Thursday, March 12, 2026
spot_img
Home Blog Page 113

Koperasi Amanah Ulama MUI Sumut Jajaki Peluang Bisnis Pertanian Organik di Desa Semadam Asal, Aceh Tenggara

0

muisumut.or.id-Aceh Tenggara, Koperasi Produsen Syariah Amanah Ulama (KPSAU), PINBAS MUI Sumut telah melakukan kunjungan ke Desa Semadam Asal, Aceh Tenggara pada hari Sabtu, 29 April 2023, guna melihat peluang pertanian organik atau alami. Desa Semadam Asal dipilih karena di sana telah terbukti sukses mengelola pertanian secara alami dan organik. Tim KPSAU yang terdiri dari Ketua KPSAU Dr. H. Indra Utama SE Msi, Wakil Ketua Dr. H. Akmaluddin Syahputra M.Hum, Sekretaris Ali Suman Daulay, Eksekutif Manager Prof Ilmi Abdullah, dan tim pemasaran KPSAU yakni Ir. Jairi Tavip dan Zainal SE, serta Dr. Ir. Muhammad Yani Bas selaku penasehat Teknologi KPSAU dan pembina pertanian organik percontohan Desa Semadam Asal, turut serta dalam kunjungan ini.

Dr. Indra Utama, mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan kesempatan untuk mempelajari bagaimana para petani di Desa Semadam Asal mengelola pertanian secara alami yang dipandu oleh Muhammad Rifai petani pemilik lahan pertanian di desa tersebut yang telah menjadi Mitra KPSAU. Hal ini sangat penting bagi KPSAU, yang memiliki produk utama yakni pupuk organik dgn teknologi YaniSys, karena dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. KPSAU berharap dapat mempelajari sistem pertanian yang telah terbukti sukses di Desa Semadam Asal dan menerapkannya pada binaan pertanian KPSAU.

Mitra KPSAU, Muhammad Rifai, mengungkapkan bahwa pada periode pertama penggunaan pupuk organik padat dan POC, ia menggunakan sekitar 300-400kg pupuk padat dari kotoran sapi untuk 1/4 ha sawah. Setelah diaplikasikan, terjadi penetralisasi pada tanah yang awalnya rusak dan perlahan pulih. Selama masa pertumbuhan, petani aplikasikan pupuk organik cair setiap 10 hari sekali untuk membantu pertumbuhan tanaman. Setelah 3 bulan, pada periode pertama, padi berhasil dipanen dengan kualitas yang baik dan bernilai tinggi, meskipun hasilnya tidak terlihat bergoni-goni namun dalam segi berat, mencapai hasil di atas padi kimia. Total berat pada periode pertama mencapai 5 goni dengan total lebih dari 400 kilogram.

Dalam kunjungan tersebut, KPSAU menemukan tiga poin penting, yaitu pemasaran bibit padi organik dari Desa Semadam Asal, fasilitasi pembentukan kelompok tani organik di Aceh Tenggara, serta persiapan kerja sama pembentukan usaha kontrak pertanian organik di Aceh Tenggara dan Sumatera Utara. KPSAU berharap dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk mengembangkan bisnis pertanian organik di Sumatera Utara dan Aceh Tenggara. KPSAU berkomitmen untuk terus mempelajari dan mengembangkan teknologi pertanian organik guna meningkatkan produktivitas pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

KPSAU juga akan terus bekerja sama dengan para petani untuk mempromosikan pertanian organik dan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah Sumatera Utara dan Aceh Tenggara. KPSAU percaya bahwa pertanian organik dapat menjadi salah satu alternatif solusi bagi permasalahan pangan dan lingkungan yang sedang dihadapi saat ini. (Yogo Tobing)

Penjelasan MUI tentang Perbedaan Penentuan Awal Syawal 1444 H: Menyikapi dengan Sikap Toleransi

0

muisumut.or.id-Jakarta, Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Profesor KH Asrorun Niam Sholeh, mengemukakan penjelasan mengenai kemungkinan perbedaan penetapan awal Syawal 1444 H dan hukum berpuasa pada Jumat.

Dalam rilis pers yang diterima oleh MUIDigital pada hari Kamis (20/4/2023), Profesor Niam menyampaikan beberapa poin terkait ketidakjelasan informasi dan perspektif keagamaan mengenai hukum berpuasa pada hari Jumat sebagai berikut:

Pertama, penentuan awal bulan dalam kalender Hijriyah, seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, merupakan wilayah penafsiran yang dapat menghasilkan perbedaan di kalangan cendekiawan agama (fuqaha). Oleh karena itu, dalam bidang keilmuan, perbedaan merupakan hal yang bisa terjadi. Profesor Niam menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam ranah perbedaan pandangan atau di tempat-tempat di mana perbedaan mungkin terjadi, harus dihadapi dengan sikap toleransi (tasamuh).

Penetapan 1 Syawal 1444 H berpotensi mengalami perbedaan waktu. MUI mengimbau seluruh umat Islam untuk menghadapi perbedaan tersebut dengan sikap toleransi dan saling menghargai.

Perbedaan yang didasarkan pada pertimbangan ilmu pengetahuan akan menciptakan pemahaman bersama (tafahum) bukan konflik (tanazu‘) dan permusuhan (‘adawah). Oleh karena itu, dalam beragama, diperlukan ilmu agar muncul semangat harmoni dan kebersamaan.

Sikap toleransi sendiri merupakan perintah yang tercantum dalam Alquran surat al-Hujurat ayat 10, yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, oleh karena itu damaikanlah di antara saudara-saudaramu yang bertengkar dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat-Nya.”

Kedua, penetapan awal Syawal 1444 H sebaiknya menunggu hasil keputusan yang diambil oleh Pemerintah, yang dimulai dengan sidang itsbat dan melibatkan perwakilan organisasi keagamaan Islam, para ahli dalam bidang astronomi dan falak, serta pertimbangan MUI.

Ketiga, dalam menghadapi perbedaan tersebut, bagi mereka yang menggunakan ijtihad berdasarkan kemunculan hilal dan bagi mereka yang meyakini dan mengikuti pandangan bahwa Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, maka mereka tidak boleh berpuasa. Mereka akan melaksanakan shalat Idul Fitri.

Sementara itu, bagi mereka yang menggunakan ijtihad berdasarkan rukat atau hisab imkanur rukyat dengan kriteria ketinggian hilal 3 derajat, dan bagi mereka yang meyakini dan mengikuti pandangan bahwa Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu, maka mereka tetap berpuasa pada hari Jumat.

Hal ini disebabkan oleh pelaksanaan shalat Idul Fitri yang akan dilakukan pada hari Sabtu, sehingga mereka tidak boleh berpuasa pada hari tersebut.

Profesor Niam juga memberikan pesan kepada umat Islam untuk beragama dengan ilmu. Namun, jika mereka tidak memiliki pengetahuan, maka umat Islam harus mengikuti pendapat orang yang berilmu, dalam konteks ini adalah para ulama yang berpengetahuan. (Yogo Tobing)

Talkshow Ramadhan 1444 H MUI Provinsi Sumatera Utara, Bahas Gerhana Matahari dan & Prediksi 1 Syawal

0

muisumut.or.id-Medan, Dalam rangka menyambut Penghujung Ramadan 1444 H, MUI Provinsi Sumatera Utara menggelar talkshow Ramadhan pada tanggal 27 Ramadhan 1444 H/18 April 2023 M di Studio Kedai Wakaf MUI SU. Acara ini dipandu oleh Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M. Hum., selaku Ketua Bidang Infokom MUI SU, dan dihadiri oleh dua narasumber yaitu Dr. H. Maratua Simanjuntak selaku Ketua Umum MUI SU dan Dr. KH. Arso, SH, M. Ag. selaku Wakil Ketua Umum MUI SU.

Pada awal acara, Dr. H. Akmaluddin Syahputra menyampaikan rasa syukur karena masih diberikan kesabaran untuk bisa beribadah di bulan suci Ramadan. Ia juga menginformasikan tentang adanya gerhana matahari pada Kamis, 20 April 2023 yang akan terjadi secara hybrid atau gabungan dari gerhana matahari total dan gerhana matahari cincin. Di hari yang sama, umat Islam juga akan menghadapi hari raya Idul Fitri yang kemungkinan akan berbeda dengan saudara kita yang berada di Muhammadiyah. Oleh karena itu, dalam talkshow ini, MUI Provinsi Sumatera Utara ingin membahas bagaimana MUI menyikapi dua hal tersebut.

Dr. H. Maratua Simanjuntak menjelaskan bahwa gerhana matahari hybrid yang terjadi pada tahun 2023 memang merupakan fenomena yang cukup unik. Menurutnya, gerhana ini terjadi ketika gerhana matahari total dan gerhana matahari cincin terjadi pada waktu yang bersamaan. Gerhana matahari total biasanya terjadi ketika bulan benar-benar menutupi matahari sehingga menyebabkan kegelapan total. Sedangkan pada gerhana matahari cincin, bulan tidak dapat menutupi matahari secara penuh sehingga terlihat seperti cincin yang terang. Namun, pada gerhana matahari hybrid, terdapat fase dimana sinar matahari masih melingkar di sekitar bayangan hitam yang tercipta sehingga memberikan pengalaman yang unik bagi para pengamat.

Dr. KH. Arso, SH, M. Ag. menambahkan bahwa gerhana matahari hybrid ini dapat diamati dari seluruh Indonesia. Gerhana ini terjadi pada tanggal 20 April 2023 dan memiliki beberapa fase, di antaranya fase kontak penumbra, fase kontak umbra, dan fase maksimum gerhana. Menurut MUI, ketentuan pelaksanaan salat khusuf (salat gerhana matahari) sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Oleh karena itu, pada tanggal 20 April 2023, sekitar jam 9.30 WIB, disunahkan untuk melaksanakan salat khusuf menjelang gerhana matahari. Namun, pengamatan gerhana matahari harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak langsung melihat matahari karena sinarnya dapat mengganggu mata dan kesehatan. Pengamat dapat menggunakan kacamata khusus atau melihat gerhana matahari melalui proyektor atau layar yang disediakan oleh pihak yang berwenang.

Selain itu, selama gerhana matahari terjadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti tidak melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama yang membutuhkan penglihatan langsung ke matahari, seperti mengemudi, berkendara sepeda motor, atau bermain olahraga. Selain itu, penggunaan kacamata hitam biasa tidak dianjurkan untuk melihat gerhana matahari karena tidak cukup efektif untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet yang membahayakan.

Sebelum melaksanakan salat khusuf, sebaiknya memperhatikan informasi resmi dari pihak yang berwenang, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atau lembaga lain yang memiliki otoritas dalam hal pengamatan dan pelaporan gerhana matahari. Dengan demikian, kita dapat melaksanakan salat khusuf dengan benar dan aman.

Terkait penetapan 1 syawal, Tim Hisab Rukyah MUI telah menetapkan bahwa 1 syawal jatuh pada tanggal 22 April 2023. Dr. H. Arso mengungkapkan bahwa kemungkinan terjadinya perbedaan cukup besar. Hal ini dikarenakan perbedaan metode dalam penentuan 1 syawal. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah, MUI berdasarkan fatwanya nomor 2 tahun 2004 merupakan majelis yang menyuarakan suara Pemerintah RI dalam rangka menjembatani perbedaan di antara ormas-ormas Islam dalam menetapkan awal bulan ramadhan, syawal dan dzulhijjah.

Bagi yang ingin melihat talkshow tersebut, silakan klik di sini (Yogo Tobing)

“P2WP MUI Sumut Salurkan Donasi Senilai Rp 12 Juta Dalam Kegiatan Berbagi Iftar Selama Ramadan 2023”

0

muisumut.or.id-Medan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Sumatera Utara (Sumut) telah melakukan kegiatan berbagi ifthar selama bulan Ramadan 2023. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu dan membagikan rezeki kepada masyarakat yang membutuhkan. Direktur P2WP MUI Sumut, Dr. Akmaluddin Syahputra, mengungkapkan bahwa total donasi yang dikelola oleh P2WP mencapai Rp. 12.350.000. Dana tersebut dialokasikan untuk kegiatan berbagi ifthar setiap harinya.

Kegiatan berbagi ifthar ini dilakukan dengan cara menyediakan makanan ifthar bagi para santri PTKU MUI Sumut selama bulan ramadan. Selain itu, P2WP juga turun ke jalan untuk langsung membagikan ifthar kepada para pengguna jalan belum lama ini. Pada hari Sabtu, 17 April 2023, P2WP juga berbagi kepada masyarakat di sekitaran kantor MUI Sumut Jalan Majelis Ulama Indonesia, Medan. Berbagai macam bahan makanan yang bergizi diberikan kepada masyarakat.

“Kami membagikan 15 paket seperti beras sebanyak 8 kg, sayuran hidroponik 1 kg, minyak makan 1 kg, dan gula 1kg,” terang Dr. Akmal.

Meskipun barang yang dibagikan sederhana, namun Dr. Akmaluddin mengungkapkan bahwa ia berharap pemberian tersebut bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi yang menerimanya.

“Meskipun yang kami bagikan sederhana, namun insyaAllah bisa memberikan manfaat dan keberkahan dari apa yang telah dibagikan, menjadi pahala bagi donatur dan semangat pula bagi yang mendapatkan ifthar,” ujarnya.

Dr. Akmaluddin juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh para donatur yang telah membeli di kedai wakaf MUI Sumut. Belanja di kedai wakaf tersebut memberikan kontribusi bagi P2WP MUI Sumut dalam mengembangkan wakaf produktif.

Tidak hanya menerima donasi berupa uang, namun ada juga yang datang langsung menyerahkan nasi kotak seperti IPHI, Kopi dari Pesantren Darul Mursyid, Bakery dari GOGO Bakery, dan ada juga Dewan Pimpinan yang ikut andil, yakni Ibunda Nani Ayum Panggabean dan Drs. Putrama Alkhairi yang memberikan makanan berbuka puasa melalui P2WP, ujar Dr. Akmaluddin.

Setelah kegiatan berbagi ifthar selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama pengurus P2WP dan pengurus Wakaf Ekonomi Generation. Acara tersebut merupakan moment berkumpul dan mempererat tali silaturahmi dalam rangka membangun kebersamaan dan meningkatkan kualitas kinerja P2WP MUI Sumut.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Akmaluddin juga berharap agar di tahun-tahun berikutnya kegiatan berbagi ifthar bisa terus dilakukan dan semakin banyak masyarakat yang bisa dijangkau dengan kegiatan tersebut. Kegiatan berbagi ifthar ini bukan hanya sekadar memberikan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan, namun juga memberikan pesan moral dan sosial dalam menghadapi hidup yang tidak selalu mudah. (Yogo Tobing)

Ramadhan Berbagi Sosben MUI SU Dengan Muallaf India dan Ma’had Tahfizh serta Punggahan Bersama Dhuafa

0

muisumut.or.id-Medan, Dengan semangat kemandirian , keikhlasan dan mengharap Ridho Ilahi, BidKom Sosben MUI SU memberikan sembako kepada 40 orang Muallaf India di Masjid Ghaudiyah yang berlokasi di Jalan Zainul Arifin Medan pada Hari Ahad, 25 Ramadhan 1444 H / 16 April 2023.

BidKomSosben MUI SU sekalian berbuka bersama di Masjid tua Ghaudiyah yang sudah berdiri sejak tahun 1887 dengan hidangan Khas India Nasi Biryani dan bubur sup . Diungkapkan oleh Ketua Yayasan South Indian Moeslem Mosque, Mohammad Siddik Saleh “Kalau setiap harinya di sini memang ada berbuka dengan bubur sup khas India dan minuman chai, dan setiap hari Ahad Nasi Biryani” ucap Pak Siddik.

“Ketua Yayasan Pak Siddik Saleh sangat gembira dan menyambut Tim Sosben dengan penuh ukhuwah , tutur Hj.Laila Rohani Ketua Bidang Sosben. Pak Siddik juga mengucapkan terimakasih kepada semua anggota Sosben yang rela ikhlas mengumpul donasi bantuan sembako untuk Muallaf dan Dhuafa di bantaran Sungai Deli .

Di Masjid Ghaudiyah tersebut tim Sosben juga bertemu dan bersilaturahim dengan tamu dari Ma’had Tahfizh Perak Malaysia.

Selain berbagi sembako kepada Muallaf, Tim Sosben juga bersedekah Ifthar ke Ma’had Tahfizh Qur’an Al Qadri di Lau Dendang pada Hari Jum’at, 16 Ramadhan 1444H/ 7 April 2023. Sedekah Ifthar diantar langsung pengurus Komsosben Hj. Sakdiyah Rahman .

Sebelumnya juga BidKomSosben sudah menggelar kegiatan bagi sembako dan punggahan bersama dengan senyum ceria penuh bahagia bersama dhu’afa warga binaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli pada Hari Rabu 30 Sya’ban 1444 H/ 22 Maret 2023 di Jalan Palang Merah Gg Jembatan.

“Punggahan ternikmat, dan perjalanan paling bahagia bagi saya ketimbang tour luar negeri”.Tutur Nani Ayum Panggabean Sekretaris bidang Sosben .”Di bawah tirai pohon bambu kuning seperti berada di Tiongkok, taman indah yang resik, bersih, musholla kecil yang indah membuat kita terpesona”. Lanjut Nani Ayum.

Warga Binaan Sosben MUI SU DAS di bawah Jembatan Jln Palang Merah Medan ini terdiri dari 15 KK, mereka hidup rukun, hidup seadanya, kerja serabutan, pembantu, tapi wajah mereka damai, terpancar bahagia dan ikhlas. Lingkungannya pun sangat terawat bersih dan asri. Biasanya kita melihat daerah bantaran sungai sedikit kumuh.

Ketua Komisi Sosben MUI SU Amelia Zuliyanti Siregar memberi informasi kepada mereka akan kehadiran Sosben membawa sembako dan makanan berupa ayam dan urap untuk punggagahan bersama , mereka pun menyambut gembira , menggelar tikar dan mereka masih bisa bersedekah teh manis hangat, buah potong dan gulai ikan rebung yang nikmat diambil dari pohon bambu di halaman tempat tinggal mereka. Luar bisa dalam tiada , hidup seadanya masih bisa berdekah. Kata Amelia.

“Bersedekah itu sungguh nikmat, membuat orang bahagia dan raga pun bertambah sehat ” tutur Nani diujung pembicaraannya. Laila Ketua Bidang Sosben mengucapkan “Terimakasih atas keikhlasan tim Sosben mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk bersedekah”. (Nani Ayum Panggabean)

Ceramah Keshalehan Sosial Oleh Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean, Ajak Umat Muslim Perbanyak Amal Ibadah dan Berbuat Kebaikan pada Bulan Ramadan

0

muisumut.or.id-Medan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan ceramah bertema “Keshalehan Sosial” yang disampaikan oleh Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean, MA., Sekretaris Bidang Sosial dan Bencana MUI SU. Acara yang disiarkan di Kanal YouTube MUI Sumut tersebut berlangsung pada Ahad, 25 Ramadhan 1444 H/16 April 2023 M.

Dalam ceramahnya, Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean mengajak umat muslim untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan Ramadan yang penuh barokah ini. Sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, setiap amal yang dilakukan oleh seorang muslim akan diberikan pahala oleh Allah SWT, kecuali berpuasa. Puasa adalah khusus untuk Allah SWT, dan balasan pahala puasa adalah tanpa batas.

Selain memperbanyak amal ibadah individual, Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean juga menekankan pentingnya keshalehan sosial dalam bulan Ramadan. Umat muslim diharapkan dapat memperbanyak zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, serta berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 267, Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah mereka membelanjakan/menginfakkan hartanya sebagian dari harta yang telah Kami anugerahkan kepadanya. Orang yang menafkahkan hartanya ini merupakan salah satu ciri-ciri orang yang bertakwa.”

Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean juga mengajak umat muslim untuk memperhatikan kondisi sosial di sekitar mereka, terutama pasca pandemi COVID-19. Banyak saudara kita yang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan kehilangan pekerjaan. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan ini, kita perlu lebih berbagi kepada sesama, terutama kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Dalam rangka membantu sesama, Dra. Hj. Nani Ayum Panggabean memaparkan sebuah contoh nyata di Kelurahan Lingkungan 4, di mana banyak anak yatim yang putus sekolah karena kekurangan biaya. MUI Sumut bersama dengan Takaful Aitam, berhasil membantu 50 anak yatim dengan menanggung biaya sekolah mereka, mulai dari SD hingga SMA. Tak hanya itu, pada bulan Ramadan, mereka juga memberikan sembako kepada anak yatim tersebut.

Melalui ceramah ini, MUI Sumut mengajak seluruh umat muslim untuk memperbanyak amal ibadah dan berbuat kebaikan, terutama kepada sesama yang membutuhkan, dalam rangka meraih keberkahan pada bulan Ramadan yang penuh barokah ini. (Yogo Tobing)

MUI Sumatera Utara Adakan Muzakarah Bahas Keistimewaan Puasa Syawal dan Positive Behavior Setelah Idul Fitri

0

muisumut.or,id-Medan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara mengadakan Muzakarah pada hari Ahad tanggal 16 April 2023 dengan menghadirkan Dr. Iqbal Habibi Siregar, M.Pd.I selaku Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara sebagai pemateri utama. Salah satu topik yang diangkat dalam muzakarah kali ini adalah mengenai pengertian dan keistimewaan puasa sunnah, khususnya puasa Syawal.


Dalam muzakarah tersebut, Dr. Iqbal Habibi Siregar, M.Pd.I menguraikan pengertian puasa sunnah taṭawwu’ dan hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan puasa Syawal. Salah satunya adalah hadis dari Abi Ayyub al-Ansari ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “siapa yang berpuasa Ramadan kemudian menyertakannya puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti puasa setahun”.

Adapun hukum permasalahan mengenai puasa Syawal, ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal disunnahkan berdasarkan hadis tersebut. Mereka juga menekankan bahwa cara melaksanakan puasa yang paling istimewa adalah dengan mempuasakannya berurutan setelah Hari Raya Idul Fitri. Namun, jika seseorang memisah-misah enam hari Syawal atau melaksanakannya di akhir Syawal, maka puasanya sah dan sudah termasuk melaksanakan sunnah.

Puasa Syawal memiliki keistimewaan tersendiri, dimana puasa Ramadan setara dengan 10 bulan, sementara puasa enam di bulan Syawal setara dengan dua bulan. Maka yang demikian menjadi puasa setahun, artinya seperti puasa setahun tanpa dikalikan, sebagaimana mereka mengatakan tentang surah al-Ikhlas setara dengan 1/3 Alquran.

Namun, kesunnahan puasa Syawal berlaku juga bagi orang yang tidak puasa. Lain halnya dengan orang yang tidak puasa tanpa uzur, maka dia wajib segera qada.
Selain itu, Dr. Husnel Anwar Matondang sebagai narasumber kedua pada muzakarah tersebut, membahas mengenai pemerolehan positive behavior pada Idul Fitri sebagai hasil dari pembinaan madrasah Ramadan. Positive behavior atau perilaku positif yang diperoleh setelah Ramadan merupakan hasil dari puasa dan semua amal yang dilakukan di dalam madrasah Ramadan tersebut.

Menurut Al-Quran, keadaan tersebut digambarkan sebagai la‘allakum tattaqun, yang berarti terdapat probabilitas tinggi bagi pelaku ibadah puasa untuk sampai pada konsistensi berperilaku positif. Namun, ayat tersebut juga memberikan kemungkinan sebaliknya, yaitu seseorang tidak mendapatkan buah dari ibadah yang dilakukannya. Oleh karena itu, pemenuhan terhadap ketentuan syariyyah dan kauniyyah-nya diharapkan dapat mendatangkan akibat positif dari amaliyah Ramadan ketika ia direalisasikan.

Untuk memperoleh positive behavior dari amaliyah puasa dan ibadah-ibadah Ramadan diperlukan pengetahuan terhadap ketentuan syariyyah dan kauniyyah-nya. Berdasarkan isyarat-isyarat nash, maka buah dari keberhasilan ibadah itu dapat terlihat pada diri para pelakunya. Hal yang paling mudah untuk disaksikan adalah adanya perubahan ke arah perilaku positif yang meningkat yang diperankan orang yang berpuasa ketika memasuki

Idul Fitri, baik pada kesalihan pribadi maupun kesalihan sosialnya. Allah mensyariatkan terhadap umat ini untuk merayakan dan bergembira pada Idul Fitri, di mana Allah telah memenuhi nikmat-Nya dan menyempurnakan kasih-sayang-Nya. Nikmat dan kasih sayang itu hadir setelah ditunaikan kewajiban berpuasa, membayar zakat fitrah, dan ibadah-ibadah lainnya. Oleh sebab itu, bagi hamba-hamba Allah yang ibadahnya diterima Allah, maka mereka dibebaskan dari api neraka. Karena itu mereka bergembira dan merayakan peristiwa itu, seakan-akan mereka kembali kepada kesucian fitrahnya. Ibadah terpenting dalam Idul Fitri adalah shalat ‘id.

Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik pada ibadah shalat pada hari raya tersebut. Pertama, shalat ‘id merupakan kesadaran besar terhadap syiar Islam. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha merupakan syiar Islam yang paling agung. Kedua, shalat hari raya adalah parade unjuk kekuatan persatuan dan kuantitas kaum Muslim. Seluruh kaum Muslim disunnahkan berhadir ke tanah lapang, tidak terkecuali anak-anak dan wanita haid. Mereka juga disunnahkan untuk mengambil jalan yang berbeda antara datang dan pulang dari tempat shalatnya. Ketiga, dua hari raya umat Islam ini adalah cermin dari inti ajarannya, yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.

Ia melanjutkan, yang dimaksud dengan positive behavior dalam ibadah puasa adalah perilaku positif sebagai akibat dari melaksanakan ibadah praktis puasa Ramadan. Efek dari ibadah ini mampu menciptakan pribadi dengan nilai-nilai kebaikan yang tinggi. Hal itu dihasilkan dari pengamalan dan penghayatan ibadah yang dilakukan secara benar dan kontiniu. Perilaku positif ini jika dipraktekkan oleh banyak orang sesuai dengan kaidah-kaidah syariah, maka akan menciptakan efek positif pula pada lingkungan pelakunya; dan otomatis akan mendatangkan hayah as-saadah, baik pribadi maupun masyarakat, dunia dan akhirat.

Puasa Ramadan yang dilakukan secara berulang setiap hari hingga mencapai waktu yang relatf lama, satu bulan penuh, akan mewujudkan pembiasaan atas mengendalian syahwat, seperti makan, minum, jimak, ghibah, dusta, dan semua kemaksiatan. Pembiasaan ini akan menjadikan pelakunya habit dengan pengendalian tersebut. Sehingga, memunculkan sosok yang memiliki potensi untuk mampu menepis semua kemaksiatan dan tindakan hiresi dan destruktif.

Puasa tidak saja memunculkan kemampuan pengendalian dan proteksi diri, tetapi juga pada sisi yang lain akan memperkaya sikap empati terhadap penderitaan orang lain yang disebabkan masalah kekurangan pangan dan ekonomi. Wujud empati atas hal ini direalisasikan dengan diwajibkannya mengeluarkan zakat fitrah bagi setiap individu kaum Muslim. Dengan kata lain, Islam dengan ibadah zakat tersebut merupakan salah satu solusi masalah pangan dan ekonomi tersebut. Jelaslah bahwa ibadah Ramadan sarat dengan upaya positive behavior bagi setiap pelakunya yang oleh al-Qu`an disebut dengan tattaqun. (Yogo Tobing)

Penceramah Safari Ramadhan MUI SU Tahun 2023 Melibatkan Perempuan

0

Sudah beberapa tahun Safari Ramadhan MUI SU vakum tidak aktif terlaksana , karena akibat Pandemi Covied 19.Tahun 2023 kembali aktif dan istimewanya kali ini Tim Safari Ramadhan melibatkan penceramah perempuan .

Dalam rapat penentuan kegiatan Safari Ramadhan 2023 yang langsung dipimpin Bapak Ketua Umum Dr.H.Maratua Simanjuntak menyatakan Safari Ramadhan kali ini akan mengikutsertakan Daiyah /Muballighah. Pernyataan Bapak Ketua Umum ini adalah sebuah keputusan kegiatan Patisipasi Gender dan ini tanpa diminta para perempuan , tentunya hal ini disambut baik dengan penuh syukur oleh para Ibu yang ada di jajaran Dewan Pimpinan MUI SU.

“Alhamdulillah ada kemajuan kebijakan dalam kegiatan MUI SU yang berbasis gender”, tutur Hj Rusmini Ketua Bidang Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI SU. Tentunya kebijakan seperi ini sejalan dengan Pesan Cerdas Ilahiyah yang terdapat pada Qur’an Surat At-Taubah ayat 71.

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Perlu juga diketahui bahwa Kepengurusan DP MUI SU masa bakti 2020- 2025 telah memberikan kepercayaan 4 (empat ) orang perempuan untuk ikut duduk dalam jajaran kepengurusan harian MUI SU, hal ini tentunya sebuah penghormatan yang harus disambut baik para ibu dengan semangat dedikasi yang tinggi.

Penceramah Safari Ramadhan tahun 2023 ini adalah langsung dipimpin Bapak Ketua Umum MUI SU Dr.H.Maratua Simanjuntak dan Pengurus Harian Dewan Pimpinan MUI SU seperti Prof.Dr.H.Asmuni, MA. , Dr.H.Arso,SH,M.Ag Dr.H.Ardiansyah, Drs.H.Sotar Nasution l, MHB, Prof.Dr. H.Hasan Bakti Nst, Prof Dr.H.Moh Hatta, Prof.Dr.H.Fakhruddin Azmi, MA.Dr. Abul Rahim, MA. Drs.H.Palid Muda Harahap, MA, Dr. H.Abdul Hamid Ritonga,MA. Dr.H.Arifin syah,MA. Drs.H.Ahmad Sanusi, Lc,MA., Dr.H.Akmaludin Syahputra ,M.Hum. , K.H.Akhyar Nasution, Lc, MA. Dr.H.Sugengwanto, MA. Dr.H.Wirman Tobing, Dr.Irwansyah, MHI. , Dr.H. M.Thohir Ritonga,MA., Drs.H.Arifin Umar dan tentu yang istimewa menerjunkan langsung 4 orang pengurus DP Perempuan yaitu Dra.Hj.Rusmini, MA, Dra. Hj.Laila Rohani, M.Hum, Dra.Hj.Wan Khairunnisa, MA. dan Hj.Nani Ayum Panggabean.

Kegiatan Safari Ramadhan Tahun 2023 ini dilakasanakan pada 9 Kabupaten/Kota dan 78 Masjid. Dimulai pada Hari Senin tanggal 5 Ramadhan 1444H/ 27 Maret 2023 di Kabupaten Deli Serdang dan berakhir pada hari Jum’at , 23 Ramadhan 1444 H/ 14 April 2023 di Kabupaten Karo.Tema yang diusung adalah “Momentum Ramadhan 1444 H , Menguatkan dan Meneguhkan Aqidah dan Ukhuwah.”

Satu hal lagi yang menarik dan berkesan bagi para Ibu bahwa posisi berdiri Penceramah Muballighah dalam memberikan taushiah adalah di depan jamaah laki laki dan perempuan. Pada zaman dahulunya penceramah perempuan tetap berada pada saf perempuan dan jama’ah laki laki yang berbalik kanan mendengar taushiahny. Hal ini membuat Nisa dan Nani Ayum merasa haru atas penghormatan ini. (Nani Ayum)

Ketua PINBAS MUI Sumut, Drs. Putrama Alkhairi: Peningkatan Porsi Dakwah tentang Ekonomi sebagai Solusi Masalah Krusial di Indonesia

0

muisumut.or.id-Medan, Ketua PINBAS MUI Sumut, Drs. Putrama Alkhairi, memberikan ceramah di Masjid Ababil Medan Zoo Kecamatan Medan Tuntungan, pada Sabtu, 15 April 2023. Dalam ceramahnya, Drs. Putrama Alkhairi menyampaikan pentingnya meningkatkan porsi dakwah tentang ekonomi sebagai solusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang krusial di Indonesia.

Menurutnya, dakwah bil hal harus diimplementasikan secara langsung dan tidak sekedar berbicara. Drs. Putrama Alkhairi juga mengemukakan bahwa umat Islam harus memiliki korporasi agar dapat membangkitkan perekonomian dan meningkatkan pemberdayaan ekonomi umat. Selain itu, UMKM dan entrepreneur Muslim juga harus didesain secara baik agar tidak kehilangan pasar.

Drs. Putrama Alkhairi menekankan pentingnya pemahaman masalah enterpreneur bagi para mubaligh. Ia menambahkan bahwa para mubaligh seharusnya menguasai masalah entrepreneur. Menurutnya, hal tersebut merupakan sejarah, karena Islam berkembang mulai masa Rasulullah, para sahabat, dan generasi selanjutnya, termasuk yang ke Indonesia juga para entrepreneur ulama dan ulama entrepreneur. Dalam konteks tersebut, pemahaman masalah ekonomi dan entrepreneurship merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah Islam.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa MUI Sumut bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat telah melakukan pelatihan untuk entrepreneur muda secara berkala, sehingga mereka memiliki mental yang kuat dan tidak mudah menyerah dalam berbisnis.

Drs. Putrama Alkhairi juga menyoroti pentingnya bingkai ekonomi syariah yang dapat memberikan terobosan baru bagi umat untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Dalam kesempatan itu, Drs. Putrama Alkhairi berharap agar porsi dakwah tentang ekonomi harus proporsional dan harus diberikan perhatian serius. (Yogo Tobing)

Kunjungan Safari Ramadan MUI Sumut ke Batubara diharapkan Perkuat Silaturahmi dan Akidah di Antara Umat Islam

0

muisumut.or.id-Batubara, Kunjungan Safari Ramadan Tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara (Sumut) ke Kabupaten Batubara mendapat dukungan dari MUI dan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Batubara. Hal ini diungkapkan dalam sambutan Ketua Umum MUI Kabupaten Batubara, H. Muhammad Hidayat Lc, MA pada acara safari Ramadan MUI Sumut di Kabupaten Batubara, pada rabu (12/4).

Hidayat menyampaikan terima kasih kepada Kemenag yang telah mendukung kunjungan MUI Sumut ke Kabupaten Batubara. Ia juga mengungkapkan bahwa MUI Kabupaten Batubara selalu mendapat perhatian dari MUI Sumut dan berharap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh MUI dapat menguatkan silaturrahim di antara kabupaten dan kota, khususnya di Kabupaten Batubara.

“Kami mohon bimbingan dan nasihat karena terkadang kami di lapangan ada kendala. Sesekali kami menelpon buya Maratua, alhamdulillah dengan koordinasi dapat terselesaikan. Kunjungan silaturrahim ini tentunya menambah semangat kami untuk terus berdakwah untuk melayani umat khodimul ummah, serta menjaga umat himayatul ummah,” ujarnya.

Sementara itu, Kakan Kemenag Kabupaten Batubara, Sakoanda Siregar, menyampaikan kebanggaannya dengan adanya kunjungan tim MUI Sumut dan tempatnya di Kantor Kemenag Kabupaten Batubara. “Apalagi kami menjadi salah satu kabupaten yang dikunjungi. Ini kesyukuran kami. Selanjutnya kami mohon maaf apabila ada cara sikap kami yang kurang berkenan,” ujarnya.

Di samping itu itu, Ketua Umum MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, juga memberikan tausiyahnya dalam acara tersebut. Beliau menyatakan rasa syukurnya karena bisa melaksanakan safari Ramadan setelah beberapa tahun tidak bisa dilakukan karena pandemi Covid-19. Selain itu, Buya Maratua juga mengimbau kepada seluruh peserta untuk mengawasi gerakan aliran-aliran yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

“Belakangan ini, MUI Sumut telah menegaskan bahwa MPTTI tidak diperbolehkan menggelar acara di Sumatera Utara. Hal tersebut karena ajaran yang disebarkan oleh MPTTI tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah. “Ada kegagalan tafsir oleh MPTTI pada surat Al-Ikhlas, yang menurut mereka bahwa Muhammad menyatu dengan Allah,” terang Buya Maratua.

Pada tanggal 1 Maret 2023, MUI Sumatera Utara telah menggelar rapat bersama dengan Ormas Islam tingkat Sumatera Utara untuk menyikapi gerakan aliran-aliran yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah. MUI Sumut dan Ormas Islam sepakat untuk tidak mengadakan acara berzikir untuk Rateeb Seribu Untuk Indonesia Damai serta Muzakarah Asean Ke VII MPTT-I Pada 13-15 Maret 2023 dan segala kegiatan pengajian MPTT-I lainnya di wilayah Sumatera Utara. Mereka juga meminta kepada Gubernur, Kapolda, Kajati Sumatera Utara dan Pangdam I BB untuk tidak memberikan izin pelaksanaan acara tersebut sebagai langkah preventif untuk mencegah kemafsadatan yang akan mengganggu ketertiban, ketenteraman, kerukunan, kondusifitas serta stabilitas masyarakat di Sumatera Utara.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara menjelaskan bahwa upaya ini dilakukan karena tugas MUI sebagai pelayan umat atas berbagai persoalan umat yang berkaitan dengan agama serta sebagai mitra pemerintah untuk bersama-sama menjaga dan memelihara ketertiban, kerukunan serta kondusifitas masyarakat. Ormas Islam juga memiliki tanggung jawab yang sama.

Safari tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena dihadiri oleh dewan pimpinan MUI sebanyak 10 orang. Mereka adalah Prof. Dr. Asmuni, MA, Dr. H. Abdul Hamid Ritonga, Dr. Arso, SH, M.Ag, Prof. Dr. H. Hasan Bakti Nasution, Dr. Akmaluddin Syahputra, M. Hum, Dr. Irwansyah, M.H.I, Dr. H. Arifinsyah, M.Ag, Dr. Sugeng Wanto, Dr. Abdul Rahim, dan Drs. H. Palit Muda, MA. Acara tersebut diharapkan dapat memperkuat silaturahmi dan akidah di antara umat Islam di Kabupaten Batubara. (Yogo Tobing)