Sunday, March 8, 2026
spot_img
Home Blog Page 71

Wakaf Solusi Ekonomi Ummat

Oleh: Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc. MA. CWC, Sekretaris Bidang Penelitian MUI Sumut

Masalah wakaf adalah hal yang sangat penting untuk dikaji dan dipelajari, karena ia bagian dari permasalahan fikih yang dibahas oleh ulama-ulama dalam kitab-kitab mereka, baik dalam bahasa Arab atau selainnya.

Dari dahulu kala, wakaf sangat berperan dalam mewujudkan kesejahteraan ekonomi dan penghidupan ummat. Bahkan, wakaf menjadi solusi dalam mengentaskan dan menjauhkan ummat dari kemiskinan dan kelemahan ekonomi.

Namun dalam perjalanannya tentu ada masalah-masalah yang dihadapi dalam perwakafan, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahun tentang wakaf atau kurang peduli dengan wakaf atau sebab yang lainya.

Dalam tulisan ini kami ingin membahas dengan singkat seluk-beluk perwakafan, sehingga diharapkan wakaf menjadi bagian dari kehidupan umat Islam.

Pemikiran tentang Wakaf

Wakaf adalah proses dimana hamba Allah menyerahkan harta bendanya atau uangnya kepada Allah Swt. Setelah seseorang mewakafkan hartanya maka kepemilikannya langsung berpindah kepada Allah Swt.

Sangat besar pahala dan gandaran yang Allah berikan kepada pewakif, terlebih-lebih sesuatu yang diwakafkan itu ada benda yang tidak habis-habis misalnya seperti sumur, sebidang tanah dan lain-lain. Pahala orang yang berwakaf akan terus mengalir sampai terjadi hari kiamat.

Khalifat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. mewakafkan semua hartanya untuk perjuangan Islam. Khalifah Umar bin Khatthab ra. mewakafkan semua kebun kurmanya yang karena sibuk mengurusinya ia tertinggal shalat berjama’ah Ashar satu waktu saja. Khalifah Usman bin Affan pernah mewakafkan sebuah sumur yang airnya sangat jernih untuk kaum muslimin dan sampai sekarang sumur itu masih ada dan bisa dimanfaatkan umat Islam. Apa yang dilakukan sebagian dari Sahabat Nabi Saw. di atas menunjukkan betapa wakaf sangat disuruh untuk mendapatkan rahmat Allah Swt.

Ummat Islam harus menghidupkan ibadah wakaf sebagai solusi membantu perekonomian ummat. Apalagi wakaf itu tidak harus benda atau tanah namun bisa juga wakaf dengan uang.

Ummat Islam secara keseluruhan harus membudayakan ibadah wakaf, sesuai dengan kemampuaannya. Berwakaf bisa dengan sebidang tanah, bangunan, benda dan uang. Masa wakaf bisa selamanya dan bisa juga bertempo. Wakaf bisa secara keseluruan bisa juga hanya mewakafkan hasil atau manfaatnya saja. Ini semua memberikan peluang agar umat Islam secara bersama-sama membangun ekonomi ummat dengan cara berwakaf. Jadi sudah sangat muda sekali.

Literasi tentang wakaf harus terus dilaksanakan dalam rangka memberikan ilmu tentang perwakafan kepada ummat. Diskusi, seminar dan kajian-kajian tentang wakaf seyogianya bagian dari materi muballigh/ah dalam menyampai dakwah di tengah-tengah umat Islam.

Wakaf harus dikelola dengan baik. Dalam hal ini pengelolanya ada nazir dibawah naungan Badan Wakaf Indonesia (BWI), baik pusat maupun di daerah. Jika nazir-nazir wakaf tidak mempu mengelola harta wakaf dengan baik maka wakaf itu akan terlantar, tersesat atau terabaikan. Hal ini menyebabkan tujuan dan fungsi dari wakaf tidak mencapai maksud yang diinginkan. Oleh karena itu nazi-nazir wakaf harus orang-orang yang memiliki kemampuan dalam mengelola wakaf, harus cinta dengan wakaf, jujur, adil dan amanah dalam mengembangkan harta-harta Allah Swt.

Dalam hal administrasi, maka semua harta wakaf seyogianya sudah bersertifikat. Harta wakaf yang belum bersertifikat harus segera diurus sertifikatnya unutk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, semisal pewakif atau keluaga pewakif menarik kembali wakafnya dengan alasan tidak ada bukti atau dokumen bahwa itu ada benda wakaf. Dan kemungkin juga ada orang-orang jahat yang ingin menguasai benda atau tanah yang sudah diwakafkan dan menjadi milik Allah Swt.

Sangat diperlukan semangat kebersamaan diantara pengurus nazir dan BWI dalam menjaga harta benda wakaf, karena dalam perjalanannya pasti ada hal-hal yang harus diselesai dalam bidang perwakafan.

Mujahid-mujahid wakaf harus berjuang dalam memotivasi ummat untuk berwakaf, mengelelola benda wakaf, menjaga dan mengembangkan semua asset wakaf agar lebih bermanfaat bagi perekonomian ummat Islam.

Jika wakaf dikelola dengan baik dan benar maka in syaa Allah wakaf menjadi solusi ekonomi ummat.

Kesimpulan

Wakaf adalah suatu ibadah yang pahalanya terus mengalir kepada pewakif sampai dunia ini kiamat. Oleh karena itu ummat Islam harus membiasakan berwakaf.

Harta benda wakaf harus bersertifikat sehingga lebih aman dan nyaman dimasa yang akan datang.

Nazir dan BWI harus bersinergi dalam menjaga dan mengembangkan harta Allah Swt. yang masuk dalam lingkaran wakaf.

Wallahu A’lam

MPU Kota Sabang Silaturrahim ke MUI Sumut

0

muisumut.or.id, Medan,Rombongan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Sabang mengadakan kunjungan silaturahmi ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara di Jalan Majelis Ulama Nomor 3, Medan, Selasa (4/6).

Rombongan MPU kota Sabang dipimpin Ketuanya Tgk. Baharuddin bersama sejumlah pengurus di antaranya Tgk. H Kamaruzzaman, Tgk. Razali Luthan, Tgk Firdaus dan lainnya diterima Ketua Umum DP MUI Sumut Buya H Maratua Simanjuntak didampingi Sekretaris Umum Prof Asmuni, Bendahara Umum, H Sotar Nasution bersama dewan pimpinan lainnya.

Dalam sambutannya Ketua MUI Sumut menyampaikan beberapa agenda penting yang telah dilaksanakan sebagai pengejewantahan tugas pokok dan fungsi sebagai sebagai khadimul ummah (pelayan umat), himayatul ummah (pelindung umat), dan shodiqul hukumah (mitra pemerintah)

Ketiga peran ini, ungkap buya Maratua merupakan bagian penting dari peran ulama yang sejatinya menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

Dalam kesempatan itu Ketua MUI juga menjelaskan tentang pengalaman berharga ketika menghadapi gugatan yang dilakukan MPTTI yang sangat menguras perhatian, pemikiran dan lainnya mengingat prosws persidangan cukup panjang.

“Alhamdulillah berkat kesungguhan, niat baik serta dukungan segenap ormas Islam bersama seluruh umat, sehingga MUI dapat memenangkan gugatan,” ungkapnya.

Dia juga menjelaskan beberapa program yang dilaksanakan dan berjalan sangat baik di antaranya Pendidikan Tinggi Kader Ulama, pengelolaan potensi wakaf melalui P2WP, sertifikat halal, pembinaan ekonomi, gerakan melawan aliran sesat dam lain sebagainya.

Sementara Ketua MPU Sabang Tgk. Baharuddin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sambutan yang sangat baik dari MUI Sumut dan berharap hubungan silaturahmi dapat semakin baik lagi di masa datang.

Dia menyampaikan beberapa tujuan utama kedatangan bersama pengurus, pejabat Pemko Sabang dan anggota DPRK Sabang untuk belajar dan menggali ilmu tentang layanan sertifikat halal, program pengkaderan ulama maupun beberapa hal penting berkaitan pembinaan umat.

Pada pertemuan yang penuh keakraban itu juga dilaksanakan saling tukar cendramata dan foto bersama.()

MPU Kota Sabang, Aceh Apresiasi  Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumut

0

muisumut.or.id, Medan,  Pengurus Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Sabang, Aceh melaksanakan kunjungan Silaturrahim/ Kunjungan Kerja ke MUI Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa, 04 Juni 2024. Kunjungan yang di hadiri lebih dari 20 orang tersebut juga disambut seluruh Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara, Pertemuan strategis ini  membicarakan peran serta kelembagaan keulamaan dengan pembinaan umat, Peran MUI dalam pengurusan Sertifikat halal setelah adanya BPJPH Kemenag serta Pengkaderan PTKU pada MUI Sumatera Utara.

Setelah pertemuan sekitar 3 jam di ruang rapat aula lantai 2 MUI Sumut, pengurus MPU Kota Sabang mengunjungi Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumut. Sambil menikmati kopi yang disuguhi di Kewa cofeeshop, Tim Infokom menyempatkan untuk berincang bincang dengan Ketua MPU Kota Sabang, Aceh, Walid Baharuddin SH.

Walid Baharuddin menyampaikan kebahagaiaanya bisa berkunjung ke MUI Sumatera Utara, kita disambut dengan hangat dan banyak ilmu yang kita dapatkan

“Atas nama MPU kota Sabang sangat berbagia, karena kami banyak sekali mendapat ilmu, tadi dipertemuan kita mendapat pencerahan tentang sertifikat halal, bahwa MUI masih berperan aktif dalam proses sertifikasi halal, kami juga memperoleh masukan tentang tata laksana Pendidikan Kader Ulama, kami sangat terharu mendengar Pendidikan Kader Ulama yang bisa dilaksanakan selama tiga tahun, dan ini belum bisa kami laksanakan”   ujarnya

Ketua Bidang Infokom Akmaluddin Syahputra menjelaskan bahwa minimarket dan coffeshop yang ada di MUI Sumut dahulunya adalah bagian dari laboratorium PTKU. Laboratorium ini dulunya hanya bergerak di bidang minimarket yang bernama “halalmart”.

“Alhamdulilah saat ini Aset wakaf kita saat ini ada 563 juta dengan beberapa usaha yang semunya berbasis wakaf produktif, minimarket, cofeeshop, studio, advertising dan yang terakhir adalah kebun hidroponik”

Akmaluddin yang juga Direktur P2WP MUI Sumut menjelaskan bahwa minimarket mengelola produk produk UMKM lokal di Sumatera Utara, beberapa makanan dan minuman ringan, parfum, dan peci khas dari Kabupaten Batubara.

“kita berusaha semaksimal mungkin membantu memasarkan produk UMKM yang ada di Sumatera Utara baik langsung maupun dengan cara online, bahkan kita selalu melakukan bazar UMKM baik secara langsung dengan stand stand di halaman kantor, dan tempat lainnya, dan juga melalui studio podcast Kewa”

Pada kunjungan tersebut, Dr. Akmaluddin di dampingi oleh Dr. Irwansyah, Sekretaris Bidang Fatwa memberikan bingkisan berupa majalah majalah yang pernah di terbitkan oleh bidang Infokom serta memberika beberapa souvenir ke Pengurus MPU.

Nasehat Orang Tua Adalah Pintu Masuk Menuju Sukses

0

Alpin Akbar Hasibuan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Tanjung Balai.

 

Namaku Alpin Akbar Hasibuan, lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 21 Maret 2003. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Syahruddin Hasibuan dan Netty Herawati Sitorus. Alpin adalah sapaan akrabku ketika duduk di bangku sekolah jenjang SMP hingga Perguruan Tinggi, di rumah atau di kampung sapaan “uday”, belakangan saya bertanya kepada Ayah, mengapa nama itu tersemat kepada saya?. Ternyata nama ini diambil dari nama putra sulung “Saddam Husain” salah satu tokoh yang berpengaruh di Irak. Ayahku seorang wiraswasta, sementara ibu berperan sebagai pengurus rumah tangga. Sejak kecil, ayahku selalu menekankan pentingnya ketaatan dalam beribadah, khususnya dalam menjalankan salat, tidak peduli di mana dan kapan, selalu tetap teguh menjalankannya.
Pada saat usia enam tahun, saya memulai perjalanan pendidikan di SDN 138430 di Kecamatan Teluk Nibung, Kelurahan Pematang Pasir, Kota Tanjung Balai. Selama masa sekolah dasar, saya juga menuntut ilmu agama di siang hari selama empat tahun. Di kampung halaman saya, pendidikan agama itu dikenal dengan sebutan “Sekolah Arab”. Di malam hari, saya juga belajar mengaji Al-Qur’an bersama mu’allim kampung. Pada saat itu, saya sudah mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di kelas tiga SD. Keinginan untuk masuk pesantren sudah muncul sejak saat itu, dan berkat usaha keras kedua orang tua saya, impian itu terwujud. Pada tahun 2015, saya diterima di Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, yang terletak di Jalan Pelajar Timur Ujung no.264. Saya menghabiskan enam tahun menimba ilmu di pesantren tersebut. Di sana, saya tidak hanya memperoleh pengetahuan agama, tetapi juga pembentukan karakter yang kuat untuk menghadapi kehidupan. Selama liburan di pesantren, saya mengikuti program karantina tahfiz dua kali, dan hasilnya sangat memuaskan. Pada akhir tahun 2019, saya berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dengan sistem ziyadah. Berkah Al-Qur’an itu nyata terasa bagi saya, sebab hafalan tersebut saya mendapat reward dari pesantren. Ternyata, menghafal Al-Qur’an tidak mengganggu aktivitas akademik, melainkan justru meningkatkan kecerdasan akademik, hal yang saya rasakan secara langsung.
Awalnya, saya mendaftar untuk mendapatkan beasiswa santri berprestasi dan memilih Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Sebelumnya, saya telah mendapat izin dari ibu. Namun, setelah data pendaftaran saya diverifikasi, saya menerima telepon dari ibu yang memberitahu bahwa ia tidak mengizinkan saya karena masih masa pemulihan pandemi corona. Meskipun demikian, karena data saya sudah terverifikasi, saya tetap harus mengikuti ujian. Namun, hasil ujian tersebut menyatakan bahwa saya tidak lulus. Dari situ, saya semakin yakin bahwa ridha orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap segala sesuatu yang kita lakukan.
Di pesantren ini saya bertemu dengan salah satu alumni PTKU yang mengajar di pesantren. Saya mendapatkan info tentang Pendidikan Tinggi Kader Ulama, yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi yang fokus membahas masalah agama secara mendalam. Sebab latar belakang pendidikan pesantren maka saya mendaftar di perguruan tinggi tersebut. Setelah melalui proses yang panjang, pada tahun 2021 atas izin Allah saya terpilih menjadi salah satu mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama. Sejak SD hingga SMA selalu mendapat rangking 3 besar, perna ikut serta dalam lomba hifzilqur’an tingkat kecamatan kategori 1 juz. Alhamdulillah mendapat juara 3 dalam lomba tersebut, ketika tamat dari pesantren hasil dari ujian akhir di bidang agama mendapat peringkat ke dua.
Pesan yang selalu disampaikan “umik” (ibu), ketika hendak berangkat kembali ke pesantren: “belajar elok-elok day, jangan bacewek (pacaran), jangan sombong , kalo awak ramah orang pun sonang samo awak nak”

Saya Tau Saya Perlu Berjuang

0

Taufik Ismail Pohan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Padang Lawas.

Nama saya Taufik Ismail Pohan lahir di desa pangirkiran dolok,barumun tengah,Padang lawas,tepatnya pada Tanggal 23 April 2002. Saya anak Ketiga dari empat bersaudara buah hati dari Pasangan PORMEN POHAN dan ROKIMAH SIREGAR, TAUFIK adalah panggilan Akrab saya, dan terlahir di keluarga yang Sederhana, ayah Saya seorang petani. Sedangkan ibu, guru di sekolah dasar(SD) kampung kami, yang tidak jauh jaraknya dari rumah kami. Sejak kecil saya selalu dinasehati orang tua Untuk selalu rajin beribadah, kerja keras, jujur,dan baik terhadap orang lain.

Di waktu kecil saya seorang pengembala kambing dari pengalaman mengembala kambing tersebut banyak memberikan pelajaran hidup yang berharga termasuk kesabaran,tanggung jawab,dan kedisiplinan,menjaga kambing-kambing tersebut memerlukan kepatuhan dan rutinitas sehari-hari.kedisiplinan dalam merawat hewan ternak sangat penting untuk memastikan kesejahteraan mereka.
Ketika berumur 6 tahun saya memulai Pendidikan di SDN Pangirkiran dolok,Padang lawas, kemudian setelah lulus saya melanjutkan kePondok psantren musthafawiyah , purba baru,kecamatan lembah sorik merapi, kabupaten Mandailing Natal,selama 7(tujuh) tahun dan disitulah saya memulai hidup dengan mandiri, disana saya tinggal di pondok kecil (gubuk-kecil) yang mana pondok itu hanya berukuran sekitar 3×4 M, yang beratapkan daun pohon aren, tidur dengan tikar yang seadanya dan bantal yang kecil bahkan kadang-kadang tidak ada bantal karena di pakai kawan, dan disana saya itu memasak sendiri dengan alat masak yang sederhana, di pondok Itulah banyak kenangan yang pahit , manis dirasakan atau mungkin tidak pernah didapati lagi yang seperti itu dan tidak bisa dilupakan,sehingga melalui pelajaran hidup yang seperti itu kami disana tidak bisa bersifat Sombong kepada orang lain, peduli terhadap lingkungan dan lain-lain.
Pengalaman hidup di pondok pesantren telah membentuk saya menjadi pribadi yang Tangguh dan penuh empati.disana,saya belajar untuk hidup mandiri,menghargai kesederhana-an,dan peduli terhadap orang lain dan lingkungan.kenangan pahit manis dari masa itu telah mengajari saya nilai-nilai penting tentang rendah hati dan kepedulian,yang membentuk karakter saya untuk menjadi lebih baik.
Selain saya memiliki ketertarikan dalam bidang yang berhubungan dengan agama, saya juga hobby olahraga terutama bola kaki.bagi saya agama itu sangat penting dalam kehidupan karena tujuan hidup itu hanya akhirat bukan yang lain.
Dan sekarang saya mahasiswa di pendidikan tinggi kader ulama majelis ulama Indonesia Sumatera Utara(PTKU MUI SU) yang mana saya satu diantara 21 mahasiswa di pendidikan ini, disini kami memiliki fasilitas yang cukup memadai,ruangan kelas yang begitu nyaman,kamar yang adem, yang dilengkapi dengan adanya lemari masing-masing,Ac di setiap kamar,meja belajar pun ada,kamar mandi yang bersih,kami sangat bersyukur atas itu semua,dan disini kami di biayai penuh(full beasiswa).
Dan sekarang saya sudah berumur 22 tahun mudah-mudahan apa yang sudah di jalani di kehidupan ini menjadi iktibar bagi saya menjadi manusia yang lebih baik lagi.amiin.

Perjalanan Seorang Anak Petani Mengejar Mimpi

0

Roy Ismail Gajah, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Pakpak Bharat.

Nama saya Roy Ismail Gajah, lahir di Lae Marempat pada tanggal 24 April 2000. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayah saya bernama Nasrun Gajah dan ibu saya bernama Sarma Bancin. Saya dibesarkan di sebuah desa yang tidak terlalu besar, dekat dengan pegunungan yaitu di Desa Malum. Saya dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan didorong untuk mengejar pendidikan yang tinggi. Selama masa kecil saya hobi yang paling saya sukai ialah menyanyi baik itu lagu-lagu daerah maupun religius. Ketika hendak menyelesaikan pendidikan dasar, saya bermaksud melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP atau Tsanawiyah di salah satu pondok pesantren yang berada di Kabupaten Dairi. Di sana, saya menuntut ilmu selama enam tahun hingga menyelesaikan pendidikan SMA atau Aliyah pada tahun 2018.
Setelah lulus dari pendidikan menengah aliyah, saya mendaftar ke beberapa universitas di Padang dan Pekanbaru. Namun, karena belum ada jalan rezeki yang terbuka, saya tidak berhasil lulus di universitas tersebut. Hal ini menyebabkan saya mengalami periode di mana saya tidak melanjutkan pendidikan selama setahun penuh dan menjadi pengangguran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Selama periode tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman tentang betapa pahitnya menjalani kehidupan dan seberapa sulitnya mencari uang untuk sesuap nasi. Namun, hal itu tidak sebanding dengan perjuangan yang telah dirasakan oleh kedua orang tua, yang telah membesarkan saya sejak lahir hingga saat ini. Itulah juga yang mendorong saya untuk terus mengejar ilmu, agar saya dapat membuat kedua orang tua saya bahagia.
Pada tahun 2019, saya memutuskan untuk mengabdikan diri di pondok pesantren tempat saya dibesarkan. Selain mengabdikan diri di sana, saya juga bekerja sebagai pengajar dan dalam berbagai pekerjaan terkait dengan kegiatan pondok. Selama dua tahun tersebut, saya memperoleh banyak pengalaman yang berharga dari pengabdian saya, salah satunya adalah pemahaman akan pentingnya pendidikan yang tinggi atau memperoleh gelar akademis. Pengalaman ini menguatkan semangat saya dalam mengejar ilmu, dan mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan.
Pada tahun 2021, Majelis Ulama Indonesia membuka sebuah perguruan tinggi yang dikenal sebagai Pendidikan Tinggi Kader Ulama, memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk mengembangkan potensi mereka sebagai ulama yang siap membela agama, bangsa, dan negara. Saya tertarik dengan visi ini, sehingga pada tahun tersebut, saya mendaftarkan diri ke perguruan tinggi tersebut. Tujuan saya adalah untuk mendalami ilmu agama dan memperluas pemahaman saya, dengan harapan dapat mengembangkan dan berbagi pengetahuan yang saya peroleh, terutama di komunitas saya sendiri di kampung halaman. Dan hingga saat ini, saya masih belajar di Pendidikan Tinggi Kader Ulama tersebut, dan pada tahun ini, saya juga akan menyelesaikan pendidikan saya tingkat D3.

 

Perjalanan Pendidikanku

0

Hapijuddin Dalimunthe, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Labuhanbatu Selatan.

Nama saya Hapijuddin Dalimunthe, biasa dipanggil Hafidz. Saya lahir di Tj. Raya, 02 februari, 2002. Kami tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu peremuan. Saya merupakan anak bungsu, yang paling besar diantara kami ialah ialah laki-laki, ia bernama Sapruddin Rajo Ali Dalimunthe, dan yang kedua ialah perempuan bernama Sartika Dalimunthe. Saya lahir dari pasangan Asminan Dalimunthe dan Masriani Nasution, ayah saya seorang petani sedangkan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil ayah selalu menasehati kami agar jangan pernah meninggalkan sholat. Ayah saya selain petani ia juga guru mengaji bagi anak-anak yang ingin belajar di kampung itu. pernah satu ketika saat belajar mengaji dengan teman-teman dirumah ayah memarahiku karena bacaan yang slalu salah, aku berfikir bahwa ayahku pilih kasih karena hanya memarahiku seorang, saat sekarang saya sadar bahwa itulah kasih sayang seorang ayah jika ayah terus memanjakanku mungkin saat sekarang aku tidak lancar membaca Al-Qur’an.
Diusia 7 tahun, saya mulai mengenyam pendidikan di MIN 2 Pernantian. Dimana pada masa inilah diisi dengan bermain bersama teman-teman. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak disana bermain ke pekan melihat keramaian dan barang mainan yang dijual. Pernah suatu ketika kami tidak memiliki uang namun sangat ingin pergi ke pekan, akhirnya kami mencari ikan kesungai agar bisa dijual kepasar.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di MIN 2 Pernantian, mama saya awalnya berpikir agar saya sekolah di SMP di silangkitang, karena mama tidak ingin jauh dari anak terakhirnya, namun, keinginan untuk belajar di pesantren selalu membara dalam diri saya. Saya memaksa mama sampai menangis agar dia menyekolahkan ke pesantren, salah satu pesantren yang saya minati pada waktu itu adalah P.P. At-Thoyyibah Indonesia di Pinang Lombang, karena ayah saya sendiri salah satu alumni di pondok tersebut.
Disana banyak kenangan yang dirindukan, ada juga cerita lucu yang pernah saya alami saat di pondok itu. salah satunya, saya punya teman sekampung yang bernama Rosanul Fuadi Rambe, pada saat itu ia sangat rindu kepada orang tuanya dia menemui saya ke lapangan bola dan mengajak pergi ke asrama, saat tiba di asrama ia bertanya sambil menangis “ndak rindu kau Fidz”, saya menjawab “rindu” diapun mengajak saya menangis. kami berdua memiliki sifat pemalu. Karenanya kami mengunci pintu agar orang tidak tahu kami menangis sebab rindu kepada kedua orang tua. Saat kami benar-benar menangis tiba-tiba abang asrama datang, ia menggedor pintu lalu kami mengusap air mata sambil tertawa agar dia tidak tahu baha kami sedang menangis, ketika pintu dibuka dia bertanya “kenapa mata kalian, habis nangis klen ya ?. “tidak bang” jawab kami serentak. Kemudian Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia tahu kami sangat rindu sampai menangis. Sebab ia tentu sudah melewati masa-masa seperti kami. Kemudia ia meninggalkan satu nasihat “sungguh-sungguhlah la kalian belajar, buat bangga orang tua kalian, agar rindu kalian tidak sia-sia.
Ketika menginjak kelas IX, saya mengikuti lomba takraw antar kelas di P.P. At-Thoyyibah dan menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Pada tahun 2017, saya lulus dari sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu di P.P. Darul Ma’arif Basilam baru. model pendidikan berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi saya, banyak pelajaran yang tidak saya pelajari dipondok sebelumnya. Untuk megejar ketertinggaan pelajaran, saya menghabiskan waktu-waktu di luar jam pelajaran untuk belajar bersama ustadz-ustadz yang ada disana. Bahkan Saat teman-teman saya tidurpun saya tetap belajar. Dimasa itu Ada kalam guru yang selalu saya ingat salah satunya dari ayah taisir “jadilah pintar merasa bukan merasa pintar.
Di P.P. Darul Ma’arif banyak terlukis kenangan manis. Saat itu saya pernah menjuarai MTQ tingkat kecamatan bidang tilawah tingkat remaja putra, menjadi santri kepercayaan dalam olahraga badminton hingga masa itu saya diikut sertakan dalam latihan intensif sebagai persiapan agar bisa menjadi salahsatu pemain dispora labuhan batu selatan. Selain itu saya aktif mengikuti organisasi pesantren. Dalam beberapa kesempatan saya jupa kerap diutus oleh pesantren untuk mengikuti dakwah ke berbagai pelosok desa, dalam kegiatan-kegiatan itu saya sering menjadi pembaca al-Qur’an dan vokalis marawis. Hal ini ditujuan agar masyarakat melihat kemampuan santri-santri P.P. Darul Ma’arif.
Tiga tahun menimbah ilmu di P.P. Daru ma’arif akhirnya saya menjadi alumni (lulus tahun 2020). Masa itu sedang marak-maraknya kasus covid 19. Jadi bisa dikatakan kami ini adalah angkatan covid 19. Masa itu saya dilanda kebingungan, sebab tidak tahu harus lanjut pendidikan kemana. Mengisi kekosongan, saya menyampaikan keinginan untuk menghafal al-Qur’an, akhirnya saya dimasukkan ke P.P tahfidz Abul yatama al-Musthofa langkat. Disana saya mengikuti program tahfidz selama delapan bulan, selama delapan bulan itu Alhamdulillah saya menghafalkan 8 juz.
Melihat abang saya yang lulusan pendidikan formal, saya berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, saat itu tepat dengan beredarnya informasi pembukaan pendaftaran mahasiswa baru di kader ulama MUI SUMUT. Akhirnya saya mengikuti seleksi itu atas saran abang saya, ia adalah alumni dari kampus itu.
Alhamdulillah saya lulus, sampai sekarang saya berada disemester akhir dan dalam waktu dekat akan wisuda

WAHABI, Very Simplistic

WAHABI, Very Simplistic

Oleh: H. Hasan Bakti Nasution

Catatan ini merupakan lanjutan catatan sebelumnya yang berjudul Wahabi a History. Edisi catatan kedua ini mengambil judul di atas, yaitu Wahabi dipandang terlalu simplistic, yaitu terlalu menyederhanakan suatu kata dan konsep. Beberapa contoh dapat dijadikan sebagai argument statemen ini. Pertama, kata bid’ah diartikan dengan segala sesuatu yang tidak pernah terjadi pada zaman Nabi, sehingga menarik kesimpulan yang generalistik, yaitu segala yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi berarti bid’ah.

Akibatnya membid’ahkan semua yang terjadi hari ini, jika tidak pernah terjadi pada zaman Nabi. Ironinya kemudian terjebak pada konsep sendiri, yaitu kecuali teknologi (kulluhum bid’ah illa tecknoloziyah). Padahal masih terdapat makna bid’ah lain, misalnya “sesuatu yang tidak menyalahi syariat (mala yukhalifu as-syar’a).

Kedua, mengeneralisasi arti kata “kullu” dengan “semua’ pada kalimat “kullu bid’atin dhalalah” (semua bid’ah itu sesat). Padahal tidak semua kata kullu (semua) dengan makna kullu (semua), ada makna lain, yaitu sebagian besar, artinya masih ada sebagaian kecil yang tidak termasuk dalam lingkupannya. Misalnya kata kullu pada al-Qur’an surat al-Kahfi/18: 79, yang mengatakan “ya’khuzu kulla safinatin ghashaba” (mengambil semua sampan secara paksa).

Fakta menunjukkan bahwa yang diambil hanyalah sampan yang masih utuh tanpa cela, sedangkan sampan yang sudah rusak walau sedikit tidak diambil paksa, dan karena itu Nabi Hidhir merusak sampan yang ditomangi Bersama Nabi Musa, agar tidak diambil paksa pengasa di tempat tujuan.

Kasus lainnya ialah pada surat al-Anbiya’/21: 30, yang mengatakan: “waja’al-Na minal ma’i kulla syai’in hayyin” (Kami jadikan dari air semua menjadi hidup). Jika makna kulla di sini diartikan secara general (semua), akan bertentangan dengan fakta empiris, bahkan tidak semua yang ada dijadikan dari air. Misalnya, syetan diciptakan dari api, malaikat dari nur, dan sebagainya. Berarti kullu dalam ayat tersebut bermakna “sebagian besar”, bukan “semua”.

Akibatnya terjadilah generalisasi, yaitu setiap bid’ah sesat. Jika saja makna kullu tidak dimaknai secara generalistik sesuai makna al-Qur’an di atas, akan lahir konsep lain tentang bid’ah, yaitu yang tidak menyalahi syariat. Tapi makna ini gagal dilahirkan karena simplistikasi tersebut.

Cara pandang yang simplistik juga nampak ketika melihat sumber hukum Islam, yaitu berorientasi pada prilaku Nabi semasa hidupnya. Hal ini dijadikan sebagai penafsir utama dalam memahami al-Qur’an dan hadits di luar hadits fi’liyah, sehingga perintah al-Qur’an dianggap berlaku (tanfiz) jika pernah dilakukan Nabi. Misalnya, perintah berdo’a pada beberapa ayat al-Qur’an seperti surat al-Mukmin/40: 60. Ayat ini dianggap tidak memiliki daya perintah (amar) jika tidak pernah dipraktekkan Nabi Muhammad semasa hidupnya.

Jadi, jika ada orang yang berdo’a habis shalat berjamaah dianggap bid’ah, hanya karena tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat. Padahal aktifitas berdo’a ini dilakukan sebagai aplikasi dari perintah al-Qur’an tentang berdo’a, seperti termaktub pada surat al-Mukmin/40: 60 di atas. Adapun berjamaahnya dikiaskan kepaad shalat yang dianjurkan berjamaah.

Lalu pertanyaannya, mengapa cara pandang yang simplistic ini digunakan ?.

Tentu banyak probobilitas jawaban, misalnya, simplikasi bisa disebabkan oleh tidak mau repot-repot mengkaji dalil yang ratusan tahun, cukup melihat seorang Ibn Taimiyah saja. Tidak mau repot-repot ini bisa juga diakibatkan oleh wawasan yang lemah atau dangkal, bisa juga karena ingin tasahul dalam beragama. Mungkin banyak jawaban lainnya, tapi menurut saya begitulah, dan itulah catatannya.

Dimana Ada Kemauan Disitu Ada Jalan

0

Kholid Jamhuri Harahap, mahasiswa MUI SUMUT utusan MUI Tapanuli Selatan.

Nama saya Kholid Jamhuri Harahap, saya lahir di Desa Nanggar Jati Huta Padang, pada 1 November 2002. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan almarhum Bapak Lapangan Harahap dan Ibu Nur Kholilan Siregar. Di kampung, saya sering dipanggil dengan nama Jamhuri, sedangkan di kampus saya dipanggil dengan nama depan saya, Kholid. Saya berasal dari keluarga sederhana; ayah saya seorang guru ngaji di kampung, dan ibu saya seorang petani. Sejak kecil, saya selalu dinasihati oleh ayah saya untuk selalu beribadah, jujur, dan baik terhadap sesama.
Ketika saya berumur enam tahun, saya memulai pendidikan di TK Hanopan Desa Aek Haminjon dari tahun 2008-2009. Setelah lulus, saya melanjutkan pendidikan ke SDN 100409 Huta Padang, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, dari tahun 2009-2015. Kemudian, saya melanjutkan sekolah ke Pesantren Modern Mangaraja Panusunan Achir Hasibuan Gunung Tua Pargarutan dari tahun 2015-2018, dan selanjutnya ke Pesantren Zakiyun Najah Sei Rampah dari tahun 2018-2021. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S1 di Pendidikan Tinggi Kader Ulama Provinsi Sumatera Utara (PTKU SU) dari tahun 2021-2024.
Waktu saya masih duduk di bangku SD, almarhum ayah saya berpesan, “Bersungguh-sungguhlah dalam belajar karena penyesalan selalu datang di akhir, Nak.” Kata-kata itulah yang selalu saya ingat ketika saya mulai goyah dalam belajar. Ketika ayah saya meninggal saat saya duduk di bangku Tsanawiyah kelas VIII, dunia ini terasa hampa. Hampir setiap hari saya menangis dan menganggap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk saat tidur. Melihat kondisi saya yang uring-uringan seperti itu, kakak saya menasihati saya dan berkata, “Kita semua merasa kehilangan, tapi jika bersedih terus, maka tidak akan mengubah apapun juga karena semua ini ketetapan Allah.” Mulai dari situ, saya perlahan bangkit dan mulai menjalani kehidupan seperti biasa. Walaupun terasa berat pada awalnya, perlahan tapi pasti, akhirnya saya dapat menerima kepergian ayah saya untuk selamanya.
Dengan perjalanan yang tidak mudah dan penuh tantangan untuk sampai di titik ini, mengingat saya adalah anak laki-laki sematawayang kedua orang tua saya yang harus bertanggung jawab atas keluarga saya semenjak ayah saya meningeal, ibu, kakak dan adik saya menaruh harapan besar kepada saya agar saya menjadi orang yang sukses. Setiap saya hendak pulang kampung dari kampung ke medan ibu saya selalu berpesan “selalu niatkan untuk menuntut ilmu jangan pernah ubah niat mu dan jangan tinggalkan sholat, perkara mau jadi apa kita di masa depan itu urusan Allah Swt.” Kata-kata itulah yang selalu mendongkrak semangat saya Kembali Ketika saya sedang malas dalam belajar. Dan saya berpesan kepada seluh pembaca tetaplah bersyukur sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi dan jalani, karna waktu itu cepat berlau dan berubah. Kesuksesan hanya datang kepada orang yang berusa dan bekerja keras bukan kepada orang yang duduk diam dan bermalas-malasan.

Perjalanan Hidupku

0

Ahmad Fauzi Panjaitan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Asahan.

Nama saya Ahmad Fauzi Panjaitan, biasa dipanggil fauzi. Saya lahir 23 september 2001 sei paham psr kanan Dsn VI Asahan. Saya anak ke 7 dari 7 bersaudara, 5 perampuan dan 2 laki-laki, SD saya sekolah nurul huda di sei paham, lulusan tahun 2013. SMP/SMA saya pindah ke medan, SMP saya di pesantren modern fajrul iman patumbak deli Serdang, lulusan tahun 2017. SMA saya di pesantren modern mawaridussalam batang kuis deli Serdang, lulusan tahun 2019-2020. Setelah saya tammat sekolah, saya masuk pesantren tahfidz az-Zaitunah di hamparan perak, lulusan tahun 2021.
Saya memiliki cita-cita dari kecil hingga sampai sekarang pingin masuk tantara (TNI), kenapa saya ingin masuk TNI? Kerna saya trinspirasi melihat seorang tantara membantu orang yg kesusahan dan membela tanah air yaitu Indonesia. Tapi orang tua saya tidak setuju masuk TNI kerna itu terlalu berbahaya dan membuat hilang nyawa saya, orang tua saya berkata : mau rupanya kau nanti ketika kami meninggal tidak ada mensholatkan kami, kerna kami ingin kalian anak laki dua-duanya yg mensholatkan kami jangan sampai orang lain yg menjadi imam kami ketika kami tiada. Saya pergi kesuatu tempat untuk merenungkan diri dan disitu saya di hampiri kakak saya yang bernama Erna Panjaitan, dia menceritakan tentang betapa susahnya orang tua yang melahirkan saya, kerna di masa kau jadi bayi dek itu darah keluar dari lubang hidung setiap malam sehingga di Tengah malam ayah berjalan kaki dan hujan lebat datang, dan ayah terus mencari obat walaupun tidak ada lampu di waktu itu tapi ayah berjuang untuk mencari obat supanya anaknya biar hidup.
Dan saya setelah tammat mondok tahfidz langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih serius yaitu kuliah di Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Provinsi Sumatera Utara. Selain sebagai mahasiswa saya juga di tuntut untuk mengabdikan diri atau berdakwah ke Daerah minioritas, karena memang dakwah adalah jurusan yang saya ambil untuk melanjutkan ilmu yang sudah pernah dapat dari pesantren dahulu.
Dari rencana besar perjalanan hidupku adalah setelah lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan, saya akan mengabdikan diri atau berdakwah di daerah minioritas sesuai bakat dan bidang dengan jurusan yang saya tekuni selama masa kuliah yaitu jurusan Dakwah, karena itu adalah keinginan kedua orang tua saya sebagai pendakwah.