dan Spiritualitas Islam

Museum Imam Al Bukhari bukan sekadar bangunan megah, tetapi juga merupakan penghormatan terhadap salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam. Dengan arsitektur yang terinspirasi oleh seni Islam Asia Tengah, museum ini dihiasi dengan motif-motif indah yang mencerminkan kejayaan zaman keemasan Islam. Setiap sudut museum memancarkan suasana yang tenang dan mendalam, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk merenungkan perjalanan hidup Imam Al Bukhari dan sumbangsihnya bagi ajaran Islam.

Dalam kunjungannya,  Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, LC, MA, yang juga merupakan pakar hadis  membacakan buku buku hadis yang terpajang dan menerangkan terkait keulamaan Imam Bukhori serta berdoa bersama sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap ilmu yang diwariskan oleh Imam Al Bukhari. Dr. Ardiansyah menekankan bahwa kunjungan ini merupakan kesempatan untuk memperkuat kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam mempelajari hadis sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Quran.

Museum: Sebuah Pusat Pembelajaran dan Inspirasi

Kompleks Memorial Imam Al Bukhari tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi salah satu cendekiawan Islam terbesar, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan inspirasi bagi generasi muda Muslim. Bagi delegasi MUI Sumut, museum ini memberikan perspektif baru tentang pentingnya dedikasi dalam ilmu pengetahuan dan tanggung jawab dalam menjaga keotentikan ajaran Islam. Museum ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa saja yang ingin lebih memahami warisan keilmuan Islam dan inspirasi yang dihadirkan oleh tokoh besar seperti Imam Al Bukhari.

Dalam kesimpulannya, kunjungan delegasi MUI Sumut ke Kompleks Memorial Imam Al Bukhari menjadi momen berharga untuk mendalami nilai-nilai keteladanan yang diajarkan oleh ulama terdahulu. Delegasi berharap agar pengalaman ini dapat menginspirasi umat Islam, khususnya di Sumatera Utara, untuk terus mencintai ilmu dan menjaga ajaran Islam yang penuh hikmah. Kunjungan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menghormati dan merawat warisan budaya serta spiritual Islam yang abadi.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Chashma Ayub Mausoleum di Bukhara

0

Bukhara, muisumut.or.id, 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan perjalanan ziarah spiritual mereka ke Chashma Ayub Mausoleum di kota bersejarah Bukhara, Uzbekistan, setelah sebelumnya mengunjungi Makam Samanid. Delegasi ini dipimpin langsung oleh  Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak yang bersama-sama delegasi  lainnya mengunjungi salah satu situs paling sakral dalam tradisi Islam, yang diyakini sebagai tempat Sumur Nabi Ayub.

Sumur ini diyakini sebagai titik di mana Nabi Ayub AS, setelah menghadapi berbagai cobaan hidup, dengan izin Allah SWT, menghentakkan kaki atau tongkatnya ke tanah, dan dari sana memancar mata air yang membawa kesembuhan. Kisah ini menggambarkan ketabahan dan kesabaran Nabi Ayub yang menghadapi ujian berat, dan tetap berserah diri kepada Allah SWT. Ziarah ini tidak hanya sekadar perjalanan fisik, namun juga kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk memperkuat keimanan dan menggali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan oleh para nabi dan ulama terdahulu.

Bukhara: Kota Bersejarah dan Pusat Spiritualitas Islam

Bukhara adalah salah satu kota tertua di dunia, yang selama berabad-abad telah menjadi pusat politik, administrasi, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama di Asia Tengah. Kota ini dipenuhi dengan monumen bersejarah yang masih berdiri megah hingga saat ini, menarik ribuan wisatawan dan peziarah dari seluruh penjuru dunia. Salah satu tempat ziarah utama di Bukhara adalah Chashma Ayub Mausoleum, yang menjadi daya tarik khusus bagi delegasi MUI Sumut.

Di dalam bangunan Chashma Ayub, terdapat sebuah sumur yang telah ada sejak zaman kuno dan hingga kini diyakini oleh banyak orang sebagai Sumur Nabi Ayub. Mata air ini dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan, mencerminkan keajaiban dari kisah Nabi Ayub AS. Dalam bangunan tersebut, terdapat tiga keran air yang dapat diambil oleh para pengunjung, di mana air tersebut sering dijadikan sebagai simbol berkah dan diyakini memiliki manfaat untuk kesehatan.

Melihat Sejarah Arsitektur Chashma Ayub Mausoleum

Chashma Ayub Mausoleum bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan arsitektur di Asia Tengah. Makam ini dibangun dalam tiga era yang berbeda. Bagian pertama dari bangunan ini, dikenal sebagai “gurkhana,” dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Arslankhan dari Dinasti Karakhanid. Pada masa itu, Arslankhan memerintahkan pembangunan struktur yang megah di atas makam yang sebelumnya sederhana.

Bagian kedua dari makam ini dibangun pada masa Sultan Movarounnahr dan Khurasan Amir Temur. Pada era Amir Temur, bangunan ini diperindah dan diperkokoh dengan ciri khas arsitektur Islam Asia Tengah. Sementara itu, bagian ketiga dari makam ini disempurnakan pada abad ke-16 selama pemerintahan Dinasti Sheibanid. Chashma Ayub Mausoleum saat ini berdiri sebagai saksi arsitektur megah yang menunjukkan kemajuan peradaban dan seni Islam di wilayah ini.

Mengenal Sejarah Laut Aral dan Sistem Pengairan Kuno di Bukhara

Selama kunjungan, delegasi MUI Sumut juga mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sejarah sistem pengairan kuno yang menjadi bagian dari pengelolaan air di daerah ini. Bukhara, yang terletak di wilayah gurun, memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan sumber daya air yang terbatas. Di dalam Chashma Ayub Mausoleum, terdapat museum yang menjelaskan tentang pengelolaan air di wilayah tersebut dan sejarah Laut Aral. Laut Aral dahulu adalah salah satu danau terbesar di dunia, namun sejak tahun 1960-an, danau ini mengalami penyusutan drastis akibat proyek irigasi besar-besaran oleh Uni Soviet.

Proyek ini telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, terutama bagi komunitas lokal yang hidup di sekitar Laut Aral. Saat ini, upaya pemulihan hanya terfokus pada bagian utara danau tersebut, sementara bagian selatan masih menghadapi ancaman kerusakan. Melalui museum ini, delegasi MUI Sumut belajar bagaimana Bukhara, dengan keterbatasan sumber daya alam, berhasil mengelola air secara efisien dan menjaga keberlanjutan ekosistemnya.

Doa Bersama di Makam Guru Imam Bukhari

Selain berziarah ke Chashma Ayub Mausoleum, delegasi MUI Sumut juga menyempatkan diri untuk berdoa di makam salah satu ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu guru dari Imam Bukhari. Imam Bukhari adalah tokoh penting dalam penyusunan kitab hadits yang menjadi rujukan utama dalam ajaran Islam. Berdoa di makam ini menjadi momen yang penuh khidmat bagi delegasi, yang merasakan kehadiran spiritual dari sosok yang telah berkontribusi besar terhadap penyebaran dan pemahaman hadits di dunia Islam.

Di sela-sela kunjungan, Wakil Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Ardiansyah, LC, MA, memimpin doa bersama di depan makam guru Imam Bukhari. Doa ini diharapkan menjadi simbol keteguhan hati umat Islam, mengingatkan pada ketabahan Nabi Ayub yang selalu berserah diri kepada Allah SWT. Dr. Ardiansyah juga menyampaikan bahwa keteladanan para nabi dan ulama, seperti Nabi Ayub dan Imam Bukhari, menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa menguatkan iman dan menjaga kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup.

Warisan Nilai Spiritual dan Kebudayaan Islam

Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi delegasi MUI Sumut untuk mendalami warisan nilai spiritual dan kebudayaan Islam yang kaya akan pelajaran hidup dan hikmah. Melalui kisah-kisah para nabi dan ulama terdahulu, umat Islam diharapkan dapat mengambil teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Seperti halnya Nabi Ayub yang menunjukkan kesabaran luar biasa, umat Islam juga diajak untuk selalu bersyukur dan ikhlas dalam menghadapi segala bentuk ujian.

Kunjungan ke Chashma Ayub Mausoleum ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian ziarah spiritual delegasi MUI Sumut di Uzbekistan. Dengan pengalaman ini, delegasi MUI Sumut berkomitmen untuk terus menjaga dan menghormati warisan budaya serta spiritual Islam. Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap kisah-kisah ini, umat Islam diharapkan semakin kuat dalam memelihara keimanan dan memperkokoh identitasnya sebagai bagian dari komunitas global yang menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para nabi dan ulama.

Delegasi MUI Sumut Ziarah ke Makam Samanid di Bukhara, Uzbekistan

0

Bukhara, muisumut.or.id., 1 November 2024 — Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara berkesempatan melaksanakan ziarah ke Makam Samanid di Bukhara, Uzbekistan. Monumen bersejarah ini berasal dari masa kejayaan Dinasti Samanid, dan ziarah ini menjadi bagian dari kunjungan budaya dan sejarah untuk mengeksplorasi warisan Islam yang mempengaruhi Asia Tengah, khususnya di kota Bukhara yang dikenal sebagai “Kota Para Wali.”

Sebagai pusat peradaban Islam di masa Dinasti Samanid, Bukhara menyimpan banyak peninggalan berharga. Kota ini menawarkan suasana yang lebih sederhana dibandingkan Samarkand atau Tashkent, dengan kolam-kolam kuno yang dahulu dibangun untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat yang hidup di tengah padang pasir.

Kekaguman pada Makam Samanid, Ikon Arsitektur Islam Kuno

Di pusat ziarah ini, delegasi MUI Sumut mengunjungi Makam Samanid yang terletak di bagian barat laut Bukhara. Makam yang dibangun pada abad ke-10 ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi keluarga Dinasti Samanid, termasuk tokoh penting Nasr II. Makam ini merupakan contoh ikonik arsitektur Islam awal dan menjadi bangunan pemakaman tertua dalam sejarah arsitektur Asia Tengah.

Struktur makam yang terbuat dari bata bakar memiliki kubah besar di tengah serta empat kubah kecil di setiap sudutnya. Keunikan makam ini terletak pada dindingnya yang setebal 1,8 meter serta desain simetris yang menciptakan tampilan identik di setiap sisinya, sebuah pendekatan yang disebut komposisi sentrik dalam seni arsitektur Asia Tengah. Selain itu, teknik susunan bata yang digunakan menghasilkan pola geometris yang berubah sesuai arah cahaya matahari, menciptakan efek artistik berbeda sepanjang hari dan lebih memukau di bawah sinar bulan.

Warisan Abadi di Kota Para Wali

Bukhara juga dikenal sebagai kota suci, tempat terdapatnya tujuh makam sufi besar yang menjadikannya pusat spiritualitas bagi umat Islam. Keberadaan Makam Samanid tetap lestari, bahkan saat invasi Genghis Khan, karena area makam ini tersamarkan oleh pemakaman lain di sekitarnya. Pada tahun 1993, Makam Samanid diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menegaskan nilainya sebagai warisan budaya dan spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam kesempatan ziarah tersebut, delegasi MUI Sumut turut melaksanakan doa bersama di area makam yang dipimpin oleh K.H. Akhyar Nasution. Doa ini dipanjatkan untuk mendoakan keberkahan, kekuatan iman, dan keteguhan umat Islam dalam menjaga warisan budaya dan spiritual Islam. Kehadiran delegasi MUI Sumut di Bukhara ini sekaligus menginspirasi umat Islam di Sumatera Utara akan pentingnya menghormati peninggalan sejarah dan menghidupkan nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para pendahulu.

Delegasi MUI Sumatera Utara Tiba di Bukhara: Menggali Warisan Islam dan Menjalin Kerjasama dengan Ulama Bukhara

Bukhara, Uzbekistan, muisumut.or.id, 1 November 2024 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara tiba di Bukhara pada 1 November 2024 dini hari setelah menempuh perjalanan kereta api sejauh 600 km dari Tashkent. Sebelumnya, delegasi ini berangkat dari Kuala Lumpur pada 31 Oktober dalam rangka ziarah bersejarah ke Uzbekistan, negara yang kaya akan warisan dan tradisi Islam, dengan agenda yang berlangsung hingga 7 November 2024. Delegasi ini dipimpin oleh Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, dengan tujuan mempererat hubungan dengan komunitas Islam di Uzbekistan serta memperdalam studi tentang sejarah dan peradaban Islam.

Tiba di Tuskent selanjutnya naik kereta ke Bukhoro
Tiba di Tuskent selanjutnya naik kereta ke Bukhoro

Selain berziarah ke situs-situs Islam bersejarah, MUI Sumut diundang untuk menjadi narasumber dalam forum ulama Bukhara. Kesempatan ini memungkinkan delegasi untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai isu-isu keislaman kontemporer serta penguatan nilai-nilai syariat.

Warisan Islam di Uzbekistan: Mengenang Kontribusi Imam Bukhari

Uzbekistan, khususnya kota Bukhara dan Samarkand, memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan keislaman. Salah satu tokoh penting yang lahir di Bukhara adalah Imam Muhammad Ibn Ismail al-Bukhari, penulis Sahih al-Bukhari, salah satu kitab hadis paling terpercaya dalam Islam. Makam Imam Bukhari di Samarkand menjadi salah satu destinasi utama kunjungan delegasi MUI Sumut sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi beliau dalam pengembangan ilmu hadis.

Kegiatan Utama Delegasi MUI Sumatera Utara

Selama di Uzbekistan, delegasi MUI Sumut yang dipimpin Dr. H. Maratua Simanjuntak akan mengadakan berbagai kegiatan, termasuk pertemuan dengan ulama setempat dan kunjungan ke institusi pendidikan Islam. Dalam forum ulama Bukhara, Prof. M. Jamil akan menyampaikan tulisannya dalam bahasa Inggris berjudul The Strategic Role of Islamic Scholars and Figures towards a Prosperous, Thriving, and Just Indonesia (Learning from Three Islamic Scholars and Figures in the Indonesian Archipelago). Tulisan ini membahas peran strategis ulama dan tokoh Islam dalam membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera, berkembang, dan adil, dengan mengambil inspirasi dari tiga tokoh Islam di Nusantara.

Sementara itu, Dr. Ardiansyah akan menyampaikan makalahnya dalam bahasa Arab yang berjudul وسطية الإسلام في منظور الحديث النبوي؛ من المنهج إلى التطبيق,  Makalah ini membahas konsep wasatiyyah (moderat) Islam dalam perspektif hadis Nabi, dari metodologi hingga aplikasinya.

Menghormati Sejarah Islam dan Memperkuat Kerjasama Internasional

Perjalanan ini bukan sekadar ziarah, melainkan langkah penting untuk memperkuat hubungan antarulama dan umat Islam lintas negara. MUI Sumatera Utara berharap memperoleh wawasan dari pengalaman dakwah Islam di Uzbekistan, terutama dalam bidang pendidikan Islam yang telah berkembang selama berabad-abad.

Kunjungan ini juga diharapkan dapat mendorong MUI Sumatera Utara untuk meningkatkan peran dalam pembinaan umat di Indonesia, dengan memanfaatkan inspirasi dari tradisi pendidikan dan dakwah Islam di Uzbekistan. Bukhara dan Samarkand dikenal sebagai pusat intelektual Islam yang menghasilkan ulama besar dan karya-karya monumental yang menjadi dasar pemikiran Islam hingga kini.

Harapan dan Manfaat dari Kunjungan

Melalui kunjungan ini, MUI Sumatera Utara berharap tidak hanya menghormati warisan ulama terdahulu seperti Imam Bukhari, tetapi juga memperkokoh jaringan keilmuan dan persahabatan antarbangsa. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan pemahaman sejarah Islam serta memperkuat sinergi dalam mengembangkan dakwah Islam yang lebih progresif dan inklusif di era modern.

Ketua MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menegaskan pentingnya memperluas wawasan dan membangun kerjasama internasional antarulama, agar nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin terus tersebar dan menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia.