Monday, March 9, 2026
spot_img
Home Blog Page 72

Perjalanan Hidupku

0

Ahmad Fauzi Panjaitan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Asahan.

Nama saya Ahmad Fauzi Panjaitan, biasa dipanggil fauzi. Saya lahir 23 september 2001 sei paham psr kanan Dsn VI Asahan. Saya anak ke 7 dari 7 bersaudara, 5 perampuan dan 2 laki-laki, SD saya sekolah nurul huda di sei paham, lulusan tahun 2013. SMP/SMA saya pindah ke medan, SMP saya di pesantren modern fajrul iman patumbak deli Serdang, lulusan tahun 2017. SMA saya di pesantren modern mawaridussalam batang kuis deli Serdang, lulusan tahun 2019-2020. Setelah saya tammat sekolah, saya masuk pesantren tahfidz az-Zaitunah di hamparan perak, lulusan tahun 2021.
Saya memiliki cita-cita dari kecil hingga sampai sekarang pingin masuk tantara (TNI), kenapa saya ingin masuk TNI? Kerna saya trinspirasi melihat seorang tantara membantu orang yg kesusahan dan membela tanah air yaitu Indonesia. Tapi orang tua saya tidak setuju masuk TNI kerna itu terlalu berbahaya dan membuat hilang nyawa saya, orang tua saya berkata : mau rupanya kau nanti ketika kami meninggal tidak ada mensholatkan kami, kerna kami ingin kalian anak laki dua-duanya yg mensholatkan kami jangan sampai orang lain yg menjadi imam kami ketika kami tiada. Saya pergi kesuatu tempat untuk merenungkan diri dan disitu saya di hampiri kakak saya yang bernama Erna Panjaitan, dia menceritakan tentang betapa susahnya orang tua yang melahirkan saya, kerna di masa kau jadi bayi dek itu darah keluar dari lubang hidung setiap malam sehingga di Tengah malam ayah berjalan kaki dan hujan lebat datang, dan ayah terus mencari obat walaupun tidak ada lampu di waktu itu tapi ayah berjuang untuk mencari obat supanya anaknya biar hidup.
Dan saya setelah tammat mondok tahfidz langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih serius yaitu kuliah di Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Provinsi Sumatera Utara. Selain sebagai mahasiswa saya juga di tuntut untuk mengabdikan diri atau berdakwah ke Daerah minioritas, karena memang dakwah adalah jurusan yang saya ambil untuk melanjutkan ilmu yang sudah pernah dapat dari pesantren dahulu.
Dari rencana besar perjalanan hidupku adalah setelah lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan, saya akan mengabdikan diri atau berdakwah di daerah minioritas sesuai bakat dan bidang dengan jurusan yang saya tekuni selama masa kuliah yaitu jurusan Dakwah, karena itu adalah keinginan kedua orang tua saya sebagai pendakwah.

Aksi Peduli Palestina, MUI Sumut “Berjihadlah dengan Harta Kita”

0

muisumut.or.id, Medan, MUI Sumut menyampaikan pesan pesan kemanusiaan pada Acara Aksi Damai Peduli Palestina yang dilaksanakan di depan Masjid Raya al Mashun Jalan Sisingamangaraja Medan pada Sabtu 1 Juni 2024. Kegiatan yang digagas oleh Forum Solidaritas Peduli Palestina Sumatera Utara Kembali dilaksanakan mengingat kondis Gaza Pelestina yang masih memprihatinkan, Genosida (pembataian) yang tak kunjung usai, bahkan sudah merambah ke Rafah.

Aksi Pelestina yang di hadiri ribuan umat Islam yang berkumpul terus meneriakkan Yel Yel “Free Palestine, Free Palestine,”  menyerukan boikot produk Israel dan produk yang berafiliasi dengan Israel” serta melaknat “Isreel teroris”

Dr. Akmaluddin Syahputra yang mewakili MUI Sumatera Utara mengawali orasinya dengan membaca firman Allah surat At taubah  ayat 24

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Akmaluddin yang juga merupakan Ketua Bidang Infokom MUI Sumut bahwa Jihad terbaik adalah dengan harta, dan saai inilah kita keimanan kita diuji untuk berjihad dengan harta benda kita. MUI Sumatera Utara terus menggalang dana, dan kemaren pada Kamis 30 Mei Kembali menyalurkan donasi tahap IV sejumlah 855 juta rupiah melalaui rek MUI Pusat.

Majelis Ulama Indonesia baik di Pusat maupun di derah terus berupaya dari segala sisi,  MUI Pusat terus berusaha untuk melakukan diplomasi agar penjajahan dan serangan dihentikan, MUI juga telah mengeluarkan fatwa no 83 tahun 2023 yang menyerukan wajib mendukung perjuangan palestina dan Haram mendukung agresi Israel. MUI juga sudah menyerukan untuk boikot produk Israil dan yang mendukungnya. Di samping itu MUI juga mengeluarkan fatwa yang membolehkan mendistribusikan zakat untuk perjuangan kemerdekaan Palestina

“kita tidak akan tinggal diam, kita akan bersama saudara kita, umat Islam bersaudara, kita seperti tubuh yang satu, jika di negeri Palestina tersakiti bumi Sumatera Utara, tanah kota Medan juga akan merasakan sakinya” ujarnya penuh semangat.

Pada akhir orasi Akmal mengajak seluruh umat Islam untuk menyisihkan sebahagian uang untuk dapat berdonasi, tetap boikot produk Israel, dan teruslah mendoakan saudara saudara kita.

“Ya Allah bantulah umat Islam di Palestina, hilangkan duka dari mereka. Ya Allah angkatlah bencana dari bumi  Palestina. Berikan kami keimanan untuk terus membantu dengan doa dan donasi terbaik kami”

DONASI UNTUK PALESTINA
BANK SUMUT CABANG SYARIAH
NOMOR REKENING 6100-2300-0000-09

Donasi bisa juga di terima langsung di kantor MUI Sumut Jalan Majelis Ulama/ Sotomo Ujung pada jam kerja

WAHABI A History

0

Catatan Harianku; 23 Mei 2024

WAHABI A History

By Hasan Bakti Nasution

Gerakan Wahabi sesungguhnya sudah lama menjadi perbincangan di dunia Islam. Paling tidak karena dua hal. Pertama, Gerakan ini berpusat di Saudi Arabiah dengan dua tanah haram sebagai basisnya, yaitu Mekkah dan Madinah, sehingga praktek keagamaan versi Wahabi yang ditampilkan disaksikan umat Islam dunia ketika melaksanakan haji atau umrah. Bahkan dijadikan sebagai faham resmi Kerajaan Saudi Arabiah.

Kedua, dari segi faham keagamaan yang ditampilkan cenderung reaksioner dengan ajaran yang berkembang di kalangan sunni, seperti larangan membaca qunut, ziarah kubur, yasinan, berdo’a usai shalat wajib secara berjamaah, dan sebagainya. Sesungguhnya ajaran dan faham seperti ini diusung juga oleh Gerakan lainnya, yaitu Muhammadiyah, namun tensinya lebih keras.

Seiring dengan era digital yang membahana, Gerakan Wahabi semakin semarak diiringi dengan penguasaan media digital yang dilakoni, sehingga ajaran dan pemahamannya secara mudah diakses dengan media sosial, seperti youtube, WA, Line, Twitter, dan sebagainya. Akibatnya terasa adanya gesekan internal yang semakin kurang harmoni di kalangan umat. Itulah yang membuat DP MUI SU mengadakan kajian dan diskusi mengenai Gerakan ini dalam beberapa kali pertemuan.

Apa yang menjadi catatan di sini tidaklah mewakili Lembaga MUI, hanya sifatnya pribadi. Sebagai sebuah Gerakan keagamaan Wahabi tentu ada plus minusnya, terutama dalam mengawal keotentikan ajaran Islam. Banyak komentar mengenai Wahabi ini, ada yang menjadikannya sebagai singkatan dari wawasan hanya bid’ah. Mungkin ada kaitannya dengan tema sentral ajarannya yang sarat dengan kata bid’ah. Tiada ceramah atau kata yang luput dari kata bid’ah.

Tentu banyak catatan dan kesan mengenai Gerakan ini, namun disederhanakan pada satu kata, a history, sesuai judul di atas. Yaitu Wahabi mencoba memutuskan mata rantai Sejarah dengan kembali kepada masa awal Islam, yaitu era Nabi dan sahabat. Semua ide, gagasan, konsep dan tindakan diarahkan pada era itu. Jika tidak ada ketika itu, maka divonis bid’ah dan setiap bid’ah sesat dan pastinya masuk neraka, sesuai jargon yang dikembangkan “kullu bid’atin dhalalah wakullu dhalalatin fin-nar”. Sesederhana itu.

Ironinya standard yang dijadikan alat ukur boleh tidaknya atau bid’ah tidaknya ialah para tokoh-tokoh Wahabi yang sesungguhnya hidup di era khalaf (modern), bukan era salaf (era Nabi sampai abad keempat hijriah). Sebutlah misalnya Syekh Ibn Taimiyah yang dijadikan rujukan lahir tahun 661 H, yang sudah masuk dalam kelompok khalaf (modern). Apalagi Syekh Abdullah Al-Baz yang wafat tahun 1999 yang lalu. Di sinilah trend a history menjadi catatan awal.

Jika melihat sejarah, masa antara Nabi Muhammad sampai dengan Ibn Taimiyah melewati enam abad dengan dinamika perkembangan Islam dalam berbagai aspeknya, seperti dalam bidang Aqidah dan hukum. Apalagi dengan Syekh Abdullah Albas yang hidup di era modern ini. Dengan menjadikan Ibn Taimiyah sebagai rujukan yang hidup 600-an tahun setelah Nabi wafat, berarti ada keterputusan Sejarah, dan inilah yang dimaksudkan a history tersebut. Wahabi mencoba menutup mata terhadap dinamikan pemahaman keislaman ratusan tahun dan menggangapna seolah tidak ada, karena langsung pada era Nabi dan sahabat.

Memutuskan matarantai Sejarah pemahaman tentulah hal yang tidak masuk akal, karena di setiap abadnya muncul letupan pemikiran hebat, yang tentu harus menjadi pertimbangan dalam pemahaman keislaman. Inilah yang dimaksud hadits Nabi yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengutus seorang pembaru pada setiap seratus tahun”.

Itu berarti bahwa telah lahir pembaru abad 2,3,4,5,6 sebelum Ibn Taimiyah pada abad 7. Dengan menjadikan Ibn Taimiyah sebagai satu-satunya legal opinion dalam memahami agama berarti mengabaikan pembaharu lain pada abad 2, 3, 4, 5, dan 6. Tersebut.

Tentu ini a history !!!.

Diskusi Sore Pinbas Hasilkan Meeting Forum UMKM

0

muisumut.or.id, Medan, Pusat Ingkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI Sumatera Utara berkumpul di Kewa Cofeeshop MUI Sumut Jalan Majelis Ulama/ Sutomo Ujung, Kamis Sore 30 Mei 2024. Duskusi santai disore hari tersebut membicarakan  penguatan pembiayaan berbasis syariah dan marketing mix dalam persfektif Islam.

Diskusi sore yang digagas Ketua Pinbas, Drs. Putrama Alkhairi dihadiri beberapa pengurus Pinbas dan pengurus komisi Ekonomi MUI Sumut. Diantara yang hadir  Dr Saparuddin ahli Akuntansi syariah, yang juga merupakan salah satu Bendahara MUI Sumut, Dr Akmaluddin Syahputra, Direktur P2WP, , Dr Indra Utama, Ketua Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, Dr Haikal pelaku UMKM, Dr Salman Dosen Ekonomi Islam UMSU, Ali Suman Sekretaris komisi Infokom sumut, dan alferdiansyah barista coffe di Kewa Cofeeshop  MUI sumut

Pasca diskusi semua sepakat langkah pertama melakukan meeting forum dengan UMKM binaan Pinbas dan P2WP difasilitasi BPR Puduarta Insani pada Sabtu tanggal 8 juni 2024 di MUI sumut dengan sukses story saudara Palaceta owner Vokal Point, selanjutnya dalam persiapan platform yg disiapkan Pinbas menjelang acara, plus apa apa dokumen teknis yg diperlukan bagi penyehatan dan pendampingan UMKM binaan, selanjutnya melakukan peninjauan ke rumah rumah produksi dan skema skema lainnya

Sumut Terus Bersama Palestina, MUI Sumut Kembali Donasikan 855 Juta

0

muisumut.or.id, Medan, Umat Islam Sumatera Utara akan selalu bersama saudara kita di Palestina, MUI Sumatera Utara kembali menyalurkan donasi yang dihimpun dari umat Islam Sumatera Utara sejumlah delapan ratus limapuluh lima juta rupiah (855.000.000) yang disalurkan melalui MUI Pusat pada Kamis 30 Mei 2024.

Donasi ini merupakan kali keempat  dan merupakan wujud bahwa umat Islam tidak meninggalkan saudara seiman di Palestina.   Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum MUI Sumut Buya Maratua kembali mengingatkan untuk terus membantu saudara kita di Palestina. “dalam hal ini MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa no 83 tahun 2023 untuk membantu saudara kita di Palestina. Kita akan terus bersama saudara kita, kita terus memanjatkan doa setiap kesempatan khususnya seteleh shalat dan kita terus akan menggalang dana untuk perjuangan saudara kita. Kita wajib mendukung perjuangan Palestina dan Haram mendukung agersi Israil” ujarnya.

Pada Acara Ijtmia Ulama isu Palestina juga di bicarakan, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyampaikan dukungan atas posisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang selama ini sangat tegas dalam memperjuangkan Bangsa Palestina.

Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Hubungan Antarlembaga, Muhsin Syihab menyampaikan, Pemerintah RI melalui Kemenlu RI selama ini telah bersinergi secara kuat dengan MUI dalam rangka memperjuangkan Palestina.

“Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia selalu mendukung posisi MUI yang tegas dan memperjuangkan Bangsa Palestina,” kata Muhsin Syihab di Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, Selasa (28/5/2024) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Aksi Dukung Palestina

Umat Islam Sumatera Utara akan terus bersama saudara kita, Besok 01 Juni Aksi Dukung Palestina yang bertemakan Semilyar Laknat Untuk Palestina yang akan dilaksanakan di Kedubes Amerika Jakarta Pusat, Sumatera Utara melalui Forum Solidaritas Peduli Palestina juga melaksaakan Aksi Damai Peduli Palestina yang akan dilaksanakan Pada Sabtu 01 Juni 2024 di depan masjid Raya al Mashum, jalan Sisingamangaraja Medan.

Infokom MUI Sumut menghubungi kordinator Aksi Peduli Palestina Haris Sucipto, M. Si, menyampaikan “Kejadian pembantaian yang  terjadi di Rafah menunjukkan bahwa Israel telah melanggar keputusan PBB dan menambah catatan pembantaian dan genosida yg terjadi di palestina, maka kami mengajak seluruh elemen masyarakat utk tidak bosan menyuarakan kemerdekaan dan menghentikan tindakan genosida yg terjadi di Palestina.

Lebih lanjut  kami mengucapkan terima kasih kepada MUI Sumut yg terus bersama menjaga kekompakan umat Islam di Sumatera Utara khususnya dalam menguatkan masyarakat terkait kondisi palestina baik dukungan moral maupun materil

 

DSN MUI Perwakilan Sumatera Utara Audiensi dengan BAZNAS Sumatera Utara

0

muisumut.or.id, Medan, Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Perwakilan Sumatera Utara beraudiensi ke BAZNAS  Sumut, Kamis, 30 Mei 2024. Audiensi  bertujuan untuk menjalin sinergitas dan kolaborasi dalam bidang filantropi Islam.  Turut hadir  Dr. Ardiansyah selaku kordinator, Dr. Akmaluddin Syahputra, Dr. Amar Adly, Dr. Irwansyah, dan Fuadi MA.  Rombongan diterima langsung oleh Ketua Baznas Prof. Mohd. Hatta, Wakil Ketua, Armansyah, Direktur Unit Pelaksana, Muhammad Yunus dan beberapa staf Baznas.

Prof. Hatta menyambut baik pertemuan ini, yang merupakan salah satu wujud dari MoU bersama MUI Sumut untuk bersinergi dan kolaborasi.

“kami sangat membutuhkan dukungan dari MUI dari aspek kesyariahnya, misalnya siapa yang disebut dengan fisablilah atau siapa itu riqob? Selama ini kreteria kreteria tersebut masih sangat terbatas, apakah bisa untuk dberikan kepada TKI yang terlantar” ujarnya

Dr. Ardiansyah selaku kordinator DSN MUI Perwakilan Sumut menyampaikan bahwa saat ini hanya ada 8 Provinsi yang sudah memiliki Dewan Syariah Nasional Perwakilan, Sumatera Utara adalah salah satunya. Kiita  mengikuti ujian di tahun 2019 dan mulai dikukuhkan untuk berkhidmat di tahun 2021.

Ardianyah juga menceritakan pengalaman DSN ketika mengunjungi DSN MUI Perwakilan Jawa Barat yang telah melakukan sinergitas dengan melaksanakan peningkatan kompetensi Pengurus Lembaga Amil Zakat LAZ termasuk DPS.

Saat ini di Sumatera Utara memiliki Baznas  di tingkat Provinsi dan Kab/kota serta 18 Lembaga Amil Zakat yang berskala nasional dan 1 yang lokal, potensi ini tentu perlu di rawat sehingga lembaga yang memiliki tujuan yang sama ini benar benar bisa bersinergi. Untuk itulah pertemuan audiensi ini akan mejadi gerbang masuk untuk kolaborasi Lembaga ke Islaman dalam hal ini MUI, Baznas, Kemenag, dan LAZ di Sumatera Utara.

Jalin Kerjasama dengan Kementrian Agama

Sebelumnya MUI Sumut dalam hal ini DSN MUI Perwakilan juga telah melakukan silaturrahim dan penjajakan terkait kolaborai besar ini. Pertemuan yang dilaksanakan pada 21 Mei 2024 di kantor MUI Sumatera Utara. Hadir pada pertemuan tersbeut Kabid Penais Zakat dan Wakaf, H. Abdul Azhim, MA

 

 

 

 

MUI Sumatera Utara Laksankaan Observasi Arah Kiblat

0

muisumut.or.id, Medan, MUI Provinsi Sumatera Utara melaksanakan observasi  arah kiblat pada 27 Mei 2024 di palataran MUI Sumatera Utara. Pada 27 Mei setiap tahunnya bertepatan dengan pukul 16.18 disebut dengan rashdul qiblah atau istiwa a’zham pada saat itu matahari  berada di atas  Kakbah. Saat itulah bayang kiblat dapat menjadi alat bantu untuk mengukur arah kiblat masing-masing di tempatnya. Dengan bantuan sederhana yakni tiang tegak lurus dan saat pukul 16.18 WIB tersebut menunjukkan bayang tiang yang sesungguhnya merupakan  arah  kiblat.

Drs. H. Arso, SH., M.Ag Wakil Ketua MUI Sumatera Utara yang juga pakar ilmu falak di Sumatera Utara menjelaskan bahwa teori rashdul qiblah ini menjadi alat bantu untuk mengukur akurasi arah kiblat baik di rumah, masjid, mushalla dan tempat-tempat ibadah lainnya. Namun tentu ini juga ada minusnya adalah ketika cuaca tidak mendukung. Misalnya cuaca mendung atau sedang hujan sehingga sinar matahari terhalang sampai ke bumi dan observasi bayang kiblat ini tidak bisa dilaksanakan. Untuk mengukur arah kiblat semacam ini dapat dilakukan dua kali dalam setahun, yakni  pada  27 Mei pada pukul 16.18 WIB dan pada bulan  15 Juli pada pukul 16.27 WIB.  Kita patut bersyukur kepada Allah swt. bahwa Allah sudah siapkan Alam ini untuk membantu semua umat manusia untuk mengetahui arah kiblat dengan bantuan sinar matahari. Ini patut disyukuri.  Ujarnya

Arso menambahkan bahwa di Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara sejak angkatan pertama (2006-2009)  telah diajarkan ilmu falak selama dua semester sampai anak-anak  alumni PKU (nama lembaga pada saat itu) sudah mampu untuk menghitung awal waktu shalat dan arah kiblat serta ijtimak awal bulan. Alhamdulillah sampai saat ini matakuliah langka ini terus diajarkan  di pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara. Observasi arah kiblat itu dilaksanakan di pelataran Kantor Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara oleh mahasiswa PTKU yang langsung didampingi Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum selaku salah seorang Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara.

Akmaluddin bersama para mahasiswa PTKU telah berhasil dalam melaksanakan observasi arah kiblat didukung cuaca yang cerah dan alhamdulillah arah kiblat masjid Ar Rahmah Kantor Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara telah sesuai setelah dilaksanakannya observasi arah kiblat ini, Ujar Akmaluddin Syahputra, M.Hum.

Tidak Masalah Darimana Anda Berasal Yang Penting Adalah Kemana Anda Akan Pergi

0

Sahmana Abdullah Siregar, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Padang Lawas.

Nama saya Sahmana Abdullah Siregar. Lahir di Tanjung Morang, 10 November 2000. Dimana Tanjung Morang ini adalah sebuah desa di Kabupaten Padang Lawas, desa ini sangat jauh dari perkotaan. Saya adalah anak dari Pasangan Samsul Siregar dan Rinawati Nasution. Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana pada masa itu, ayah saya hanya seorang petani, sedangkan ibu saya seorang Ibu Rumah Tangga dan selalu ikut bekerja bersama bersama ayah saya. Sejak kecil saya sudah merasakan yang namanya mandiri selalu diajari dengan kesederhanaan dan diajari tentang bertutur kata kepada orang lain. Karena di desa kami masih kental dengan adatnya, selain itu juga waktu kecil ayah saya mengajari dan menyuruh saya untuk belajar agama ( mengaji) walaupun ayah saya bukan tokoh Agama dan bukan orang yang paham kali tentang agama, makanya ayah saya pengen kali menjadi orang yang sukses dan paham agama.
Setelah saya berumur 7 Tahun, saya memulai Pendidikan di SDN 0911 Tanjung Morang, kec. Huristak, Kab. Padang Lawas, Sumatera Utara. Dalam masa pendidikan SD saya tidak sama dengan kawan-kawan yang lain, karena harus berdagang tinggal di kampung bersama Abang waktu itu dia sudah SMP. Karena ayah sama ibu saya tinggal di kebun, jarak dari kampung ke kebun lumayan sangat jauh karena waktu itu belum ada kendaraan kami, setiap hari Sabtu pulang sekolah kami berangkat dari kampung ke kebun untuk menjumpai ayah dan ibu untuk melepas rindu dan menghabiskan libur akhir pekan di kebun. Kemudian setelah lulus SD dan melanjutkan pendidikan antara mau ke SMP atau Pesantren, setelah beberapa Minggu kemudian ayah saya membawa saya ke SMP dan mendaftar di SMP tersebut. Setelah beberapa Minggu kemudian waktunya masuk sekolah tapi saya tidak mau masuk sekolah karena saya ingin sekolah ke Pesantren beberapa Minggu terlewatkan dan tidak masuk sekolah adalah tetangga saya yang mau masuk ke pesantren dan disitulah saya minta ikut sekolah ke Pesantren dan ayah saya menyetujui saya masuk pesantren. Disitulah terbit dalam hati saya mungkin Allah sudah mentakdirkan saya masuk pesantren, yang mana nama Pesantrennya Pondok Pesantren Syekh Ahmad Daud, yang terletak di desa Gunung Tua Julu di Kabupaten Padang Lawas Utara. Mulai dari SD saya memang adalah salah satu siswa yang berprestasi baik dalam akademik dan bidang olahraga sampai di Pesantren juga saya termasuk siswa yang berprestasi mulai dari Mts sampai Aliyah. Di pesantren saya juga pernah menjadi ketua organisasi pesantren yaitu menjadi ketua Umum.
Setelah lulus dari pesantren saya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi salah satu di Sumatera Utara, dan saya mendaftar di UIN SU sebelum masuk ke UIN SU semua berkas diminta selain berkas yang wajib diisi disitu juga diminta sertifikat prestasi, waktu di pesantren saya pernah juara III umum penammatan santri kelas empat IV, juara II cerdas cermat antara santri, juara I puisi antara santri, juara II pidato bahasa Indonesia antara santri dan juara II umum Penammatan Santri kelas VII. Setelah selesai pendaftaran dan ujian beberapa bulan kemudian keluarlah hasil ujian Alhamdulillah saya lulus di UIN SU Fakultas Syariah dan Hukum jurusan Hukum keluarga Islam ( Akhwalussyahsiah) . Saya kuliah di UIN SU sampai 3 Semester karena belajar online saya kurang tertarik apalagi waktu itu dikampung saya susah jaringan disitu saya tidak semangat belajar, beberapa hari kemudian saya dapat kabar dari abang kelas saya bahwa PTKU MUI SU membuka penerimaan Mahasiswa Baru angkatan 2021-2024 . Saya mendapatar dan ikut ujiannya dua bulan kemudian keluarlah pengumuman Alhamdulillah saya lulus utusan dari Kabupaten Padang Lawas dan saya meninggalkan kuliah yang di UIN SU karena di PTKU MUI SU Beasiswa, mulai dari tempat tinggal disediakan, makan ditanggung, kitab belajar dan ruangan yang ber AC dan masih banyak lagi. Di PTKU saya banyak dapat ilmu, pengalaman yang sangat luar biasa yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya dan berjumpa dengan orang-orang hebat yang bisa memotivasi saya menjadi orang sukses kedepannya.

Sampai sekarang saya tidak pernah lupa nasehat orang tua saya : pade- pade ho amang nasikolai ulang dirasoi ho songon hamion.

Ayahanda pondok pesantren pun pernah bernasehat kepada Kami santrinya: Pade ho Amang ingot Tuhan.

Seorang Keturunan China Mengharap Ridha Allah Swt

0

Muhammad Imron Alfaridzi Julmi, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Asahan.

Assalamua’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Latar belakang keluarga
Saya Mhd Imron Alfaridzi Julmi lahir di Kisaran,Jln. Merpati,Kab. Asahan, Kec. Kisaran Timur. Saya lahir pada tanggal 18 Oktober 1999 yang merupakan anak ketiga dari 5 bersaudara.. dari garis keturunan Ayah saya, saya merupakan keturunan China, kakek saya adalah seorang Mualaf dari Negeri China yang berhijrah ke Indonesia, Nama kakek saya ketika sesudah masuk Islam bernama Abdul Wahab. Dahulu cerita dari orang tua tentang kakek saya, kakek saya pergi dari rumah/China untuk pergi ke Indonesia, kakek saya Mualaf ketika sudah Indonesia dan menetap selamanya di desa Gambir Baru Kisaran, setelah beberapa tahun kakek saya tinggal di kampung tersebut beliau masih merasa terasingkan di karenakan ada garis keturunan China, orang-orang dari zaman sekarang sampai sekarang masih sama memandang orang China tidak baik (Negatif) padahal tidak semua orang China seperti itu semua, kemudian saya pernah bertanyak lagi kepada orang tua saya kenapa Ayah gak memakai marga Tan lagi? Di karenakan apabila ada marga kita dan itu bermarga China maka sulit untuk membuat surat-surat kantor lurah. Itulah penyebab orang tua saya perlahan-lahan menghilangkan marga Tan-nnya. Kemudian Ayah saya bernama Juliono Tan dan Ibu saya bernama Suparmi, saya dari keluarga yang sederhana yang mengharap kebahagiaan dan keridhaan dari Allah Swt di Dunia dan dan di Akhirat.

Pendidikan
Saya Tk di Darul Ulum Asahan yang dulu itu perjuangan Ayah saya sangat besar kepada Anak-anaknya, saya selalu di antar jemput dengan menggunakan sepeda. Kemudian SD saya di Kisaran juga yang bernama SD Negeri 018452, SMP di Negeri 1 Kisaran dan selanjutnya saya melanjutkan di Smk 10 Muhammdiyah Kisaran. Kemudian setelah saya tamat dari Smk saya tidak niat langsung untuk melanjutkan kuliah di tempat kuliah-kuliah umum tetapi saya sangat berniat untuk mondok di Asrama seperti menghafal Al-Qur’an, kemudian beberapa bulan kemudian saya pergi sendiri merantau ke Medan dari Kisaran untuk ujian Tahfidz di satu Ma’had yang bernama Ma’had Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Alhamdulillah berkat do’a orang tua saya beberapa bulan kemudian saya di telpon dam saya di terima di Ma’had Abu Ubaidah Bin Al-jarrah dan saya menghafal selama 2-3 Tahun lebih, motivasi saya menghafal Al-Qur’an di karenakan saya melihat di Tv Hafidz-hafidz kecil yang cerdas. Setelah saya selesai menghafal Al-Qur’an saya berlanjut untuk belajar ke PTKU (Pendidikan Tinggi Kader Ulama), perjuangan saya untuk masuk di PTKU sangat berat, di karenakan nama saya ketika itu tidak ada dalam nama-nama kelulusan tersebut tetapi dengan ijin Allah, saya di telpon oleh pihak PTKU untuk kuliah di sana dan saya bersyukur kepada Allah dapat memberikan kesempatan kepada saya untuk memperdalam Ilmu Agama Allah ini.

Pesan-pesan dan Motivasi
Untuk menjadi orang yang berhasil/sukses di hari yang akan datang, harus membutuhkan do’a dan usaha yang sungguh-sungguh, karna apa, tidak ada orang yang sukses itu tanpa perjuangan oleh karena itu saya sebagai orang yang sederhana, saya ingin melihat orang tua saya bahagia di dunia dan di akhirat, dan saya berusaha untuk mencapai semua itu dengan usaha dan do’a kedua orang tua saya. Kemudian pesan pesan dan motivasi saya lagi yaitu apabila kita memiliki satu atau lima bersaudara maka ada di antara saudara-saudara kita itu minimal ada satu orang yang memperdalam Ilmu Agama Islam jadi tanamkan di hati kita bersama bahwa kita sendiri itulah yang berusaha keras untuk menuntut Ilmu Agama Islam kita ini, dan satu lagi pesan saya jangan memandang semua orang China itu tidak baik (Negatif).
Assalammua’laikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Anak Penjual Ikan Ingin Jadi Da’i

0

Yudi Maulana, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Batubara
Saya Yudi Maulana, anak pertama dari dua bersaudara. Yang pertama saya dan yang kedua adik saya Muhammad Hafidz. Alhamdulillah saya dan adik saya sudah menempuh pendidikan hingga SMA, dan saya sekarang dalam proses kuliah di Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) MUI SU. Saya SD di sekolah kampung saya yakni SDN.018481 Lalang. Kemudian SMP N. 2 Pakam dan SMA di pondok pesantren Musthafawiyah, Purba Baru, Mandailing Natal. Dari kecil keinginan saya ingin sekolah di pesantren namun karena orang tua belum mengizinkan untuk masuk pesantren akhirnya saya SD, SMP sekolah umum, dan tercapai keinginan masuk pesantren ketika SMA.
Ayah saya bekerja sebagai wiraswasta dan omak saya bekerja sebagai jual ikan keliling dikampung saya. Keinginan saya ingin jadi da’i sebab dikeluarga saya masih minim dalam ilmu agama, sehingga muncullah keinginan saya menjadi da’i yang kelak bisa mengharumkan nama orang tua saya. Bermula keinginan saya masuk pesantren tamat SD, namun omak berkata “ Nak, kau masih kocik sekolahmu jauh nanti ajo yo selosai kau SMP, tutur omak saya,” akhirnya saya pun
menuruti permintaan omak saya. Singkat cerita SMP pun selesai dan keinginan saya tetap mau masuk pesantren. Namun keinginan omak saya berubah yang awalnya tamat SMP dia mengizinkan saya masuk pesantren, ternyata omak mendaftarkan saya di sekolah SMK Budhi Darma, Indrapura jurusan listrik dan omak sudah membelikan baju, sepatu sekolah untuk saya. Saya pun bilang kepada omak saya mak, ini bukan jurusanku aku tetap mau masuk pesantren percuma omak masukkan aku ke SMK kalau nanti akhirnya aku tidak jadi orang, tuturku.
Omak pun diam tidak bisa bicara dan menyetujui kenginanku walaupun dengan nada berat, sebab omak berfikir kalau saya pesantren tentu tidak berjumpa dalam beberapa bulan, dan ini berat bagi omak saya. Saya pun meyakini omak saya,mak omak jangan takut Allah nanti yang akan menjagaku di sana, tuturku. Ketika dekat masanya masuk pesantren saya diuji dengan penyakit asam lambung hingga makan pun nasinya harus dibelender, sebab kalau dikunyah bisa muntah. Melihat kondisiku omak pun merasa khawatir karena takut penyakit ini kambuh, sementara tidak ada yang menjaga saya di sana. Saya pun tetap meyakinkan omak saya, omak jangan takut Allah nanti yang menjagaku di sana.
Singkat cerita saya pun masuk pesantren kelas 1di Musthafawiyah.Di sini saya diuji dengan berbagai macam penyakit mulai dari gatal-gatal hingga decentry (penyakit yang mengeluarkan darah di dubur ketika buang air). Disamping itu juga saya harus bisa memahami tutur bahasa daerah tersebut yakni bahasa Mandailing sebab ayahanda yang mengajar di lokal dan para senior yang mengajar di muzakarah menggunakan bahasa Mandailing sehingga tugas saya pun bertambah sbukan hanya saya harus pandai kitab kuning, tetapi saya harus belajar juga memahami tutur bahasa mereka agar saya paham apa yang diajarkan oleh ayahanda di sana. Proses ini saya jalani dengan sabar karena saya yakin Allah bersama saya.
Di kelas2 Musthafawiyah, saya sudah bisa memahami tutur kata mereka,namun saya belum mampu untuk mengajak bicara dengan bahasa mereka. Karena saya ketua kelas, dan di samping baku saya kebetulan asli orang Mandailing,tepatnya di Panyabungan, Pasar Baru, saya pun meminta kepadanya untuk mentranslit bahasa Mandailing ke bahasa Indonesia. Teman saya bernama Zidan,
dan dia pun bingung dan bertanya, untuk apa abang rupanya, saya berkata, ya untuk paham bahasa kalian. Dia pun ketawa mendengar ucapan saya. Sehari saya kumpulkan 5-10 kosakata bahasa Mandailing, lalu saya bawa ke pondok sambil saya praktekkan.
Alhamdulillah setelah saya kumpulkan kosakata itu, saya pun bisa memahami sekaligus bisa menuturkan dengan bahasa mereka sampai sekarang.Singkat cerita, tiga tahun di pesantren Musthafawiyah saya pun menyelesaikan pendidikan Aliyah saya. Alhamdulillah dari kelas 1-3 saya tetap juara pertama di lokal. Selesai dari Musthafawiyah, saya melanjutkan pesantren Zainul Umam,Bandar Setia yang dipimpin oleh ustadz H. Supriadi. Selama satu tahun saya di sana untuk memperdalam ilmu agama yang dibimbing oleh ustadz Irhas S.Pd dan para asatiz lainnya.
Setelah setahun di Zainul Umam, ada informasi tentang PTKU, yang mempunya misi ingin mencetak kader ulama. Saya pun sangat berminat ingin masuk ke sana. Dari kabupaten saya ada dua orang yang ingin masuk ke PTKU,pertama saya dan kedua teman saya yang bernama Ihsanul Fatha al-Hafiz.Beliau hafiz 30 juz dan mahir juga baca kitab, namun saya tetap optimis saya bisa masuk ke PTKU atas izin Allah. Sewaktu pendaftaran ada sekitar 79 orang dari seluruh Kabupaten yang ada di Sumatera Utara yang ingin masuk ke PTKU,namun hanya 24 orang yang diterima.
Dan tibalah masanya pengumuman siapa-siapa saja yang masuk di PTKU.Dan saya sangat terkejut dari 24 nama itu ada nama saya di posisi nomor 1. Saya sangat tercengang sebab yang mendaftar itu rata-rata dari alumni pesantren, baik pesantren modern maunpun klasik. Saya sangat yakin dengan rencana Allah bahwa saya bisa masuk ke PTKU, dan alhamdulillah bukti itu ternyata.
Di PTKU dituntut belajar selama tiga tahun dengan silabus kitab turas (kitab kuning) dan hal inilah yang membuat saya tertarik ingin masuk ke PTKU yakni belajar dengan sistem kitab tuas. Visi dan misi dari PTKU itu sendiri yaitu:
1. Ahli Agama;
2. Pengamal Agama;
3.Pembela Agama.
Adapun prestasi selama di PTKU yaitu:
1. Juara 2 kitab kuning antara mahasiswa PTKU dalam rangka peringatan bulan muharram dan peluncuran kalender Hijriah MUI SU.
2. Juara 1 kitab kuning tingkat Kota Medan tahun 2022 yang diadakan oleh PKS.
3. Juara harapan II kitab kuning tingkat Provinsi tahun 2022 yang diadakan oleh PKS.
4. Juara 1 kitab kuning Kab. Deli Serdang yang diadakan oleh PKS tahun 2023.
Sampai sekarang saya masih belajar di PTKU dan akan menyelesaikan di bulan 7 2024 akan datang. Saya sangat beruntung bisa masuk di PTKU, sebab bukan hanya belajar kitab kuning namun biaya juga ditanggung oleh pemerintah (full beasiswa). Di PTKU juga mahasiswa melaksanakan dakwahnya di daerah minoritas selama bulan ramadhan. Tempat yang pernah saya kunjungi daerah Karo,Taput, Tanah Gara Hulu (Deli Serdang). Alhamdulillah juga di PTKU ini mahasiswa angkatan ke-7 diberangkatkan untuk Study Banding ke tiga negara yaitu,Malaysia, Singapura, dan Thailand yang mana angkatan sebelumnya belum ada dilaksanakan. Saya sangat bersyukur kepada Allah sebab keinginan saya naik pesawat akhirnya bisa tercapai, namun ada satu lagi keinginan saya yaitu ingin memberangkatkan orangtua saya Ke Baitullah.
Perjuangan saya ini belum seberapa dibandingkan dengan orangtua saya yang berjuang untuk menyengolahkan saya terutama omak yang rela bangun jam setengan empat pagi untuk mencari ikan agar bisa di jual dan menghasilkan uang,dan uang tersebut ia gunakan untuk pendidikan anak-anaknya. Saya hanya bisa berdo’a kepada Allah agar orangtua saya sehat selalu, hidup mereka berkah dan tentunya keinginan saya yang paling besar ingin membawakan mereka haji ke Baitullah,amiin ya rabbal’alamiin.