Monday, March 9, 2026
spot_img
Home Blog Page 75

HAKIKAT RAMADHAN IALAH PENGENDALIAN

0

Begitulah Islam hadir yang diperuntukkan bagi semua manusia dengan multi dimensinya dari segi fisik, potensi, cara pandang, kecenderungan, kemampuan, dan lain-lain. “Al-Qur’anu wujuhun”, al-Qur’an memiliki banyak dimensi, begitu hadits Nabi ketika melukiskan al-Qur’an sebagai sumber inspirasi, aspirasi, dan tindakan bagi umat Islam. Ini tentu dimaksudkan bagaimana agar semua anak manusia merasa difasilitasi oleh al-Qur’an.

Jadi adalah menjadi kewajaran jika al-Qur’an menjadi landasan utama ajaran Islam bersama hadits Nabi sebagai penjelasan (tibyanan) dan informasi tambahan (i’laman), sebagai dua sumber yang memberi jaminan keselamatan bagi umat Islam yang mematuhinya, sesuai sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinnya: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua hal yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu al-Qur’an dan hadits”.

Beberapa tulisan ke depan akan menguraikan puasa dalam perspektif filsafat, sebagai suatu ilmu yang berupaya memahami sesuai dengan cara pandang yang holistik (menyeluruh), atau sebagai “ilmu tentang segala yang ada sesuai dengan hakekatnya” (al-‘ilmu bil-mawjud bima huwa mawjud), kata Al-Kindy, filsuf Muslim pertama ketika melukiskan devinisi filsafat.

Filsafat Islam, dengan demikian, ialah “ilmu tentang segala yang ada sesuai dengan hakekatnya sesuai dengan cara pandang Islam yang bersumber al-Qur’an dan hadits”. Bagi Islam itu adalah raison d’eter, konsekuensi logis yang tidak bisa ditepis dari kesempurnaan kandungan al-Qur’an yang mencakup seluruh persoalan kemanusiaan, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Kembali ke judul di atas, jika pengertian umum puasa ialah “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa” (al-imsaku ‘anil mufthirat), maka hakikat Ramadhan atau puasa secara filosofis ialah pegendalian, yaitu agar manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu, walaupun itu dibenarkan.

Makan dan minum dibenarkan dan yang dimakan dan diminumpun ada, namun karena puasa tidak dillakukan. Menggauli isteri kapanpun dibenarkan, tetapi karena puasa tidak dilakukan di siang hari. Bayangkan bagaimana puasa mampu mengendalikan manusia untuk tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya bisa dilakukan.

Latihan sederhana tapi sulit ini diharapkan akan melatih jiwa untuk selalu siap meninggalkan sesuatu yang sesungguhnya bisa dilakukan, karena dibolehkan. Latihan jiwa ini diharapkan akan membentuk suatu kemampuan yang sudah terbiasa (sehingga menjadi habit) melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Hal ini maha penting ketika hari ini manusia dihadapkan pada berbagai kecukupan sehingga mampu melakukan apapun yang diingini.

Ambillah contoh seorang dengan kekayaannya tentu mampu melakukan apapun dengan uangnya, seperti mempengaruhi orang lain atau bahkan mempengaruhi kebijakan yang berkaitan dengan banyak orang. Namun karena puasa sudah melatihnya mengendalikan diri, dorongan menguasai orang karena banyak uang dinafikan. Contoh lain, seorang dengan kekuasaannya mampu sesungguhnya mengambil keuntungan dengan meraup uang atau fasilitas, namun itu tidak dilakukan karena puasa melatihnya untuk mengendalikan diri dari melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum dan agama.

Contoh lain yang sangat sederhana, seorang boleh mengatakan “sedang berpuasa” dengan bersikap layaknya orang berpuasa, lemas, haus, dan sebagainya, tapi tidak dilakukan, hanya karena sebuah kata, yaitu “puasa”. Wajarlah jika Allah mengatakan dalam sebuah hadits qudsi: “semua amalah anak Adam baginya kecuali puasa. Puasa bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (kullu ‘amali ibn Adam lahu illah-shawm, fainnahu Liy wa Ana Ajzi bihi).

Semoga hakikat puasa mampu melahirkan kita sebagai individu yang mampu mengendalikan diri dari sesuatu yang bisa dan boleh. Dengan kekuasaan bisa mempengaruhi orang lain bahkan menindas orang lain, dengan uang bisa membeli orang lain, dan sebagainya. Tetapi tidak dilakukan karena puasa. Jadi hakikat puasa ialah pengendalian diri.

Awal Ramadan, MUI Sumut Siapkan 180 Paket Sembako Untuk Disalurkan

0

muisumut.or.id-Medan, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (MUI Sumut) mengadakan kegiatan berbagi sebagai wujud kepedulian. Dalam semangat ukhuwah Islamiyah pada bulan Ramadan, MUI Sumut menyalurkan bantuan sembako berupa beras 10 Kg, minyak makan, dan gula pasir. Sebanyak 180 paket sembako telah disiapkan dan akan didistribusikan kepada penerima manfaat.

Ahmad Darwis Ritonga, yang menjabat sebagai kepala sekretariat MUI Sumatera Utara, turut serta dalam kegiatan ini. Beliau menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya nyata dari nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam membantu sesama, terutama di bulan yang penuh berkah ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Darwis Ritonga menyampaikan harapannya agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi para penerima, sekaligus menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berbagi dan peduli terhadap sesama. Semoga bantuan ini mampu memberikan kelegaan dan kebahagiaan bagi mereka yang menerima, serta menginspirasi masyarakat untuk terus melakukan kebaikan di segala kesempatan.

Lebih dari sekadar bantuan materi, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat ikatan sosial dan spiritual di antara anggota masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kegiatan ini menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkuat solidaritas sosial dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua pihak.

Tak hanya itu, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemanfaatan bantuan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Provinsi Sumatera Utara mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta berkontribusi melalui memberikan donasi. Dukungan finansial dapat disalurkan melalui rekening Bank Sumut Syariah dengan nomor 61002300015856 atas nama PP Wakaf Produktif MUI Sumut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari momentum “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan” yang diinisiasi oleh P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara, menunjukkan komitmen MUI Sumut dalam menjalankan peran sosial dan keagamaan untuk kesejahteraan masyarakat. (Yogo Tobing)

Bersama P2WP MUI Sumut, Ayo Wujudkan Ramadhan Penuh Berkah!

0

muisumut.or.id-Medan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Provinsi Sumatera Utara mengumumkan pelaksanaan kegiatan amal bertajuk “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan”. Kegiatan mencakup empat rangkaian acara yang bertujuan memberikan keberkahan kepada masyarakat sekitar. Pertama, “Berbagi Iftar” di KeWa Coffee Shop MUI Sumut, kedua, distribusi “Paket Sembako” untuk masyarakat kurang mampu, ketiga, pembagian “Sayuran Hidroponik”, dan terakhir, “Tausiyah Ramadhan Menjelang Berbuka Puasa”.

Menanggapi kegiatan ini, Direktur P2WP, Dr. Akmaluddin Syahputra M.Hum, menyatakan, “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi wujud nyata kepedulian kita terhadap sesama, terutama dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, kami ingin menyebarkan kebahagiaan dan keberkahan kepada mereka yang membutuhkan.”

Demi mendukung momentum berbagi keberkahan pada kegiatan “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan”, P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta berkontribusi melalui memberikan donasi. Dukungan finansial dapat disalurkan melalui rekening Bank Sumut Syariah dengan nomor 61002300015856 atas nama PP Wakaf Produktif MUI Sumut.

“Kami yakin, dengan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, kegiatan “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan” akan menjadi lebih bermakna dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat yang membutuhkan,” tandas Dr. Akmaluddin Syahputra M.Hum.

Dengan tema “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan,” P2WP MUI Sumut berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan memperkuat nilai-nilai kepedulian sosial di tengah-tengah bulan suci Ramadhan. (Yogo Tobing)

K.H Amir Panatagama Ingatkan Umat Islam: Jaga Kesucian Ramadan dan Berkumpul di Masjid untuk Memperkuat Spiritualitas

0

muisumut.or.id-Deli Serdang, 10 Maret 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Deliserdang, melalui Ketua Umumnya, Kiai H. Amir Panatagama, mengungkapkan potensi terjadinya perbedaan masuk dan dimulainya ibadah puasa Ramadan 1445 Hijriah. Hal ini, meskipun menjadi bagian dari sejarah panjang umat Islam Indonesia, membutuhkan kewaspadaan agar tidak berujung pada perilaku yang merusak kesucian Ramadan.

Perbedaan awal bulan Ramadan dan hari raya Idulfitri, menurut Amir Panatagama, seharusnya menjadi penguat harmonisasi dan kesejukan di antara umat Islam. Namun, dia menekankan pentingnya untuk tidak terpengaruh oleh perbedaan tersebut dan menghormati keyakinan masing-masing individu.

“Dalam menyikapi perbedaan, kedewasaan dan penghormatan terhadap keyakinan sesama umat Islam harus terjaga. Yang paling penting adalah bagaimana bulan Ramadan bisa diisi dengan peningkatan amalan ibadah,” ungkap Amir Panatagama.

Dia juga menyoroti pentingnya menjaga kesucian bulan Ramadan dari perilaku yang mengarah kepada dosa dan merusak ibadah puasa. Terlebih lagi, dalam konteks suasana politik yang masih hangat akibat proses Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, dia menekankan agar umat Islam tidak terprovokasi yang dapat merusak pelaksanaan ibadah puasa.

“Jaga hati dan bersabarlah. Jangan sampai terprovokasi dan berdampak pada sikap yang dapat merusak ibadah puasa Ramadan kita,” tegasnya.

Semarakkan Masjid: Ajakan Memakmurkan Tempat Ibadah

Amir Panatagama juga mengimbau umat Islam untuk menyemarakkan masjid selama bulan Ramadan. Ia menekankan pentingnya memakmurkan masjid dengan berbagai ibadah, seperti salat, tadarusan Alquran, zikir, majelis pengajian ilmu, dan lain sebagainya.

Menurutnya, Ramadan adalah bulan suci yang penuh dengan kebaikan. Oleh karena itu, memakmurkan masjid selama bulan Ramadan adalah investasi spiritual yang amat berharga bagi umat Islam.

“Kami menyerukan umat Islam untuk menyemarakkan masjid dengan memakmurkannya selama Ramadan. Sangat rugilah orang yang kemudian tidak mendapatkan kebaikan dari bulan Ramadan,” paparnya.

Amir Panatagama juga percaya bahwa kemajuan umat Islam akan semakin gemilang jika pembangunan manusianya berbasis pada masjid, yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. (Yogo Tobing)

Sinergi MUI dan STAIN Madina: Pengalaman Lapangan Mahasiswa Ditutup dengan Haru

0

muisumut.or.id-Panyabungan, 8 Maret 2024 – Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mandailing Natal menjadi saksi keharuan pada hari ini saat melepas 11 mahasiswa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madina yang telah menyelesaikan PPL selama 2 bulan di kantor MUI Madina.

Acara penjemputan PPL ini dimulai dengan sambutan hangat dari Sekretaris MUI Madina, H. Ahmad Zainul Khobir, S.Ag., MM, yang menyatakan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kerjasama antara MUI dan STAIN Madina dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan keagamaan.

Para dosen pendamping lapangan, Rani Ismil Hakim, M.Pd., dan Ahmad Salman Farid, M.Sos., juga turut hadir memberikan dukungan dan arahan kepada mahasiswa PPL. Kehadiran mereka menegaskan komitmen STAIN Madina dalam melibatkan tenaga pengajar yang berkualitas untuk mendampingi mahasiswa dalam pengalaman lapangan.

Sebanyak 11 mahasiswa yang ditempatkan dalam program PPL ini berasal dari program studi bahasa dan sastra Arab serta manajemen dakwah. Mereka datang dengan semangat tinggi untuk belajar dan berkontribusi dalam kegiatan keagamaan di lingkungan MUI Madina. Dalam sesi berikutnya, para mahasiswa PPL diminta untuk membagikan kesan dan pesan mereka selama dua bulan mengabdi di Kantor MUI Madina. Dengan penuh antusias, mereka berbagi pengalaman dan pembelajaran yang didapat selama masa tersebut, merenungkan peran mereka dalam mengamalkan ilmu keagamaan dalam kehidupan nyata.

Sekretaris MUI Madina, H. Ahmad Zainul Khobir, S.Ag., MM, juga tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh mahasiswa dan dosen pendamping atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam mendukung berbagai kegiatan keagamaan di kantor MUI Madina. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas segala ketidaksesuaian yang mungkin terjadi selama masa PPL, sembari berharap agar kolaborasi ini terus berlanjut dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik secara berkelanjutan.

Kesempatan ini tidak hanya menjadi momen berharga bagi para mahasiswa, tetapi juga menunjukkan sinergi yang erat antara lembaga pendidikan tinggi dan lembaga keagamaan dalam usaha mencetak generasi penerus yang berkualitas dan kompeten di bidangnya.

Semoga kerjasama yang baik ini terus berkembang, memberikan manfaat yang besar bagi kedua belah pihak, dan menciptakan suasana akademis yang inspiratif bagi mahasiswa dan dosen. (Yogo Tobing)

Persiapan Ramadan 1445: Imbauan MUI Sumut untuk Ketaatan dan Kesejahteraan Bersama

0

muisumut.or.id-Medan, Menyongsong bulan suci Ramadan 1445 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara memberikan Imbauan kepada seluruh umat Islam pada 5 Maret 2023. Berdasarkan fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004, MUI mengingatkan pentingnya mengikuti penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia. Hal ini diatur dalam metode ru’yah dan hisab oleh pemerintah RI atau Menteri Agama. Mengantisipasi kemungkinan perbedaan penetapan awal Ramadan 1445 H, MUI Sumatera Utara mengimbau umat Islam untuk saling menghargai dan menghormati.

MUI Sumatera Utara juga mengajak seluruh umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa dan amalan ibadah sunat lainnya. Ibadah seperti salat tarawih, witir, tahajjud, ceramah Ramadan, tadarus Al-Quran, peringatan nuzul Al-Quran, taklim berjamaah, pesantren kilat, safari Ramadan, berbuka puasa bersama, zikir, I’tikaf, dan doa kepada Allah untuk keselamatan agama, bangsa, dan NKRI.

Dalam rangka memuliakan bulan Ramadan, MUI Sumatera Utara mengimbau agar yang tidak berpuasa tidak mengonsumsi makanan, minuman, atau merokok di tempat umum. Lebih lanjut, MUI Sumut juga meminta agar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten/Kota, dan pihak kepolisian diminta untuk menutup tempat-tempat maksiat, seperti perjudian dan hiburan malam, sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadan.

Dalam upaya menjaga kondusifitas, stabilitas, dan ketertiban masyarakat, serta menjalankan ketetapan fatwa MUI Provinsi Sumut No. 03 Tahun 2017, penggunaan petasan dilarang selama Ramadan. Pihak kepolisian diharapkan menertibkan masyarakat terhadap penggunaan petasan.

MUI Sumatera Utara juga menegaskan perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap kejahatan yang mungkin terjadi selama Ramadan, seperti begal, pencurian, dan perampokan. Hal ini bertujuan untuk memastikan rasa aman dan tenteram di masyarakat dalam menjalankan ibadah selama bulan suci.

Pada akhir Imbauannya, MUI Sumatera Utara mengajak MUI Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara untuk menertibkan imbauan serupa, dengan memperhatikan kondisi daerah masing-masing. Imbauan ini ditertibkan untuk diikuti dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan dalam menjalankan ibadah, khususnya puasa Ramadan. (Yogo Tobing)

MUI Sumut: KUA Tempat Nikah Semua Agama Perlu Kajian Khusus

0

muisumut.or.id MEDAN: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menyampaikan, diperlukan kajian lapangan secara khusus menjadikan Kantor Urusan Agama (KUA) tempat pernikahan semua agama.

Hal itu disampaikan Ketua MUI Sumut, Dr.Maratua Simajuntak bersama Wakilnya Dr.H.Ardiansyah Lc, MA yang juga juru bicara MUI Sumut, Senin (26/2).

Kata Ardiansyah, pernikahan dalam Islam adalah ibadah yang sakral. Dengan akad nikah dua insan dihalalkan dirinya untuk berhubungan. Oleh karena itu, syarat dan tatacaranya diatur sedemikian rupa.

Hal ini senafas dengan amanat UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang menegaskan bahwa pernikahan dinyatakan sah jika dilaksanakan menurut ajaran agama.

“Adapun rencana yang dikemukakan Kemenag menjadikan KUA sebagai tempat nikah semua agama, kami menyarankan agar dilakukan terlebih dahulu kajian lapangannya,” kata Ardiansyah.

Menurutnya,berdialog dan meminta pandangan berbagai pihak lintas agama agar tidak menimbulkan kesemrawutan yang berujung kepada kegaduhan.

“Kami menyarankan agar fokus kemenag kepada penyelenggaraan haji tahun ini jauh lebih utama. Mengingat jamaah haji kita yang masih didominasi usia lanjut dan risti,” ungkapnya.

Lanjut Ardiansyah, demikian juga dengan potensi perbedaan awal Ramadhan. Agar segera disosialisasikan guna mengedukasi umat Islam. Bukan sekedar melaksanakan sidang istbat, kemudian hasilnya tetap dualisme yang tetap menjadikan polemik di tengah-tengah umat.

Selain itu, sumber daya insani di KUA sendiri serta regulasi dan pembiayaannya juga perlu dibuat terlebih dahulu untuk menghindari kebingungan pada pelaksanaannya.

“Semestinya, ide ini tidak dilontarkan begitu saja sebelum dirembukkan hanya untuk melayani kebutuhan minoritas. Yang dikhawatirkan saudara-saudara non muslim justeru belum membutuhkan hal ini. Mengingat pelaksanaan pernikahan mereka selama ini juga berjalan baik dan khidmat dengan tatacara agamanya masing-masing,” pungkas Ardiansyah.

Sebagaimana diberitakan,Kementerian Agama (Kemenag) berencana menjadikan Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai tempat pernikahan semua agama di Indonesia. Selama ini, KUA berfungsi sebagai tempat pencatatan pernikahan umat Islam, sedangkan pencatatan nikah agama lain dilakukan di Kantor Pencatatan Sipil.

Siswa/I YPSA Shafiyyatul Amaliyah melakukan Magang di MUI Prov. Sumatera Utara

0

MEDAN, 26 FEBRUARI 2024 – Sebanyak 30 siswa Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) telah menyelesaikan program magang atau Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara. Magang siswa YPSA dimulai pada tanggal 19 Februari 2024 dengan dua gelombang yang melibatkan sejumlah 30 siswa.

Para siswa YPSA diterima secara resmi oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum, selaku Direktur Kedai Wakaf, serta oleh Syahrul S.Pd, staf MUI Provinsi Sumatera Utara. Selama seminggu berkegiatan, para siswa YPSA terlibat dalam berbagai kegiatan di lembaga MUI Provinsi Sumatera, Kedai Wakaf, Perpustakaan MUI Provinsi Sumatera Utara, dan Hidroponik MUI Sumatera.

Dalam pertemuan tersebut, Dr. Akmal menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Siswa-siswa YPSA dipandu untuk mengunjungi perpustakaan, kedai wakaf, hidroponik, dan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Organisasi MUI (LPPOM) Provinsi Sumatra Utara.

Kegiatan magang ini juga melibatkan pembagian siswa ke dalam dua kelompok, yang akan didokumentasikan secara mendalam dan disebarkan melalui media sosial. Langkah ini diharapkan dapat memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai potensi-potensi positif yang dikembangkan oleh YPSA dan MUI dalam dunia pendidikan serta kesejahteraan sosial.

Dr. Akmal menegaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat, sekaligus meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai sosial dan keagamaan.

“Siswa YPSA akan dibimbing oleh tim Pusat dan Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) yang memiliki pengalaman luas dalam bidang ini. Kami berharap mereka dapat mengikuti kegiatan ini dengan serius dan tekun, sehingga dapat menjadi tambahan ilmu dan pengalaman yang berharga dalam perjalanan pendidikan mereka,” tambah Dr. Akmal.

Jurnal ALWAQFU Membuka Peluang untuk Pengiriman Artikel Terbaru di Bidang Hukum Ekonomi dan Wakaf

0

muisumut.or.id, Medan, Sumatera Utara, 22 Februari 2024 – Pusat Pengembangan Wakaf Produktif MUI Sumatera Utara telah meluncurkan jurnal yang dinamakan alwaqfu pada tahun 2023. Jurnal ALWAQFU, kembali membuka peluang emas bagi para Peneliti, Akademisi, dan Pemerhati Hukum Ekonomi dan Wakaf untuk berpartisipasi dalam konferensi bergengsi ini melalui pengiriman artikel ilmiah. Batas waktu pengiriman artikel ditetapkan hingga 30 Maret 2024.
Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan, Jurnal ALWAQFU membuka pintu bagi para penggemar untuk berkontribusi dalam pengembangan bidang ini. Beberapa keunggulan konferensi ini antara lain:
1. di Bawah Naungan P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara: Jurnal ALWAQFU memiliki kelebihan berada di bawah naungan P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara, menambah kredibilitasnya sebagai forum riset berkualitas tinggi.
2. Reviewer dari Berbagai Universitas Terkemuka di Indonesia: Artikel Anda akan dinilai oleh para ahli dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia, menjamin tinjauan yang mendalam.
3. Respon Cepat: Hanya dalam waktu 2-4 hari setelah pengiriman, Anda akan menerima tanggapan terhadap artikel Anda.
4. Jaminan Terbit: Jurnal ALWAQFU percaya pada kualitas dan kecepatan, memberikan jaminan terbit bagi artikel yang memenuhi standar.
5. Terindeks di Garuda, Google Scholar, dan Menuju SINTA: Artikel Anda akan diakui secara nasional dan internasional melalui indeksasi di platform-platform terkemuka.
6. Slot Terbatas – Hanya 3 Slot Tersisa!: Kesempatan ini terbatas, ambil bagian sebelum slot terakhir terisi!
Keuntungan Tambahan: Sertifikat Gratis, Editing, dan Turnitin!
– Sertifikat Gratis untuk Setiap Penulis: Penghargaan kami untuk kontribusi Anda.
– Editing dan Turnitin Gratis: Kami peduli dengan kualitas dan keaslian artikel Anda.
Persyaratan dan Prosedur Pengiriman:
– Artikel/naskah BELUM PERNAH dipublikasikan sebelumnya.
– Artikel dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris.
– Penulis diharapkan mengikuti ketentuan penulisan dan melengkapi dokumen pendukung.
– Informasi lebih lanjut dan petunjuk pengiriman dapat ditemukan di [situs resmi kami](https://jurnal.alwaqfu.or.id).
Ayo Segera Bergabung dan Bagikan Penelitian Anda untuk Berkontribusi dalam Pengembangan Hukum Ekonomi dan Wakaf!** Jangan lewatkan kesempatan ini, hanya 3 slot tersisa! Sampaikan artikel Anda secara online di [situs pengiriman kami](https://jurnal.alwaqfu.or.id) sebelum batas waktu.

Jadikan Ulama Berwawasan Internasional, PTKU Laksanakan Rihlah Ilmiah

muisumut.or.id, Medan, Jadikan Ulama berwawasan Internasional Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI Sumatera Utara melaksanakan rihlah ilmiah ke tiga negara, Singapura, Malaysia, dan Thailand.  Hal ini disampaikan Direktur PTKU MUI Sumut, Prof. Hasan Bakti Nasution M.A  melalui jaringan seluler kepada Tim Infokom MUI Sumut Senin, 19 Februari 2004.

Pelepasan Mahasiswa  Kader Ulama di aula kantor MUI Sumatera Utara dihadiri  Ketua Umum MUI Sumut, Dr. Maratua Simanjuntak, Wakil Ketua Umum dan unsur Pengurus PTKU MUI Sumut.

Hasan Bakti yang merupakan Guru Besar UIN Sumut menyampaikan bahwa ini adalah bagian dari kurikulum Kader Ulama yakni mengunjungi beberapa Lembaga keagamaan. “Sebelumnya mereka sudah berkunjung ke MPU (Majelis Permusyarakatan Ulama) di Banda Aceh, beberapa Lembaga Pesantren dan sekarang Lembaga keagamaan di negeri tetangga.” ujarnya

Hasan Bakti menyampaikan Rihlah ilmiah ini merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan wawasan mahasiswa Kader Ulama, mengembangkan pemahaman keagamaan, serta memperluas pandangan terhadap Islam dari berbagai perspektif di tiga negara yang akan dikunjungi.

“Tujuan utama keberangkatan ini adalah untuk memberikan wawasan kepada para kader Ulama tentang Islam dalam konteks berbagai nuansa yang ada di masyarakat. Melihat islam dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, diharapkan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik tentang peran dan bentuk Islam dalam dari berbagtai perspektif di tiga negara tetangga.” jelasnya

Persiapan untuk perjalanan ini telah dilakukan secara menyeluruh, baik dari segi administratif maupun logistik. Surat menyurat sudah disiapkan, dan koordinasi dengan lembaga-lembaga yang akan dikunjungi telah dilakukan. Rencananya, rombongan akan mengunjungi JAKIM Putrajaya, kunjungan ke IRCS Singapura, serta kunjungan ke Madrasah Pattani, Cultural Visit Pattani di Thailand Selatan

Selain itu, Prof. Hasan Bakti Nasution menyoroti kerja sama dengan luar negeri, terutama dengan mahasiswa Patani di Thailand. “Kami ingin melihat perkembangan kerja sama ini dan memastikan bahwa alumni kita yang berkontribusi di sana dapat dimanfaatkan secara optimal. Evaluasi terhadap kerja sama ini akan membantu kami memperkuat aspek-aspek yang perlu ditingkatkan dan mempertahankan aspek-aspek yang telah berhasil, sehingga kerja sama ini dapat meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.”

Alamuni Kader Ulama memang ada dua 2 orang yang berasal dari Pattani, yakni Ibrahim Tuyong dan Lukman Daoh, mereka berdua menjalani pendidikan selama tiga tahun di PTKU MUI Sumut dan  saat ini telah menjadi ulama di Pattani

Rombongan berharap bahwa rihlah ilmiah ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan keilmuan dan kerja sama lintas negara dalam bidang pendidikan tinggi kader ulama. “Semoga perjalanan ini memberikan manfaat yang besar bagi para peserta dan memberikan dampak positif dalam upaya memajukan pemahaman keagamaan yang moderat dan relevan di tengah-tengah masyarakat.” tutupnya