Monday, March 9, 2026
spot_img
Home Blog Page 74

P2WP MUI Sumut menerima Wakaf Pohon Anggur

0

muisumut.or.id Medan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara menerima wakaf produktf berupa budidaya anggur khas dari Sumut di Sekretariat P2WP MUI Sumut Jalan Majelis Ulama Nomor 3 Medan, Senin (6/5/2024).

“Alhamdulillah hari ini kami menerima wakaf produktif berupa bibit anggur dan diharapkan ini akan menjadi ajang promosi budidaya anggur dan semoga dapat terus berkembang,” kata Direktur P2WP MUI Sumut, Dr H Akmaludin Syahputra.

Dia menyampaikan itu usai menerima wakaf 10 bibit anggur dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, HM Husni, Sekretaris Bidang Ekonomi MUI Sumut Putrama Alkhairi, Ketua Komisi Ekonomi,  Dr. Indra Utama, Sekretaris Bidang Fatwa Dr Irwansyah MHI dan Sekretaris Bidang Pendidikan Dr Arifinsyah.

Kita sangat mengapresiasi kepada berbagai pihak yang aktif mendukung gerakan pemberdayaan wakaf produktif diberbagai bidang.

P2WP MUI Sumut yang dikelola berbasis wakaf Produktif terus berupaya mengedukasi dan memberdayakan ekonomi dengan berkolaborasi dengan bidang Ekonomi MUI Sumut, PINBAS dan lembaga lainnya.

“Jika ada yang ingin informasi  atau tanya tanya seputar budaya anggur bisa datang ke P2WP atau langsung hubungi Bapak Roy. InsyaAllah kami akan bantu dari awal hingga panen”  Pungkas Akmal

Sementara Bapak Roy selaku pengelola budidaya anggur kepada Mediasumut menjelaskan, saat ini ada sekitar 60 jenis bibit anggur dari berbagai jenis varian yamg merupakan hasil perpaduan pohon anggur sehingg menghasilkan buah anggur yang dijamin manis dan lezat.

Dalam pengembangan budidaya anggur ini, pihaknya juga menawarkan panen anggur secara langsung sambil menikmati suasana yang teduh, rindang di bawah pohon anggur yang ditata apik.

“Pengunjung juga bisa menikmati berbagai hidangan khas dari olahan anggur yang lezat dengan harga cukup terjangkau”sebut Pak Roy.

Disampaikan pengelola Jagadfarm07 yang berlokasi di kawasan Tandem Kabupaten Langkat ini, pihaknya juga menyediakan bibit anggur pilihan sekaligus memberikan pendampingan kepada warga agar tanaman anggur yang dikelola warga dapat memberikan hasil memuaskan. (S. Ramadhan

MUI Sumatera Utara sampaikan Fungsi Masjid sebagai Wadah Pembinaan Umat  Pada Acara Pembinaan Masjid Percontohan

0

muisumut. or. id, Medan, MUI Sumatera Utara sebagai Narasumber pada acara Pembinaan masjid Percontohan yang diikuti oleh BKM se-Sumatera Utara di Nivia Hotel Medan. MUI sampaikan topik Fungsi masjid sebagai wadah pembinaan umat.

Acara yang diikuti oleh BKM masjid-masjid dari berbagai Kab/Kota di Sumatera Utara termasuk masjid Agung.

MUI Sumatera Utara, diwakili oleh Dr. H. Arso, SH., M.Ag menyampaikan bahwa dalam catatan Sejarah sebagaimana dikutip dalam Tafsir al-Misbah Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab bahwa fungsi masjid itu tidak hanya terbatas pada tempat shalat saja. Masjid juga adalah tempat Pendidikan, tempat penyelesaian sengketa, memberikan santunan sosial, tempat Latihan militer, pusat Kesehatan, tempat tahanan, juga tempat penampungan sepertihalnya juga tempat istirahat untuk umat Islam musafir.

Karena itu, seyogianya pengurus masjid hendaknya memaksimalkan fungsi masjid agar dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Seharusnya BKM harus benar-benar memahami bahwa masjid itu adalah sebagai pusat peradaban yang peruntukannya tidak sebatas tempat ibadah shalat semata. Arso juga menambahkan bahwa masjid ini perlu dihidupkan, jangan sampai masjid dibangun indah namun isinya tidak ada. Orang yang shalat dan melaksanakan ibadah sunyi padahal masjid semakin megah dan bagus serta indah apalagi sekarang masjid-masjid sudah dilengkapi dengan AC sehingga menambah rasa nyaman Masyarakat yang melaksanakan ibadah shalat disana. Memakmurkan masjid itu tidak hanya sebatas membangun dan mempercantiknya, namun yang paling penting adalah memakmurkannya dengan menghidupkan kegiatan ibadah dan pembinaan umat. jika dilihat masjid Jogokariyan di Jogjakarta yang mendesain masjid menjadi pusat kesejahteraan masyarakatnya di sekitaran masjid (Jemaah masjid). Ujar Arso.

Diskusi hangat sampai malam pada sesi dialog yang langsung dipandu moderator Dr. Irwansyah, M.H.I yang merupakan Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara.

Acara yang diselenggarakan oleh Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara ini penting untuk memberikan pencerahan kepada BKM masjid-masjid serta juga mendongkrak kreatifitas BKM dalam mengembangkan masjid dengan potensi-potensi yang ada sebagaimana dipapar Narasumber, pungkas Irwansyah

SHALAT SUNAT KAFARAH AKHIR RAMADHAN HARAM DIAMALKAN.

0

muisumut.or.id-Medan, Shalat kafarah atau baroah yang viral di media sosial yakni shalat sunat yang dilaksanakan di akhir Ramadhan pada hari Jumat menjadi perbincangan public dan memunculkan kontroversial di masyarakat. Shalat tersebut diiformasikan akan menghapuskan/melunasi shalat-shalat yang tertinggal selama setahun yang lalu. Merespon hal ini Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara melaksanakan bincang fatwa di Studio Podcash MUI Sumatera Utara dengan Narasumber Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara Dr. H. Muhammad Nasir, Lc., MA. Muhammad Nasir menjelaskan bahwa shalat sunat baroah tersebut memang ada riwayat didapati dalam kitab yang ditulis Imam as-Syaukani namun dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa status hadisnya adalah palsu (maudhu’). Karenanya tidak boleh dijadikan sadaran hukum dalam melaksanakan ibadah. Shalat ini juga dibahas dalam berbagai kitab para ulama diantaranya dalam kitab Ianah at’Thalibin karya Bakri Muhammad Syatha yang menjelaskan bahwa melaksanakannya adalah bid’ah mazmumah. Karena itu tidak boleh dilaksanakan. Muhammad Nasir juga menambahkan bahwa ini akan membuat orang malas shalat serta membuka peluang orang untuk mudah meninggalkan ibadah shalat ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara, Drs. H. Ahmad Sanusi Luqman, Lc., MA menambahkan bahwa terhadap shalat yang ditingalkan baik sengaja maupun tidak sengaja solusinya adalah diganti (diqadha). Dan pelaksanaan qadha shalat ini tidak terikat dengan waktu. Artinya, shalat zuhur boleh di ganti (qadha) kapan saja termasuk pada waktu shalat asar dan begitu juga sebaliknya. Karena itu umat Islam tidak boleh mengamalkan ibadah yang tidak jelas dasar hukumnya seperti shalat kafarah yang sedang hangat dibincangkan tersebut. Shalat yang ditinggalkan wajib diganti(qadha) bukan dengan shalat sunat sekali saja seperti shalat kafarah lantas semua shalat yang ditinggalkan menjadi lunas. Ungkapnya

Acara tersebut ditutup dengan closing statemen Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumatera Utara Dr. Irwansyah, M.H.I yang mengatakan bahwa kesimpulan dari kedua Narasumber bahwa shalat kafarah tidak ada dasar hukumya, tidak boleh diamalkan dan umat Islam yang shalatnya tertinggal solusinya adalah di qadha saja. Tutupnya di akhir bincang fatwa tersebut pada Kamis, 24 Ramadhan 1445.

Menebar Kebaikan di Bulan Ramadan: UPZ MUI Sumut Salurkan Sembako dan Uang Tunai

0

muisumut.or.id-Medan, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) MUI Sumatera Utara (Sumut) menggelar kegiatan berbagi pada tanggal 3 April 2024, bertepatan dengan 23 Ramadhan 1445 H, di Aula MUI Sumut. Acara ini merupakan bagian dari upaya UPZ MUI Sumut untuk menyalurkan niat baik para muzakki kepada para mustahik atau penerima manfaat.

UPZ MUI Sumut menyebarkan bantuan berupa sembako, meliputi 5kg beras, 2 liter minyak makan, dan uang tunai sebesar 100 ribu rupiah kepada 120 mustahik yang hadir dalam acara tersebut.

Dalam pengantar yang disampaikannya, Ketua UPZ MUI Sumut, K. H. Akhyar Nasution, Lc, M.A, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh para muzakki kepada UPZ MUI Sumut. Kepercayaan ini menjadi landasan bagi kami untuk aktif dalam menyampaikan niat baik tersebut. Selain itu, beliau juga menyampaikan harapannya agar kegiatan sejenis ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat yang signifikan bagi seluruh pihak.

“Dengan tulus kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh para muzakki kepada UPZ MUI Sumut. Kepercayaan ini memungkinkan kami untuk berperan aktif dalam menyalurkan niat baik mereka. Semoga kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang besar bagi semua pihak. “Ungkap K.H. Akhyar”.

Tidak hanya dihadiri oleh Ketua UPZ MUI Sumut, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Baznas Provinsi Sumatera Utara, Prof. Dr. Moh. Hatta, MA. Dalam sambutannya, beliau menyoroti kelebihan ibadah zakat, menyatakan bahwa orang yang memberikan zakat pasti akan merasakan kebahagiaan, serta mengingatkan pentingnya kesediaan untuk bersedekah tanpa menunggu kekayaan.

“Kita tidak harus menunggu kekayaan untuk bisa bersedekah. Kehadiran kita di sini hari ini adalah momentum untuk memahami betapa pentingnya sikap dermawan dan kesediaan untuk berbagi kepada sesama.” Ungkap Prof. Hatta.

Turut hadir pula Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, yang menegaskan tugas dan fungsi MUI dalam menjaga aqidah umat Islam serta pentingnya menjaga kesejahteraan ekonomi umat. Beliau berharap agar UPZ MUI Sumut dapat terus memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi umat.

“Dalam menjaga aqidah umat Islam, kami dari MUI Sumatera Utara menegaskan pentingnya peran serta dalam menjaga kestabilan keimanan. Tidak hanya itu, kami juga menggarisbawahi pentingnya aspek kesejahteraan ekonomi umat. Kami berharap UPZ MUI Sumut dapat terus melahirkan manfaat yang semakin besar bagi kesejahteraan umat secara keseluruhan.”

Acara ini dihadiri oleh Muzakki Hj. Elliya Rosnita Hasibuan, 120 penerima manfaat, serta pengurus Bidang/Komisi MUI Sumut, yang menyaksikan secara langsung proses penyaluran bantuan yang dilakukan oleh UPZ MUI Sumut.

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan umat dan memperkuat tali persaudaraan antar sesama umat Islam di Sumatera Utara. (Yogo Tobing)

Puasa dan Kesehatan Saraf Manusia: Mengungkap Manfaat Kesehatan dari Perspektif Medis

0

muisumut.or.id-Medan, 25 Maret 2024 – Sebagai narasumber kedua pada Muzakarah Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara pada  24 Maret 2024, Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.BS (K), Kepala Program Studi Divisi Neuroonkologi Ilmu Bedah Saraf RSUP H. Adam Malik, memberikan pemahaman mendalam mengenai hubungan antara puasa dan kesehatan saraf manusia. Dalam paparannya, Prof. Ridha mengungkap beragam manfaat kesehatan yang diperoleh dari kegiatan puasa yang rutin dilakukan.

Puasa, yang secara sederhana didefinisikan sebagai kegiatan di mana seseorang secara sengaja menahan diri untuk tidak makan dan minum dalam durasi tertentu, ternyata membawa sejumlah manfaat signifikan bagi kesehatan tubuh, khususnya dalam menjaga kesehatan otak dan saraf kita. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa puasa memiliki dampak positif terhadap fungsi kognitif dan kesehatan saraf manusia.

Beberapa manfaat puasa bagi kesehatan secara umum yang disampaikan oleh Prof. Ridha antara lain:

  1. Meningkatkan kolesterol baik dan menurunkan kolesterol jahat.
  2. Menurunkan kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes mellitus.
  3. Menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi stres kejiwaan.
  4. Menurunkan berat badan dengan efektif.

Namun, fokus utama dari paparan Prof. Ridha adalah mengenai manfaat puasa yang spesifik bagi kesehatan saraf manusia. Berikut adalah beberapa poin yang dijelaskan oleh beliau:

  1. Memperbaiki Sel Otak: Puasa telah terbukti mampu memperbaiki sel otak dan meningkatkan fungsi kognitif.
  2. Lebih Tahan terhadap Stres: Puasa dapat membuat sel saraf di otak lebih tahan terhadap stres, sehingga mengurangi risiko kerusakan otak.
  3. Mengurangi Kerusakan Otak: Puasa sebelum stroke iskemik dapat mengurangi kerusakan otak dan meningkatkan pemulihan pascastroke, serta mengurangi risiko komplikasi stroke.
  4. Mencegah Penyakit Otak Degeneratif: Puasa dapat memperlambat penuaan, mencegah sindrom metabolik, dan membantu mencegah serta mengobati penyakit otak degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Prof. Ridha juga menyampaikan bahwa puasa merangsang produksi protein dalam sel saraf yang disebut Brain-derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein ini memainkan peran penting dalam proses belajar dan memori, serta dalam pembentukan sel saraf baru di hippocampus, bagian otak yang bertanggung jawab atas pembelajaran dan memori.

Studi yang dilakukan pada hewan menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dapat meningkatkan daya ingat atau memori, tetapi juga dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres dan mengurangi risiko penyakit otak degeneratif.

Dengan demikian, paparan Prof. Ridha memberikan wawasan yang mendalam mengenai hubungan antara puasa dan kesehatan saraf manusia, serta menggarisbawahi pentingnya menjaga pola puasa yang sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan dan perawatan kesehatan yang holistik. (Yogo Tobing)

Muzakarah Kedua MUI Sumatera Utara: Amalan Prioritas Umat Islam Selama Bulan Ramadan

0

muisumut.or.id-Medan, Muzakarah kedua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara digelar dengan khidmat di Aula MUI Sumut pada tanggal 24 Maret 2024. Acara yang berlangsung ini dipandu oleh Dr. Ikbal Habibi Siregar, M.Pd., menyoroti beragam amalan prioritas dalam menyambut bulan penuh berkah tersebut. Narasumber pertama, Dr. H. Muhammad Nasir, Lc., MA, memberikan paparan mengenai praktik-praktik ibadah yang disarankan selama bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, yang memiliki makna mendalam dalam ibadah dan spiritualitas umat Islam, menjadi momen penting untuk memperdalam hubungan dengan Allah SWT. Berikut adalah beberapa amalan yang menjadi prioritas dan dianjurkan selama bulan suci tersebut:

  1. Puasa Ramadhan: Puasa Ramadhan bukan hanya sebuah kewajiban bagi umat Islam, namun juga merupakan momen penyucian diri. Dengan makna simbolis yang mengajarkan untuk ‘membakar’ dosa-dosa, puasa Ramadhan menghadirkan kesempatan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.
  2. Shalat Tarawih: Menunaikan shalat Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun jumlah rakaatnya bervariasi, melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid menjadi suatu keutamaan yang patut diikuti.
  3. Sedekah: Memberi sedekah, baik berupa uang maupun bantuan lainnya, menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Pahala sedekah di bulan Ramadhan dilipatgandakan, sehingga menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
  4. Tilawah Al-Qur’an: Membaca dan mempelajari Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan pada bulan suci ini sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan membacanya akan mendatangkan pahala dan ketenangan hati.
  5. I’tikaf: Beri’tikaf di masjid menjadi amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Ini merupakan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berdiam diri di masjid dalam rangka ibadah.
  6. Melakukan Umrah: Melaksanakan umrah di bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Umrah di bulan suci ini dianggap setara dengan ibadah haji, sehingga menjadi kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
  7. Meningkatkan Keimanan: Bulan Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan keimanan, berdoa, merenungkan, dan memperbaiki diri. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Amalan-amalan ini menjadi prioritas utama bagi umat Islam selama bulan Ramadhan. Dengan melaksanakannya dengan ikhlas dan konsisten, umat Islam diharapkan dapat memperoleh banyak pahala serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (Yogo Tobing)

RAMADHAN, BUKTI KASIH SAYANG ALLAH

0

RAMADHAN, BUKTI KASIH SAYANG ALLAH

Oleh : Hasan Bakti Nasution

ekilas puasa Ramadhan akan difahami sebagai kesulitan bagi manusia, karena harus menahan lapar dan haus selama 13 jam lebih. Begitu teganya Tuhan, begitu kaum ateis menafsirkan. Tetapi jika dimaknakan secara lebih dalam dapat disimpulkana bahwa sesungguhnya puasa adalah bukti kasih sayang Allah, sesuai judul di atas.

Mengapa ?

Karena melalui puasa Ramadhan manusia diberi kesempatan untuk menyeimbangkan kebaikan dan kejahatan. Jika masuk surga yang menjadi target akhir dan itu bisa diraih jika “kebaikan mengungguli kejahatan”, atau “kebaikannya lebih banyak, lebih berat timbangannya dibanding kejahatan”.

Jika sudah bicara kuantitas dan kualitas, Ramadhan akan memberikan banyak fasilitas kepada manusia. Pertama, ibadah sunat selama Ramadhan akan dibalas dengan pahala seperti ibadah wajib. Kemudian, ibadah wajib akan dibalas dengan 10 kali lipat. Jika melaksanakan kewajiban selama satu bulan Penuh di bulan Ramadhan, maka akan memperoleh pahala sama dengan 10 bulan. Jika satu tahun 12 bulan, berarti 10 bulan sudah dilakukan dengan tingkat kebaikan yang maksimal.

Di sini lain, pada bulan Ramadhan Allah memberi peluang lainnya, yaitu malam Lailatul Qadar yang beribadah pada malam tersebut pahalanya sama dengan beribadah 1000 bulan atau sekitar 84 tahun. Jadi selama 84 tahun kita sudah melakukan kebaikan.

Sangat luar biasa tentunya kasih sayang Allah kepada kita. Oleh karena itu, mari memaksimalkan tawaran Ramadhan, di siang hari kita berpuasa, di malam hari qiyamullail, membaca al-Qur’an, memperbanyak bersedekah dan ibadah kebajikan lainnya, sehingga pahala beribadah 10 bulan dapat diraih. Kemudian, prinsip dalam beribadah ialah “I’mal li akhiratika kannaka tamutu ghada”, beramal untuk akhirat seolah-olah mati besok.

Maka mari beriirnsip seolah ini Ramadhan kita yang terakhir, sehingga kita melakukan ibadah secara maksimal. Tentu kita tetap berdo’a seperti tahun lalu, kiranya usia kita dipanjangkan Allah sehingga bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang (1444/2023).

Jadi Ramadhan adalah bukti kasih sayag Tuhan dengan memberi kita banyak pelung untuk meraih surganya. Semoga !.

MENGAPA TAKWA SEBAGAI TUJUAN PUASA ! By Hasan Bakti Nasution

0

Catatan Harianku;S enin, 18 Maret 2024

muisumut.or.id, Salah satu pertanyaan ketika membaca ayat tentang puasa Ramadhan ialah tentang tujuan berpuasa, yaitu mengapa “taqwa” yang dijadikan sebagai tujuan berpuasa. Mengapa misalnya “agar beruntung”, “agar bahagia”, dan sebagainya. Yang namanya filsafat ya begitulah terus ditanya dan ditanya sampai tidak mungkin lagi ada pertanyaan.

Kembali ke judul di atas, jawaban sederhananya ialah karena peraih gelar taqwa akan beroleh kemudahan urusan di dunia dan akhirat. Di dunia akan memperoleh jalan keluar dari setiap persoalan hidup, sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq/65: 2, yang artinya: “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluarg baginya”.

Kemudian di akhirat, orang bertaqwa akan masuk surga, juga sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat al-Hajar/: 45, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga-surga dan dekat mata air yang mengalir”.

Jika kemudahan hidup diraih di dunia, lalu apa lagi yang yang terbaik selain itu. Begitu juga, jika masuk surgalah yang menjadi cita-cita ideal, ternyata sudah dapat diraih oleh orang bertaqwa. Sebab itulah, taqwa dijadikan sebagai “raihan” dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Lalu siapakah orang bertaqwa itu ?

Secara syari’at, mereka ialah yang memiliki kesiapan melaksanakan peritah Allah dan menjauhi larangan Allah (imtitsalu awamiril-Lahi wajtinabu nawahi-Hi). Kemudian mereka yang tetap memberi infaq baik dalam keadaan sulit atau senang (allazina yunfiquna fis-sarrai wadh-dharrai), mampu menahan amarrah (wal kaziminal ghayza), dan memberi kemaaafan kepada sesama (wal a’fina ‘anin-nas), sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran/3: 134.

Secara hakikat (tasawuf), kata Imam Qushayri dalam bukuya “Risalah al-Qushayriyyah”, mereka ditandai dengan huruf taqwa. Ta berarti “tawadhuk”, rendah hati, bukan arogan (takabbur). Qaf berarti “qana’ah”, memadakan apa yang ada. Wa berarti “wara‘”, hanya memakan dan meminum yang sudah jelas kehalalannya, dan Ya berarti “yaqin”, yang memiliki komitmen tinggi dalam beriman (hablumminallah) dan juga dalam bermu’amalah sesama manusia, yang dalam bahasa managmen disebut profesional.

Semoga taqwa menjadi kualitas individu kita pada Ramadhan tahun ini. Amin.

RAMADHAN, MENGAPA HARUS IMAN !  By Hasan Bakti Nasution

0

Catatan Harian____Sabtu 16 Maret 2024

muisumur.or.id      Ibarat ATM (anjungan tunai mandiri), iman merupakan nomor PIN, yang menentukan terbuka tidaknya sebuah ATM. Begitulah iman, ia menjadi kata kunci dinilai tidaknya prilaku kebaikan seseorang. Berapapun jumlah uang didalam ATM tanpa PIN, tidak ada gunanya, karena tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu, apapun dan berapapun prilaku kebaikan yang dilakukan, jika tidak didasarkan pada iman tidak akan dinilai sama sekali.

Hal ini dijlelaskan al-Qur’an pada surat al-Kahfi, yang artinya: “Katakanlah Muhammad, apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan pertimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku sebagai bahan olok-olok”.

Sebab itu narasi kaum liberal “yang penting adalah perbuatan yang dilakukan baik ia akan masuk surga”, artinya iman tidak perlu, menjadi tidak relevan, karena perbuatan sebaik apapun tidak dinilai tanpa iman, sesuai ayat di atas.

Selain penentu dinilai tidaknnya suatu prilaku kebaikan, iman juga berperan sebagai pendorong melakukan sesuatu, yang dalam hal ini berpuasa. Berpuasa hanya bisa dilakukan jika ada dorongan dalam bentuk motivasi berpuasa. Jika puasa diidentikkan dengan diet, orang berdiet biasanya memiiliki motivasi tertentu, seperti ingin sehat, ingin kurus, dan sebagainya.

Adapun orang berpuasa, motivasi awal dan akhirnya ialah “mematuhi perintah Allah”, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah/3: 183 yang sangat populer selama Ramadhan ini. Tiada perbuatan yang paling mulia dan kata yang paling indah selain mematuhi perintah Tuhan, sesuai komitmen “sami’na wa atha’na”.

Di sinilah diuji kekuatan iman seseorang. Ada dua pasangan badminton piala Korea Open yang bermain selama pada Ramadhan ini, salah satunya berbuka puasa yang satunya tidak. Hasilnya sama, yaitu sama-sama menang. Bedanya yang satu yakin, puasa tidak akan menyebabkan kekalahan permainan. Tuhan Maha Kuasa akan memberikan kekuatan kepada hamba yang pasrah kepada-Nya. Namun yang tidak berpuasa juga tetap beriman, karena memang terdapat rukhsakh dalam Islam, sebagai kemudahan beribadah dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti pekerja keras. Membawa nama negara tentu termasuk kerja keras, dan ini cukup memberinya alasan untuk tidak beruasa atau membatalkan puasanya.

Kembali ke judul di atas, iman adalah landasan, landasan keberadaan dan dan diakui ada tidaknya atau bernilai tidaknya suatu perbuatan, dan iman juga menjadi faktor yang kuat untuk mendorong seorang hamba melakukan puasa yang maha beerat bagi seorang, tetapi tidak bahkan menyenangkan bagi orang lain.

Semoga kita meraih taqwa sebagai sasaran akhir (goal) dari pelaksanaan ibadah puasa seperti direkamn dalam ayat puasa, yaitu surat al-Baqarah/2: 183.

Bulan Ramadan: Momentum Memperkokoh Taqwa dan Meraih Ampunan

0

muisumut.or.id-Medan, Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum memimpin khutbah Jumat di Mesjid Ar-Rahmah Komplek MUI Sumatera Utara pada 15 Maret 2024. Melalui ceramahnya yang memikat, Dr. Akmaluddin mengajak para jamaah untuk merenungkan esensi taqwa sebagai pondasi utama kehidupan yang membawa kebahagiaan sejati.

“Taqwa, sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan, merupakan kunci kebahagiaan yang hakiki,” ungkap Dr. Akmaluddin. Dia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih ketika seseorang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dengan masuknya bulan suci Ramadan, Dr. Akmaluddin mengajak umat Islam untuk merenungkan arti penting ibadah dan keimanan dalam menjalani bulan penuh berkah ini. “Bulan Ramadan bukan hanya tentang berpuasa, tetapi juga tentang memperkokoh taqwa dalam diri kita, memohon ampunan, dan mengejar Lailatul Qadar,” tambahnya.

Dr. Akmaluddin menekankan bahwa bulan Ramadan adalah momen emas untuk melipatgandakan pahala, mendapatkan ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dia mengingatkan umat Islam akan keistimewaan bulan ini yang disertai dengan turunnya Al-Quran, kitab suci yang menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Lebih lanjut, Dr. Akmaluddin juga menyoroti pentingnya memanfaatkan kesempatan yang diberikan di bulan Ramadan, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa jika bahkan di bulan Ramadan saja seseorang tidak mendapatkan ampunan, maka akan jauh lebih sulit untuk memperolehnya di bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, bulan Ramadan harus dijadikan momentum utama untuk memperbanyak ibadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

“Mari kita manfaatkan bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, khatam Al-Quran, beribadah dengan sungguh-sungguh, dan memperbanyak kehadiran di masjid,” tutup Dr. Akmaluddin, mengajak umat Islam untuk meraih keberkahan dan kebahagiaan sejati di bulan Ramadan.

Dengan pesan yang inspiratif, ceramah Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum di Mesjid Ar-Rahmah Komplek MUI Sumatera Utara hari ini menjadi sumber motivasi bagi umat Islam dalam menghadapi bulan Ramadan yang penuh berkah. (Yogo Tobing)