Friday, July 24, 2026
spot_img
Home Blog Page 103

Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara Mengimbau Umat Islam Mendoakan Palestina

0

muisumut.or.id-Medan, 9 Oktober – Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara telah mengeluarkan seruan kepada umat Islam untuk mendoakan Palestina dan mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kondisi saat ini. Seruan ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simajuntak, dan juga didampingi oleh Jurubicara yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua, Dr. Ardiansyah LC, MA.

MUI Sumut mendesak seluruh umat Islam untuk bersatu dalam doa demi kekuatan bagi rakyat Palestina dalam menghadapi konflik dengan Zionis Israel. Mereka juga berharap agar keluarga para syuhada (martir) Palestina diberikan ketabahan dan keikhlasan di tengah situasi yang sulit.

Dr. Ardiansyah, Jurubicara MUISU, menjelaskan bahwa serangan yang dilancarkan oleh Hamas ke Israel harus dipahami sebagai bagian dari rangkaian tindakan penjajahan yang telah lama dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Tindakan kekejaman yang mengakibatkan korban sipil, terutama wanita dan anak-anak, bukanlah hal baru. Rumah sakit dan bahkan tempat ibadah juga sering menjadi target serangan brutal Israel.

Menurut Ardiansyah, situasi ini mengingatkan kita pada prinsip dasar pembelaan diri dan upaya mempertahankan harta yang akan dirampas oleh musuh, yang merupakan jihad di jalan Allah. Dia menegaskan bahwa jika kita melihat permasalahan ini dengan hati nurani dan sikap jujur, adalah wajar bagi rakyat Palestina untuk mempertahankan tanah air mereka hingga tetes darah terakhir.

Ardiansyah juga mencatat bahwa meskipun Barat cenderung mendukung Israel dan tampaknya menutup mata terhadap tindakan kejahatan serta perampasan hak-hak rakyat Palestina yang telah terjadi selama ini, MUISU tetap berkomitmen untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam mencapai kemerdekaan dan keadilan.

Seruan MUI Sumut ini mencerminkan dukungan dan solidaritas dari kelompok agama di Sumatera Utara terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam menghadapi tantangan berat yang mereka alami. MUI Sumatera Utara berharap bahwa doa dan dukungan dari seluruh umat Islam akan memberikan kekuatan dan ketabahan bagi rakyat Palestina dalam perjalanan mereka menuju kemerdekaan dan perdamaian. (Yogo Tobing)

Tausiah Maulid Nabi Muhammad DP MUI Sumut “Nabi Muhammad itu Hanya Seorang Rasul”

muisumut.or.id. Medan- Ustaz Dr. H. Ardiansyah Lc. MA menjelaskan bahwa, penyimpangan ajaran Islam dan penyimpangan pemikiran saat ini sudah sangat mengkhawatirkan kita bersama mengingat keberadaannya sudah terjadi di dalam kehidupan umat.

Tentunya kondisi tidak baik itu menjadi tantangan bagi kita bersama di MUI. Apalagi puncak dari tugas utama dari Majelis Ulama Indonesia adalah sebagai penjaga umat atau himayatul ummah dari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam sesuai Alquran dan Sunnah, selain tugas pokok sebagai pelayan umat (khodimul ummah) serta mitra pemerintah (shodiqul hukumah)

Demikian disampaikan Ustaz Dr. H. Ardiansyah dalam tausiahnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Dewan Pimpinan MUI Sumut, Sabtu (7/10).

“Di sinilah salah satu peran sentral kita di MUI,” kata Ardiansyah.

Pada peringatan Maulid Nabi yang dihadiri Pj Gubernur Sumatera Utara H Hasanudin itu, Doktor Ilmu Hadis Universitas Madinah ini mengungkapkan salah satu penyimpangan pemikiran yang sangat parah bahkan telah disampaikan melalui tulisan adalah ketika ada yang berpendapat bahwa, Nabi Muhammad adalah Allah.

“Saya sendiri pun pasti tidak akan mampu menjawabnya kalau sampai ada yang menyampaikan pemikirannya secara tertulis bahwa Muhammad itu Allah. Sebab itu jelas sangat salah,” tegas Ardiansyah.

Ustaz Ardiansyah menyampaikan, tugas untuk meluruskan pemikiran yang sangat menyimpang itu menjadi tanggung jawab ulama dan cendikiawan Islam untuk selalu menjaga umat. Dan sesungguhnya pula ini menjadi salah satu misi utama MUI yang ternyata senyawa dengan visi dakwah Rasulullah SAW yang dilaksanakan selama lebih kurang 23 tahun.

Dia menjelaskan, berdasarkan sejarah kita mengetahui hampir separuh dari masa dakwah Nabi Muhammad tersebut hanya untuk menegakkan kalimah Laa Ila ha Illallahu Tiada Tuhan Selain Allah atau hanya men-Esakan Allah dan tidak ada yang berhak disembah di alam semesta kecuali Allah.

“Tidak ada satupun jawaban yang bisa disampaikan untuk menyamakan tempat Allah yang Maha Tinggi kepada mahluk, karena itu mustahil,” kata dia.

Selain itu, ungkapnya Rasul itu dilahirkan layaknya manusia biasa, dan begitu juga Nabi Muhammad juga dilahirkan dan disusui oleh beberapa ibu susu atau sama halnya dengan yang dialami seluruh manusia di di bumi ini ketika dilahirkan yakni menyusui.

Sehingga sangat jelas membuktikan bahwa tahapan itu membuktikan Rasul adalah manusia bukan kelompok malaikat atau jin. Karenanya sangat mustahil kalau menempatkan maqom Nabi Muhammad adalah Allah.

Kita ketahui bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia yang dilahirkan. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al Kahfi 110 yang menjelaskan, Katakanlah (wahai Nabi), bahwasanya aku adalah manusia seperti kalian, dan bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan yang Satu. Kemudian sesuai penjelasan Kitab Al Barjanzi karangan dari Syaikh Ja’far al-Barzanji bahwa, ketika beliau dilahirkan tidak ada satu tetes darah pun yang keluar ketika Rasul lahir.

Lalu pada malam dan subuh ketika Rasul lahir, seakan akan suasana sudah sangat terang laksana di siang hari, padahal sesungguhnya masih subuh. Kemudian pada waktu bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad, di antaranya api yang disembah orang Majusi yang tidak pernah padam selama seribu tahun saat Rasulullah lahir menjadi padam. Kala itu, semua orang bersatu baik yang lemah maupun kuat berupaya untuk menghidupkan kembali api tersebut. Namun, usaha mereka gagal dan api tidak kembali hidup.Tidak hanya api orang Majusi, Danau Sawa di Irak juga menjadi kering ketika Rasulullah lahir. Tadinya, danau tersebut menjadi tempat persembahan dewa.

Ditegaskan, kendati kemuliaan dan keutamaan yang dimiliki Rasul pastilah tidak sama dengan kita manusia biasa mengingat Muhammad adalah khataman Nabiyyin. Namun harus tetap kita ingat bahwa mustahil maqam atau tempatnya sama dengan Allah yang Maha Mencipta.

Dalam tausiahnya Ustaz Ardiansyah juga mengungkapkan kisah ketika Rasul wafat dan ternyata baru hari ketiga beliau dikebumikan. Hal ini terjadi, karena ketika itu terjadi kegoncangan yang sangat luar biasa dahsyat di kalangan sahabat dan ketika itu Abu Bakar Siddiq tidak berada di Madinah, sedangkan Rasul wafat di pangkuan istrinya Aisyah RA.

Suasana mencekam menyelimuti kediaman Rasul, bahkan Umar Bin Khattab telah mencabut pedangnya seraya mengancam akan memenggal kepala siapa saja yang menyampaikan Rasul telah wafat. Dan baru dapat ditenangkan setelah Abu Bakar menyampaikan pidato, “Siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya dia telah mati. Sedangkan barang siapa yang menyembah Allah maka Dia tidak akan pernah mati,”.

Bahkan ketika itu Umar langsung berdiri seraya berteriak menolak ucapan Abu Bakar seraya mengeluarkan pedang dan berkata, akan memerangi siapa saja yang mengatakan Muhammad sudah wafat. Lalu Abu Bakar turun dari mimbar dan memeluk Umar lalu membacakan firman Allah Surah Ali Imran yang menegaskan: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Setelah itu Umar pun barulah merasa tenang dan memasukkan kembali pedangnya sambil membenarkan apa yang baru dikatakan Abu Bakar tentang kematian Nabi Muhammad.

Dari rangkaian kisah ini semua makin menegaskan kepada kita semua bahwa Nabi Muhammad itu hanya manusia biasa yang dipilih Allah untuk menjadi Rasul membawa ajaran Islam kepada seluruh alam. Jadi dalam kondisi apapun, maka sesungguhnya Rasulullah tidak boleh disembah.

Menutup tausiahnya Ustaz Dr H. Ardiansyah mengajak kepada segenap pengurus MUI Sumut untuk istikamah menegakkan kalimah tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah. (S. Ramadhan)

Hukum Pembagian Harta Bersama

0

Konsultasi Syariah Oleh:Hj. Asmawita Abdullah Manaf, Lc., MA
(Anggota Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara) 

Deskripsi masalah :
Seorang istri meninggal dunia/wafat, meninggalkan seorang suami, seorang anak lelaki yg sudah mapan ekonominya, dua orang anak perempuan. Salah seorang anak perempuannya adalah janda mempunyai anak satu orang dan yang lainnya masih berkuliah. Istri meninggalkan harta sebuah rumah yg ditempati oleh suami danger kedua anak perempuannya. Rumah tsb merupakan warisan dari orang tua istri. Suami menghendaki agar harta peninggalan istri yaitu rumah tsb dibagi harta bersama terlebih dahulu dan kemudian dibagikan menurut faraidh. Anak-anak tidak setuju dengan pembagian harta bersama antara ibu dan ayah mereka (suami dan istri).

Pertanyaan :
1. Meskipun di dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat ketentuan pembagian harta bersama, apakah diperbolehkan untuk tidak mengikuti ketentuan tsb ?
2. Apabila masalah ini dibawa ke pengadilan agama, meminta utk tidak dilakukan pembagian harta bersama, apakah bisa disetujui oleh hakim ?
Mengingat bahwa tidak terdapat nash dzhahir /qath’i di dalam AlQuran maupun Hadist Rasul yg menunjukkan adanya hukum atau ketentuan pembagian harta bersama
3. Adakah penyelesaian yg adil yg dapat dipedomani selain keputusan pengadilan agama ?

Jawaban:
1. Pertanyaan di atas pada hakikatnya berkisar pada apakah hukum pembagian harta bersama sebelum pembagian warisan, boleh tidak dilaksanakan ? Jawabannya boleh tidak dilaksanakan apabila terdapat kesepakatan di antara semua ahli waris.
2. Harta yang dimiliki oleh pewaris yang bukan merupakan hasil yg diperoleh setelah pernikahan, seperti warisan dari orang tua ataupun hasil kerja pewaris sebelum pernikahan, maka harta tersebut tidak dapat dikatakan harta syarikat atau harta bersama. Oleh karenanya tidak masuk di dalam pembagian harta bersama. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang termaktub di dalam Kompilasi Hukum Islam tentang harta bersama.

Pj Gubsu Hadiri Peringatan Maulid Nabi di MUI Sumut

muisumut.or.id. Medan, Pelaksana jabatan (Pj) Gubernur Sumatera Utara, H. Hasanuddin menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP-MUI) Sumatera Utara di Aula Jalan Majelis Ulama Nomor 3 Medan, Sabtu (7/10).

Hadir pada itu Sekretaris Dewan Kehormatan MUI Sumut H. Muin Isma Nasution, Wakil Ketua Umum Dr. H. Arso SH. MH, Bendahara Umum Drs. H. Sotar Nasution MHB dan pengurus lainnya dengan penceramah Wakil Ketua Umum MUI Sumut Dr. H. Ardiansyah, Lc., MA.

Dalam sambutannya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Dr. H. Maratua Simanjuntak menyampaikan eksistensi MUI sebagai tempat berkumpulnya para ustaz dan ustazah untuk melaksanakan kewajiban yang diemban sebagai shodiqul hukumah dan immayatul ummah.

Buya Maratua juga memberikan apresiasi dengan dilaksanakannya dua acara penting secara bersamaan, yakni peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan pelantikan Lembaga Ukhuwah Umat Islam Sumatera Utara.

Peringatan Maulid yang dilaksanakan setiap bulan Rabi’ul Awal menjadi momen terbaik bagi seluruh umat untuk selalu mengenang dan mengevaluasi sudah sejauh mana umat dapat mengikuti dan melaksanakan ajaran yang telah disampaikan Baginda Rasulullah SAW. Sedangkan pelantikan lembaga ukhuwah menjadi komitmen kuat kita bersama untuk mengejewantahkan maksud diturunkannya syariah, di antaranya untuk menjaga agama, akal, keturunan dan harta.

Ketua MUI menegaskan refleksi penting dari peringatan Maulid sebagai momen terbaik bagi ulama dan cendikiawan untuk mengintropeksi secara menyeluruh dalam melaksanakan amanah untuk mewariskan ajaran Rasul agar dapat dilaksanakan umat sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah.

Maulid menjadi seruan kepada umat untuk selalu membesarkan Rasulullah dan menjadikannya sebagai contoh terbaik dengan melaksanakan seluruh ajarannya untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.

Karena itu, kata Maratua melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad ini sama-sama kita makin memperkuat keyakinan serta keimanan kita bahwa Nabi Muhammad itu adalah Rasulullah utusan Allah yang mana kita selalu berharap untuk mendapatkan syafaat dari Rasul kelak.

Ketua MUI juga menegaskan bahwa menanamkan keyakinan ini menjadi salah satu tugas utama dari ulama dan cendikiawan Islam, sehingga diharapkan umat semakin kuat keyakinannya bahwa Nabi Muhammad hanya sebagai Rasul dan manusia biasa yang dipilih oleh Allah.

Karena itu kita sebagai umatnya secara tegas dilarang untuk menyebut Nabi Muhammad sebagai Allah, tegas Ketua MUI.

“Tentunya kita tidak dapat membiarkan begitu saja kalau ada yang menafsirkan ajaran itu secara liberal dan menyesatkan umat,” ungkapnya seraya berpesan kepada umat untuk bersatu.

Dia mengingatkan bahwa tujuan dibentuknya lembaga ukhuwah ini menjadi dorongan besar untuk menyatukan diri dan melakukan yang terbaik serta menjadikan perbedaan sebagai warna yang makin memperkuat ukhuwah juga persatuan umat.

Pj Gubernur Sumatera Utara H. Hasanudin dalam kesempatan mengungkapkan rasa bahagia dan syukurnya dapat hadir memenuhi undangan ulama yang berhimpun di MUI untuk meningkatkan hubungan harmonis ulama dengan umara.

“Mari kita bersatu dalam perbedaan dan keragaman dengan tujuan luhur untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan bersama,” kata Gubsu.

Hasanudin juga mengungkapkan kekhawatiran akan tingginya peredaran narkoba yang sudah sampai pada level sangat membahayakan generasi muda, bahkan ternyata Sumut menjadi peringkat pertamanya.

Karena itu Gubsu berharap kepada MUI Sumut dapat selalu memberikan pencerahan, bimbingan dan pengajaran yang menyentuh generasi muda, sehingga menjadi komitmen kuat kita bersama untuk peran terhadap narkoba, juga secara tegas dan bersama-sama mengatakan tidak pada narkoba. (Rmd)

Sekretaris Bidang Fatwa MUI Sumut Bahas Fikih Lingkungan di TVRI

muisumut.or.id, Medan, Dalam Acara Mimbar Agama Islam TVRI Sumatera Utara, yang berlangsung pada Kamis, 5 Oktober 2023, Ustaz Irwansyah bahas fikih lingkungan. Fikih Lingkungan atau disebut dengan Fiqh al-Bi’ah tergolong kajian baru dalam dunia fikih.

Irwansyah sebut bahwa Yusuf al-Qarhdawi dan KH. Ali Yafie sejak lama telah mengenalkan fikih lingkungan hidup. Jika as-Syathibi dalam al-Muwafawat menyebut maqhashid as-syariah ada lima hal yang mesti dipelihara, seperti hifz ad-din (memelihara agama), hifz an-nafs (memelihara jiwa) termasuk harta. Maka ilmuan hari ini coba untuk memasukkan lingkungan sebagai sesuatu yang juga mesti dipelihara (Hifz al-bi’ah).

Dalam paparannya menyebut bahwa fikih lingkugan ini mengatur berbagai aspek aturan dan ketentuan agama yang berkaitan dengan lingkungan manusia dimana mereka tinggal. Pelestarian alam, menjaga lingkungan bersih dan sehat, tidak merusak udara, tanah dan air adalah bagian yang tak terpisahkaan dari aturan syariat. Islam tidak hanya sebatas mengurusi masalah-masalah ibadah mahdhah saja, tidak hanya sebatas urusan ibadah, muamalah, munakahat saja, akan tetapi Islam mengatur lingkungan hidup seperti tidak boleh mengotori sungai, sumber air, buang sampah semabarangan yang mengotori lingkungan. Begitu juga dengan penebangan hutan secara liar untuk eksploitasi kepentingan pribadi yang mengakibatkan dampak negatif terhadap alam dan keberlangsungan makhluk hidup, bahkan berakibat banjir misalnya, jelas ini bertentangan dengan syariat Agama, ungkap Irwansyah.

Al Quran dalam Surah Al A’raf : 56 sudah menjelaskan bahwa larangan Allah untuk membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah menciptakannya dengan sempurna. Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat lain misalnya Surah Ar Rum : 41 bahwa Allah sudah menggambarkan bahwa “Kerusakan yang ada di darat dan di air itu adalah akibat dari ulah tangan manusia”.

Hasil Ijtimak Ulama Komisi Fatwa

Ustaz Irwansyah juga menyampaikan, bahwa jika dikembangkan lebih jauh, lingkungan juga harus disikapi dengan memperhatikan aturan syar’i. Misalnya fenomena hari ini dimana terkadang demi untuk kepentingan pribadi, mengorbankan kepentingan umum. Tidak jarang pesta pernikahan yang sifatnya hanya sunah muakkadah saja, namun harus mengorbankan hak umum seperti penutupan jalan umum. Tahun 2022, MUI Sumatera Utata dalam Ijtimak Ulama se SUmatera Utara telah menerbitkan fawa bahwa menutup jalan umum hukumnya haram. Kecuali pada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan untuk menutup jalan karena alasan darurat atau hajat. Namun itupun harus memperhatikan bebrapa hal seperti harus menyisakan jalan untuk orang berlalu lintas, tidak ditutup secara totalitas, ada izin pemerintah dll.

Lanjut Irwansyah bahwa seharusnya fikih lingkungan ini menjadi topik menarik untuk dibahas dan diangkat hari ini mengingat lingungan kita semakin memprihatinkan, lapisan ozon sudah mulai rusak karena teknologi, efek rumah kaca dan lainnya. Asap industri juga tak luput mencemari lingkungan udara sehingga terjadi polusi udara yang ini juga berdampak kepada kesehatan manusia. Inilah kedepan yang harus benar-benar diperhatikan agar keberlangsungan hidup manusia di bumi bisa hidup sehat dan steril dengan alam yang baik sebagaimana Allah ciptakan, tidak rusak dan kotor sebagaimana harini ini kita lihat. Karena itu, kebersihan lingkungan ini juga adalah bagian adri ajaran Islam.

Mimbar Agama Islam TVRI itu menjadi semakin hangat ketika Pemandu Acara Dr. Hotmatua Paralihan Harahap, M.Ag mengelaborasi dialog dengan apik sehingga persoalan-persoalan kekinian menjadi bahasan yang menyentuh kehidupan modern dengan lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Diakhir acara Irwansyah mengingatkan bahwa mulailah dari rumah sendiri masing-masing keluarga untuk menjaga lingkungan mulai dari tidak mencemari air, seperti sungai, membuang sampah secara teratur ditempat pembuangan sampah, tidak merusak fasilitas umum, melestarikan alam dan banyak lagi hal-hal lain dalam lingkungan hidup yang harus ditata dan dikelola. Umat manysu diciptakan dandiberi kebebeasan untuk mengelola bumi dan isinya, asal jangan merusaknya ujar Ustaz muda itu.

Irwansyah apresiasi acata TVRI Mimbar Agama Islam ini paling tidak menjadi media pencerahan kepada masyarakat. Kedepan kami dari Komisi Fatwa akan coba kerjasama dengan TVRI dalam hal sosialiasi fatwa-fatwa MUI kepada masyarakat melalui TVRI harapan Irwansyah kepada Tarmizi selaku pengelola acara.- (irw)

Khutbah Jumat di Masjid Ar-Rahmah, Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum: Pesan Akhlak Mulia

0

muisumut.or.id-Medan, Pada Jumat, tanggal 6 Oktober 2023, Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum, yang menjadi penceramah Khutbah Jumat di Masjid Ar-Rahmah Komplek MUI Sumatera Utara, menyampaikan pesan penting kepada jamaah yang hadir dalam khutbahnya.

Dr, Akmaluddin, dalam awal khutbahnya, mengucapkan Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Taala atas kesempatan untuk memberikan khutbah pada hari itu. Ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kualitas keimanan dan ketakwaan mereka, serta memahami bahwa takwa harus dijalankan dengan sepenuh hati, mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Taala, dan menjauhi larangan-Nya.

Dr. Akmaluddin menekankan pentingnya takwa dalam mencapai kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Ia mengingatkan bahwa takwa disebutkan lebih dari 50 kali dalam Al-Qur’an, dan Allah sangat menghargai orang yang menerapkannya dalam hidup mereka.

Setelah mengucapkan puji-pujian kepada Allah, penceramah juga mengajak seluruh jamaah untuk berselawat kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Ia mendorong agar seluruh aktivitas kita dianggap sebagai bentuk ibadah sesuai dengan ajaran agama.

Penceramah juga merangsang semangat untuk meniru akhlak mulia Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan berdoa agar Allah Subhanahu wa Taala tidak memanggil kita kecuali dalam keadaan tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

Dalam konteks bulan Rabi al-Awwal, Dr. Akmaluddin menyoroti tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Ia menekankan bahwa peringatan ini penting untuk memupuk cinta kepada Rasulullah dan mengambil contoh dari akhlaknya.

Penceramah menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah, dan kita, sebagai umatnya, harus menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ia mengajak untuk menjadikan akhlak karimah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.

Selain itu, Dr. Akmaluddin menyampaikan pesan tentang pentingnya sedekah dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa sedekah adalah tindakan yang mendekatkan kita kepada rahmat Allah. Namun, ia juga menekankan bahwa sedekah harus diberikan dengan akhlak yang baik, tanpa menyakiti penerima sedekah.

Penceramah mengutip hadis tentang pentingnya tersenyum sebagai bentuk sedekah kepada sesama. Ia menggarisbawahi bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam, dan kita harus berusaha untuk menjadi rahmat bagi semua ciptaan Allah.

Dr. Akmaluddin menutup khutbahnya dengan mengingatkan jamaah tentang pentingnya memuliakan tamu, merawat tetangga, dan berperilaku baik dalam sehari-hari. Ia meyakini bahwa dengan akhlak yang baik, kita dapat mengembangkan cinta dan kasih sayang, serta menjadi rahmatan lil alamin, sesuai dengan ajaran Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Khutbah Jumat ini memberikan pesan penting tentang pentingnya takwa, akhlak yang baik, dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pesan ini dapat menginspirasi jamaah untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan mereka, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana ajaran agama Islam yang mulia. (Yogo Tobing)

Menjelang Peringatan Maulid Nabi, Dr. Akmaluddin Syahputra Bahas Rahmatan Lil Alamin pada Khutbah Jumat

0

muisumut.or.id-Medan, Sumatera Utara, 6 Oktober 2023 – Masjid Ar Rahmah, yang terletak di Komplek MUI Sumatera Utara, menjadi saksi pelaksanaan khutbah Jumat yang menginspirasi oleh Dr. Akmaluddin Syahputra, M. Hum, pada hari ini. Khutbah tersebut memfokuskan pada dua aspek penting dalam Islam: akhlak yang baik dan pentingnya sedekah sebagai wujud rahmat kepada sesama.

Dalam khutbahnya, Dr. Akmaluddin mengawali dengan mengingatkan jamaah tentang peran Rasulullah Muhammad SAW sebagai “rahmatan lil alamin” atau rahmat bagi seluruh alam. Beliau menjelaskan bahwa menuju ke arah rahmatan lil alamin ini, setiap individu harus memiliki akhlak yang baik. “Perlu kita ingat bahwa Rasul diutus untuk memperbaiki akhlak manusia,” kata Dr. Akmaluddin dengan penuh semangat. Beliau menegaskan bahwa akhlak yang baik adalah salah satu tujuan utama ajaran Islam.

Dalam konteks sedekah, Dr. Akmaluddin memberikan pandangan yang mendalam. “Sedekah begitu dekat dengan rahmat Allah,” ujar beliau. “Ketika ada orang mati dihidupkan kembali, ibadah apa yang ingin dilakukannya? Yakni mereka menjawab sedekah. Karena sedekah sejatinya kita sedang mencurahkan rahmat kita kepada sesama kita.” Pesan ini menggarisbawahi pentingnya tindakan baik dan kedermawanan dalam agama Islam.

Namun, Dr. Akmaluddin juga menekankan bahwa sedekah harus dilakukan dengan memperhatikan akhlak yang baik. “Jangan sampai orang yang menerima sedekah merasa tersakiti,” pesannya. Ini mencerminkan prinsip Islam yang menuntut pemberi sedekah untuk memberikan dengan tulus dan penuh perhatian, tanpa menyakiti hati penerima.

Selanjutnya, Dr. Akmaluddin menguraikan prinsip Islam tentang menyayangi sesama dengan sebaik-baiknya. “Sebagaimana panutan kita, Rasul kita, selalu mengedepankan akhlak dalam melakukan sesuatu,” katanya. Menurutnya, sikap empati dan kasih sayang terhadap sesama adalah indikator baiknya iman seseorang.

Pesan yang disampaikan dalam khutbah ini merupakan pengingat bagi jamaah Masjid Ar Rahmah tentang pentingnya mengembangkan akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan sedekah dengan penuh rahmat serta perhatian kepada sesama. Pesan tersebut menginspirasi umat Muslim untuk menjalani hidup dengan penuh kebaikan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Sementara itu, MUI Sumatera Utara juga akan mengadakan peringatan maulid nabi bersama PJ Gubernur Sumatera Utara yang akan dilaksanakan pada Sabtu 7 Oktober 2023. Acara ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan dalam masyarakat Sumatera Utara. Maulid nabi merupakan salah satu momen penting bagi umat Muslim untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan mengambil inspirasi dari kehidupan beliau dalam mempraktikkan akhlak yang baik dan kedermawanan kepada sesama.

Ketua MUI Sumut Resmi Buka Musda ke IV dan PTKU Kabupaten Batubara

0

muisumut.or.id-Batubara, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, secara resmi membuka acara Musyawarah Daerah (Musda) ke IV MUI dan Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Kabupaten Batubara. Acara berlangsung di aula rumah dinas Bupati Batubara, Tanjung Gading Sei Suka, pada Rabu (4/10).

Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua MUI Sumut DR. H. Maratua Simanjuntak, Bupati Batubara Ir. H. Zahir MAP, Ketua DPRD Batubara Safii SH, Assisten II Kabupaten Batubara Rusian Herri, Kepala Kantor Kementerian Agama Batubara H. Sakoanda Siregar S.Ag, serta sejumlah pemimpin Pondok Pesantren dan perwakilan ormas Islam.

Dalam sambutannya, Dr. Maratua Simanjuntak menjelaskan bahwa MUI merupakan tenda besar bagi umat Islam yang berasal dari berbagai ormas Islam. Ia menekankan pentingnya kesatuan pikiran dalam menjalankan tugas sebagai pengurus MUI, agar tidak terjebak dalam kepentingan ormas dan fokus sepenuhnya pada kemajuan Islam.

“Kita harus Marhazun Fikri (satu pemikiran), sehingga MUI bisa lebih efektif dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam menghadapi berbagai fenomena yang mengarah pada penyimpangan terhadap ajaran Islam,” ujar Maratua.

Lebih lanjut, Maratua Simanjuntak menegaskan bahwa banyak kegiatan umat Islam yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu, tugas berat Majelis Ulama adalah memberikan panduan dan pemahaman yang benar kepada umat Islam.

Sebelumnya, Bupati Batubara Ir. H. Zahir MAP juga memberikan sambutan. Ia mengapresiasi peran aktif MUI dalam menjalankan tugasnya di Kabupaten Batubara dan dalam kehidupan masyarakat. Zahir menyebutkan beberapa tugas yang harus dihadapinya dalam upaya menjaga moralitas dan ketertiban masyarakat, termasuk tindakan tegas seperti membongkar bangunan warung esek-esek di pinggir jalan.

“Banyak tugas yang saya hadapi, namun saya yakin bahwa MUI selalu ada bersama saya dalam menjaga moralitas dan keadilan,” ungkapnya.

Bupati Zahir juga berharap agar pengurus MUI Batubara yang akan datang dapat menyusun laporan yang lengkap tentang aktivitas MUI di daerah tersebut, sehingga semua tugas yang telah dilakukan dapat terekam dengan baik dan menjadi referensi dalam mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan. (Yogo Tobing)

Sikap Kaum Muslimin terhadap pemimpin yang dzhalim.

0

Konsultasi Syariah Oleh: Hj. Asmawita Abdullah Manaf, Lc., MA
(Anggota Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara)

Deskripsi masalah:
Surah An-nisa ayat 59:
يا ايها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول و اؤلي الامر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه الي الله والرسول
………..

Kebanyakan kata ulil amri diartikan sebagai penguasa ataupun pemerintah, meskipun ada juga yg mengatakan bahwa maksudnya adalah Ulama.

Ada pendapat yg mengatakan bahwa rakyat tidak boleh (mungkin haram ?) berontak ataupun melawan pemerintahan yg sah dan pemimpinnya adalah muslim. Apabila pemerintah atau pemimpin melakukan kesalahan menurut syar’iyi seperti berlaku dzalim, maka kewajiban ulama untuk menasihati

Pertanyaan:
1. Siapa yang dimaksud dengan ulil amri pada Surah An-nisa, ayat 59 tsb ?
2. Bagaimana sikap kaum muslimin ketika mendapati pemerintah atau pemimpin mereka melakukan sesuatu yg melanggar Syarii’ah ?
3. فان تنازعتم في شيء فردوه الي الله والرسول
Siapa yg disuruh kembali kepada ALLAH dan Rasul ? Bagaimana caranya ?

Jawaban:
1. Pendapat kebanyakan Ulama yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah penguasa atau pemerintah (djjelaskan di dalam Tafsir Al-qurtubi dan tafsir As-sya’rawi).
2. Ketaatan kepada ulil amri hanya apabila mereka mentaati Rasul. Firman ALLAH pada Surah Al-hasyar (59):7

وما اتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله ان الله شديد العقاب

Apabila penguasa atau pemerintah berbuat tidak sesuai dengan tuntunan Rasul, maka sikap umat Islam terutama Ulama adalah menasihati dan atau menjauh dari mereka, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikut ini:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُ اللّٰهُ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَ عْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَّهُمْ فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ قَوْلًاۢ بَلِيْغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 63).

3. Maksud dari perintah kembali kepada ALLAH dan Ar-rasuul pada ayat فردوه الي الله و الرسول tsb adalah perintah kepada ulama dan pemerintah. Surah An-nisaa, ayat 83 menjelaskan hal tsb.
ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا جَآءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَ مْنِ اَوِ الْخَـوْفِ اَذَا عُوْا بِهٖ ۚ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِ لٰۤى اُولِى الْاَ مْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِۢطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَا تَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulilh amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 83)

Generasi Berkarakter: Mendidik Anak Sesuai Ajaran Rasulullah SAW di Acara Maulid

0

muisumut.or.id-Panyabungan Timur, 03 Oktober 2023 – Desa Huta Bangun menjadi saksi pelaksanaan kegiatan yang sarat makna dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini dihadiri oleh masyarakat setempat yang penuh antusiasme, di mana Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mandailing Natal, KH. Muhammad Nasir, Lc., S.Pd.I, turut serta sebagai narasumber utama. Kegiatan yang meriah ini digelar di Depan Kantor Desa Huta Bangun, menciptakan suasana yang khidmat.

Dalam pidatonya, Wakil Ketua MUI MADINA, Drs. H. M. Yusuf Nasution, M.Si., memberikan motivasi kepada hadirin untuk giat mengejar ilmu, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau menjelaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan umat Islam, dan harus menjadi fondasi utama dalam mendidik generasi muda agar menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan agama.

Ketua Komisi Dakwah MUI MADINA, KH. Mahyuddin Lubis, memimpin doa dalam acara tersebut, mengharapkan agar Allah SWT memberikan petunjuk dan rahmat kepada semua yang hadir, serta memberikan kekuatan dalam menjalankan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dalam ceramahnya, Ketua MUI Kabupaten Mandailing Natal, KH. Muhammad Nasir, Lc., S.Pd.I, menegaskan pentingnya Nabi Muhammad SAW sebagai teladan uswatun hasanah bagi umat Islam. Beliau menekankan perlunya mengambil teladan dari ajaran dan perilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, acara peringatan Maulid Nabi ini juga membahas metode mendidik anak sesuai dengan hadis Rasulullah SAW, memberikan panduan berharga bagi para orang tua dalam membentuk karakter anak-anak mereka. Pesan moral dan etika yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW menjadi pedoman dalam mencetak generasi yang saleh dan bertakwa.

Sebagai tambahan, kegiatan ini juga melibatkan Mahasiswa KPI STAIN MADINA sebagai pembawa acara dan pendidik bagi anak-anak di desa binaan dalam membaca Al-Qur’an dan mengulang pelajaran di sekolah.

Peringatan Maulid Nabi ini bukan hanya sebuah momen bersejarah, melainkan juga momentum untuk memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semangat kebaikan yang ditanamkan dalam acara ini dapat terus menginspirasi masyarakat Desa Huta Bangun dan sekitarnya. (Yogo Tobing)