muisumut.or.id, Testimoni Sahabat Prof. Dr. Hasim Purba, SH, M.Hum, mengenang tiga tahun berpulangnya seorang Mujahid Sumatera Utara
Assalamu’alaikum wr.wb…Alhamdulillah, malam ini kita dipertemukan Allah SWT dalam suatu acara yang juga sekaligus bernilai ibadah yaitu Memperingati Haul 3 Tahun Telah Berpulangnya Kerahmatullah Saudara kita, sahabat kita, orang tua kita, bahkan tokoh kita yaitu alm. H.Hamdani Harahap, SH.MH. Acara ini sangat penting dan memiliki makna yang dalam untuk mengkilas balik bagaimana ketokohan dan komitmen alm.Hamdani Harahap dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan, membela Umat Islam dan.Masjid- Masjid yang mengalami penindasan dari tangan-tangan penguasa dan pengusaha yang hanya mementingkan bisnis mereka.
Alm.Hamdani Harahap adalah sosok yang layak jadi panutan bagi generasi muda untuk memiliki komitmen dan sikap istiqomah dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, penegakan hukum, membela warga masyarakat yang tertindas hak haknya.
Bagi Saya alm.H.Hamdani Harahap yang telah berteman lebih kurang selama 30 tahun menjadi sahabat yang menginspirasi, dan memotivasi serta mengasah kepekaan kita untuk peduli terhadap persoalan- persoalan penegakan hukum yang timpang, perlawanan terhadap ketidakadilan, serta istiqomah membela kepentingan keummatan di Medan dan Sumatera Utara bahkan Nasional.
Pemikiran dan mutiara pengabdian yang dilakonkannya selama jadi Advokat dan Aktivis selama hayatnya terbukti begitu banyaknya hadir para tokoh masyarakat dan tokoh Ormas Islam bahkan Ketua MUI Sumut almukarrom Dr H.Maratua Simanjutak hadir memberikan tausiyah dan persaksian atas jati diri alm.Hamdani Harahap. Kita berharap kedepan akan lahir lagi tokoh Hamdani Harahap yang baru dan ini saya amati telah dirintis dan diwarisi salah seorang putra beliau yaitu ananda Raja Makayasa Harahap, SH.MH Semoga seluruh aktifitas dan baktinya menjadi amal Ibadah bagi Alm.H.Hamdani Harahap…Aamin ya Robbal’alamin.
(Prof Dr H Hasim Purba, SH.MHum, Sabtu, 3 Maret 2023, Masjid Burhanuddin, Medan Estate)
muisumut.or.id, Medan, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara pada Jum’at 3 Maret 2023 kedatangan Ulama hadits dari Jamia Binoria Aalamia Karachi, Pakistan, Muhaddis Syeikh Maulana Azizur Rahman al Hazrawi dan Muhaddis Syeikh Maulana Furqan Ahmad ash Siddiqi.
Rombongan sampai ke Kantor MUI-SU Jl. Majelis Ulama Indonesia No 3 Kota Medan sekitar pukul 10.00 WIB disambut hangat oleh Ketua Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (HLNKI MUI-SU) Provinsi Sumatera Utara, KH Akhyar Nasution dan para mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI SU dengan nasyid Tala’al Badru ‘Alaina dan iringan gendang hadhrah.
foto bersama mahasiswa PTKU MUI sumatera Utara
Pada pertemuan ini, Muhaddis Syeikh Maulana Azizur Rahman al Hazrawi, dan rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum MUI SU Buya DR H Maratua Simanjuntak dan para Pengurus Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara lainnya
Dalam kunjungan itu, pihak MUI SU dan Muhaddis Syeikh Maulana Azizur Rahman al Hazrawi bertukar informasi terkait MUI SU dan Jamia Binoria Alaamia, serta manhaj Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Pada perbincangannya, Syekh Azizurrahman yang juga Ustadz Hadist Jamia Binoria Alaamia Karachi Pakistan, menginformasikan tentang silsilah hadist atau hadits musasal bil awaliyah dan hadits musalsal bil musafahah untuk para mahasiswa PTKU dan tamu undangan lainnya.
Syekh Azizurrahman yang juga merupakan dosen ilmu hadits di Jamia Binoria Alaamia di Karachi, Pakistan dan sudah mengajar selama lebih dari 40 tahun juga menjelaskan tentang kitab shahih dan sunan serta tahapan pendidikan di Universitas tersebut.
Beliau mengaku bersyukur dan bergembira bisa berkunjung ke MUI-Sumut, Syeikh menambahkan, kedatangannya ke Indonesia bertujuan untuk mengunjungi perkumpulan, organisasi Islam, pesantren-pesantren yang ada di Indonesia dan ulama-ulama qurro. “Kami sangat dimuliakan oleh ulama-ulama di sini. ” kata Muhaddis Syeikh Maulana Azizur Rahman al Hazrawi.
Syeikh juga menyampaikan bahwa ada beberapa alumnus Jamia Binoria Alaamia yang mengabdi di beberapa pesantren di Indonesia. Dia berharap kunjungannya ke MUI-Sumut dan pesantren-pesantren di Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Mudah-mudahan ziarah ini bisa terus kami lanjutkan,” ucapnya. Pada pertemuan tersebut Ketua MUI-Sumut mejelaskan tentang fungsi MUi sebagai Shadiqul Hukumah dan Himayah Ummah. Bertindak sebagai penerjemah MUI-Sumut wakil sekertari Komisi HLNKI DR H Endi Marsal Dalimunthe, sedangkan dari rombongan syeikh, Ustadz Yunus dan Ustadz Hanif dari Pekanbaru yang juga merupakan Ketua Umum Alumni Jamia Binoria Indonesia. Hadir juga dalam pertemuan tersebut Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia MUI-Sumut DR. H Abdul Hamid Ritonga MA, dewan pimpinan dan pengurus Komisi HLNKI.
Pada kesempatan tanya jawab Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri DR H Abdi Syahrial Harahap Lc MA bertanya tentang hubungan Islam Sunni dan Syiah di Pakistan. Syeikh menjawab alhamdulillah hubungan keduanya sudah semakin baik.
Pada akhirnya acara ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama Acara selesai sekitar pukul 11 30 WIB
di sambut langsung oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri K.H. Akhyar Nasution
Kontributor KH Akhyar Nasution/ Ketua Bidang HLNKI MUI-SU
muisumut.or.id, Medan, Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. Abdul Rahim, M.Hum memberikan dukungan kepada kesenian Islam. Hal ini disampaikannya ketika menghadiri rapat Kerja Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) Sumut. Selasa (28/02/23) di hotel Le Polonia, Jalan Sudirman, Acara tersebut dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi
Abdul Rahim yang juga merupakan Ketua Bidang Ukhuwah MUI Sumatera Utara berharap LASQI Sumut bisa menjadi kebanggaan warga Sumatera Utara khususnya pada bidang seni Ke Islaman
“ Seni-seni qasidah Islami perlu dilestarikan untuk menjadi penyeimbang bagi generasi muda muslim terhadap banyaknya budaya baru.” ujarnya
Tim Hadroh Mahasiswa PTKU MUI Sumut (dokumentasi Infokom MUI Sumut)
Sekilas tentang Seni Islam
Kasidah (qasidah, qasida) berasal dari bahasa Arab merupakan bentuk syair epik kesusastraan Arab yang dinyanyikan. Kasidah adalah seni suara yang bernapaskan Islam dengan lagu-lagunya banyak kandungan unsur-unsur dakwah Islamiyah dan nasihat-nasihat baik sesuai ajaran Islam. Biasanya dinyayikan dengan irama penuh kegembiraan yang hampir menyerupai irama irama Timur Tengah dengan diiringi rebana
Kasidah terdiri dari 5 atau 6 orang dalam memainkan berbagai alat musik dari yang kecil hingga rebana yang besar ditambah dengan alat kecrek. Pada perkembangan berikutnya, kasidah dapat dimainkan menggunakan alat kesenian lainnya sesuai dengan keterampilan seniman itu sendiri.
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara melalui mahasiswa Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) juga memiliki tim kesenian Islami atau biasa disebut “hadroh”. Saat ini Hadrah PTKU ini sering mengisi beberapa kegiatan di MUI Sumut maupun kegiatan ke Islaman lainnya.
muisumut.or.id, Nias Barat – Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak di dampingi Ibu Dr. Hj. Faridah Yafizham, M.Hum menghadiri Musyawarah Daerah (MUSDA) ke III MUI Nias Barat, Senin (27/02/23) di Gedung Sarana Olahraga Desa Kafokafo Kecamatan Sirombu. Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua Bidang Hukum MUI Sumut, Dr. H. Abdul Hamid Ritonga, MA serta kepala Sekretariat Drs. Ahmad Darwis Ritonga.
Dalam kesempatan tersebut Buya Maratua menjelaskan sesuai dengan Peraturan Organisasi Pemilihan Pengurus Majelis Ulama Indonesia pada semua tingkatan organisasi dilaksanakan melalui formatur dengan asas musyawarah mufakat yang terdiri dari berbagai perwakilan/unsur yang layak dan disepakati. Sesuai ketentuan PRT-MUI, calon Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI tidak boleh dirangkap dengan jabatan politik dan pengurus harian partai politik. PRT-MUI juga membatasi jabatan Ketua Umum MUI maksimal dua periode kepengurusan, kecuali dibutuhkan dan dikomunikasikan/ dikonsultasikan dengan MUI setingkat di atasnya.
“MUSDA ini merupakan amanah dari Peraturan Organisasi MUI, untuk itu saya mengucapkan terimakasih telah melaksanakan MUSDA ke III” ujar Buya Maratua
Kegiatan yang langsung di buka oleh Bupati Nias Barat Khenoki Waruwu yang menyampaikan harapannya agar Pengurus MUI yang terpilih dan umat Muslim di Kabupaten Nias Barat agar bisa bersatu dan bekerjasama dalam menjalankan tugas dengan baik serta bersinergi dengan seluruh unsur organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan.
Pemerintah Daerah dan seluruh elemen masyarakat untuk kerukunan antar umat beragama dan kondusifitas wilayah kabupaten Nias barat. Turut hadir Kabag SDM Polres Nias Kompol E. Sembiring, Asisten Setda Kabupaten Nias Barat, Pimpinan OPD, Kabag Kesra dan hadirin lainnya.
Hasil MUSDA ke III mengamanahkan Luqman Hakim Zebua sebagai Ketua Umum MUI Nias Barat hasil dari Tim Formatur
muisumut.or.id-Panyabungan, 27 Februari 2023 – Komisi Informasi dan Komunikasi (Infokom) Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Mandailing Natal telah menjalin kerjasama dengan Radio StartFM 102.6 Panyabungan. Kerjasama ini diresmikan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua MUI Mandailing Natal dan Direktur Radio StartFM di aula kantor Radio StartFM pada pukul 11.30 WIB tadi pagi.
Rombongan MUI Mandailing Natal yang hadir dalam acara penandatanganan kerjasama ini terdiri dari H. Muhammad Natsir, Lc., S.Pd.I selaku Ketua Umum, H. Ahmad Zainul Khobir, M.M. selaku Sekretaris Umum, serta Ahmad Salman Farid, M.Sos yang menjabat sebagai Ketua Komisi Infokom. Sedangkan perwakilan dari Radio StartFM adalah Khoiruddin Faslah Siregar selaku Direktur.
Ketua MUI Mandailing Natal menyampaikan, “Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan penyebaran dakwah di Kabupaten Mandailing Natal melalui media radio, sehingga umat Islam dapat lebih dekat dengan MUI dan memperoleh pemahaman mengenai fatwa-fatwa yang dikeluarkan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Khoiruddin Faslah Siregar atas sambutan yang baik terhadap kedatangan kami dan kerjasama ini,” ujar beliau.
Sementara itu, Direktur Radio StartFM menyampaikan, “Kami sangat gembira dapat bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Mandailing Natal sebagai bentuk pengabdian dalam berdakwah dan mengembangkan syiar Islam di Bumi Gordang Sambilan ini,” tegasnya.
Kerjasama ini menghasilkan program siaran radio baru di StartFM yang diberi judul “Ruang MUI”. Program ini disajikan dalam bentuk tayangan langsung yang interaktif dan menghadirkan ulama-ulama terkenal di Kabupaten Mandailing Natal setiap hari Selasa, pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB.
muisumut.or.id, Tokyo, Nani Ayum Panggabean SekBid Sosben MUI Sumatera Utara, melakukan dakwah ke masjid Tokyo Indonesia di Jepang, Rihlah dakwah ke Jepang bersama Travel Wisata Halal Jakarta dari tanggal 21 Februari sd 27 Februari 2023.
Rihlah adalah Hajatun Basyariah (kebutuhan) karena sebagai manusia kita membutuhkan refreshment baik terhadap jiwa maupun tubuh. Refreshment ini disebut rihlah atau rekreasi. Rihlah juga cara yang efektif untuk menghemat biaya pengobatan, karena dengan rihlah dapat membuat kita bahagia , salah satu cara memelihara kesehatan kita sambil melihat kebesaran Allah bertambahlah keimanan kita. (Dr Abdul Hakam Ash-Sha’idi dalam bukunya berjudul Ar-Rihlatu fi Islami )
Nani Ayum yang juga Sekretaris IPHI/ MTP IPHI SU dan IPQAH SU Bidang Dakwah menyampaikan rasa syukurnya “Alhamdulillah Rihlah ini menjadi nilai plus dan berkah karena Nani Ayum menyempatkan diri berdakwah pada masyarakat Indonesia di Masjid Indonesia Tokyo (MIT) dalam Sholat Subuh Khusus Ikhwan pada Hari Ahad, 26 Februari 2023.”
Ketua BKM MIT Bapak Muhammad David menyambut baik dan mengucapkan terimakasih, “apalagi Nani Ayum juga membawa oleh oleh buku Tuntunan Sholat dan Stiker Promosi Linkungan Hidup Sosben MUI SU. Disambut juga dengan hangat oleh Michie Shang Orang Jepang yang baru Muallaf, Sayang suaminya Imran pengurus Masjid, baru saja meninggal dunia pada waktu Covied yang lalu.”
Audiens Jamaah Subuh ini banyak anak muda Indonesia, Pekerja , Mahasiswa yang datang dari jauh seperti Fuji , Kobe, Nara, Chukyo, Kawasaki dll. Mereka naik bus selama 6 jam , atau naik kereta. Mereka bersilaturahim bersama dalam KMII (Komunitas Masyarakat Islam Indonesia) yang dipimpin Prof.Muhammad Aziz Dosen Tokyo University. Mereka datang Sabtu Ahad . Mereka menginap di MIT.
Salah satu jamaah Anak Muda bernama Avessina datang dari jauh Fujiyama berkerja sambil kuliah di Jepang mengatakan bahwa ceramah Ustazah sangat bergizi menambah sprit untuk beribadah. Alhamdulillah karena dia bertanya , Avessina gembira sekali menerima hadiah buku Tuntunan Sholat.
Nani Ayum dalam dakwahnya menyampaikan pesan cerdas Ilahiyah pada Quran Surah Al Hijir ayat 26 dan Surah Al Mukminun Ayat 1 sd 13. Bahwa manusia itu berasal dari tanah dan berada di atas tanah .Semua yang di atas tanah adalah tanah dan kembali kedalam tanah. Agar manusia berkualitas, mendapat kemenangan dan warisan Jannah Firdaus , Manusia harus memelihara Sholatnya dan Khusyuk. Jangan mengerjakan yang sia sia, memelihara kehormatannya jangan sampai LGBT. Menunaikan Zakat ,Infaq Shadaqah , Menjaga Amanah dan Janji.
Selesai Dakwah disuguhi opor ayam yang nikmat cita rasanya dimasak oleh beberapa relawan laki laki pekerja di Jepang. Mereka secara bergantian dengan ikhlas memasak sarapan pada kuliah Subuh dan untuk Ifthar Ramadhan . Luar biasa Silaturahim dan Ukhuwah Masyarakat Indonesia Jepang ini. Di Masjid tersedia peralatan dapur yg lengkap untuk memasak partai besar .
Masjid Indonesia Tokyo (MIT) didirikan pada tahun 2017 yang dulunya Musholla ini bersebelahan dengan Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Masjid ini juga digunakan untuk beribadah bagi siswa SRIT
Alhamdulillah Bepergian kali ini Nani Ayum ke Negeri Matahari Terbit Jepang yang sudah terlihat geliat Halal Tourism nya bukan hanya kepentingan turis atau kesenangan semata tetapi juga li I’laai Kalimatillah. Baarakallahu alaina fi khair. (NA Pgb)
muisumut.or.id, Medan, – Muzakarah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara yang diselenggarakan Bidang/komisi Fatwa menarik perhatian banyak peserta. Muzakarah yang berlangsung di Aula MUI Sumut, Jalan Sutomo Ujung, Medan, Ahad (26/2) itu memaparkan terkait tentang tradisitradisi menyambut bulan ramadhan dalam perspektif syariah dan Targhib dan Tarhib Ramadhan menurut syariah.
Pemateri Dr. H. H.Muhammad Thahir Lc. MA yang menjadi pemateri pertama dalam diskusi ilmiah rutin setiap pekan keempat yang dilaksanakan Komisi Fatwa MUI Sumut ini menegaskan bahwa tradisi umat islam khususnya wilayah sumatra utara seperti marpangir, bersedekah, ziarah kubur dan punggahan adalah boleh saja jika tidak bertentangan dengan Syariat Islam.
Hal ini disebabkan karena hukum berdasarkan alasan tradisi atau adat istiadat nasyarakat mendapatkan lanadasan teori fiqh yang cukup banyak, antara lain kaidah fiqh:
Al ashlu fi asyai ibahah, dan Al ashlu fi muamalati ibahah illa ayadullu dalil ala tahrim,
“Karena itu, tradisi yang dilakukan tersebut adalah boleh sebab marpangir, bersedekah, ziarah kubur dan punggahan adalah kegiatan yang positif dan tidak melanggar Aqidah dan Mumalah.” tegas kata Dr. H. Muhammad Thahir Lc. MA yang merupakan Sekretaris Bidang Penelitian MUI Sumut
muzakarah disiarkan langsung melalui channel Youtube dan Facebook MUI Sumatera Utara
Pemateri selanjutnya Ketua Hubungan Luar Negeri MUI Sumatera Utara KH. AkhyarNasution Lc. M.A. Targhib dan Tarhib Ramadhan Menurut Syariah
Targhib Ramadhan, mengandung makna mencintai atau menyukai bulan Ramadhan. Artinya pekerjaan yang melambangkan penyambutan bulan suci Ramadhan oleh setiap umat Islam dan kencintaan mereka terhadap bulan tersebut. Karena Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang dilebihkan Allah dari bulan-bulan lain. Banyak peristiwa yang berlaku dalam bulan tersebut seperti adanya Lailatul Qadar, bulan turunnya Alquran, bulan ampunan dosa dan sebagainya Targhib Ramadhan selalu diucapkan umat Islam sedunia setiap menjelang puasa Ramadhan. Hal ini sebagai manifestasi penyambutan kedatangan bulan mulia yang dilebihkan Allah Swt pahala padanya dari bulan-bulan lainnya.
Kalimat tarhib (ترحيب) itu dalam bahasa Arab menggunakan ha kecil, merupakan masdar (kata dasar) dari rahhiba (رحب) yang bermakna menyambut atau penyambutan. Jika ia dipasangkan kepada kata Ramadhan, sehingga menjadi Tarhib Ramadhan mengandung makna menyambut atau penyambutan bulan suci Ramadhan.
Sementara kata tarhib (ترهيب) yang menggunakan ha besar pada kata hib merupakan masdar (kata dasar) dari perkataan rahhiba (رهب) yang mengandung makna mengancam atau ancaman.
KH. Akhyar Nasution Lc. M.A mengatakan bahwa keutamaan berpuasa Ramadhan adalah,
1. Bau mulut orang yang berpuasa akan lebih wangi dari aroma minyak kesturi pada hari kiamat. (Hadist Shahih Riwayat Bukhari 1904, Muslim 1151/163 dan lain-lain yang maknanya sama namun lafaznya berbeda).
2. Puasa dan shalat tarawih menghapus dosa yang telah lalu (Lihat Fathul Bari, 4: 115).
3. Masuk surga melalui pintu khusus (Hadist Shahih Riwayat Muslim 1151 / 165, Ibnu Khuzaimah 1900, an Nasa’i 4/146 dan Malik 1/310 )
4. Berpuasa Menjadi Lebih Sehat (HR Thabrani. Berkata al Haitsami dalam Kitab Majma’ al Zawaid 3 /179 : )Hadist hasan.
5. Puasa dan bacaan Alquran memberi syafaat pada hari kiamat (Hadist Hasan riwayat Ahmad 2/174. Thabrani dalam Al Kabir)
6. Doa-doa orang yang berbuka puasa tidak pernah ditolak (Hadist Hasan riwayat Ibnu Majah 1753 dan al Hakim 1/422.)
KH. Akhyar Nasution Lc. M.A mengatakan bahwa ancaman di bulan Ramadhan adalah,
Berbuka di Siang Ramadhan Tanpa Uzur Syar’i. Nabi Menatakan ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum dihalalkan bagi mereka waktu berbuka.
Orang yang tidak mendapatkan ampunan di Bulan Ramadhan adalah manusia celaka Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Celakalah seseorang, namaku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian ia keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena baktinya kepada keduanya).” HR at Tirmidzi No. 3468, Imam At Tirmidzi berkata: Hasan
Hadir pada kesempatan itu Anggota Komisi Fatwa MUI-SU Dra. Armauli Rangkuti, MA, dan sebagai moderator pada muzakarah itu adalah Dr. H. Sori Monang An-nadwi, M.Th
muisumut.or.id-Medan, Dalam acara “Muzakarah Bulanan” Bidang/Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara yang diselenggarakan pada Ahad, 05 Sya’ban 1444 H, Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc. MA mempresentasikan makalah berjudul “Tradisi-Tradisi Menyambut Bulan Ramadan” di Mesjid Aula MUI Sumatera Utara. Makalah ini mengupas tentang beberapa tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh umat Islam dalam menyambut bulan suci Ramadan, khususnya di Sumatera Utara.
Dalam pendahuluan makalahnya, Dr. Tohir Ritonga menjelaskan bahwa tradisi-tradisi ini menjadi perdebatan di antara umat Muslim. Beberapa orang menganggap tradisi-tradisi ini sebagai hal yang boleh dan dianjurkan karena melibatkan silaturahmi dan sedekah, sementara yang lain melarang dan menganggapnya sebagai bid’ah yang dilarang bahkan diharamkan.
Salah satu tradisi yang dibahas dalam makalah tersebut adalah marpangir. Marpangir merupakan tradisi mandi dengan menggunakan ramuan wangi-wangian di Mandailing. Hal ini menjelaskan bahwa marpangir dilakukan dengan menggunakan ramuan yang terdiri dari daun pandan, bunga kenanga, akar wangi, dan ampas kelapa yang dikeringkan terlebih dahulu. Ramuan ini direbus hingga mengeluarkan aroma wangi yang khas. Marpangir biasa dilakukan secara mandiri di rumah, di tempat pemandian umum, atau di tempat-tempat wisata air.
Selain marpangir, Dr. Tohir juga membahas tradisi bersedekah sebelum masuk bulan Ramadan. Sedekah, adalah pemberian sukarela yang diberikan oleh seorang Muslim kepada orang lain yang membutuhkan. Bersedekah sebelum masuk bulan Ramadan merupakan warisan leluhur yang menjadi kebiasaan atau adat budaya umat Islam. Biasanya, umat Muslim berkumpul untuk membaca kaifiyat, yasin, tahlil, dan doa bersama sebelum makan bersama atau bersedekah makanan. Tujuan dari bersedekah ini adalah mendoakan arwah sanak keluarga yang telah meninggal dunia.
Makalah tersebut juga mengulas tradisi ziarah kubur yang sering dilakukan menjelang bulan Ramadan. Ziarah kubur merupakan kegiatan yang dilakukan oleh umat Muslim untuk mengunjungi makam sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Dalam momen ini, umat Muslim memanjatkan doa untuk orang-orang yang telah pergi lebih dulu. Ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja, namun menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri sering dijadikan momen istimewa bagi umat Muslim.
Tradisi terakhir yang dibahas dalam makalah ini adalah punggahan
Tradisi punggahan ini dilakukan menjelang bulan Ramadan dan memiliki beragam interpretasi. Asal-usul tradisi ini tidak jelas apakah berasal dari Islam atau ajaran Hindu yang diadaptasi pada Islam. Punggahan memiliki makna “naik” dalam bahasa Jawa, yang mengandung arti bahwa masuknya bulan Ramadan harus disambut dengan peningkatan iman. Tradisi ini juga bertujuan untuk mengingatkan umat Muslim bahwa bulan Ramadan akan segera tiba, serta mengirim doa kepada orang-orang yang telah meninggal dunia. (Yogo Tobing)
muisumut.or.id-Medan, Muzakarah Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara menggelar pertemuan penting dalam rangka membahas isu-isu agama yang relevan. Salah satu makalah yang disampaikan pada acara tersebut adalah makalah yang dibawakan oleh KH. Akhyar Nasution.
KH. Akhyar membahas mengenai pengertian targhib dan tarhib, serta persiapan yang perlu dilakukan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Dalam pengantar makalahnya, KH. Akhyar Nasution menjelaskan bahwa kata “targhib” bermakna mencintai atau menyukai, sedangkan “tarhib” merujuk pada penyambutan atau penyambutan bulan suci Ramadhan.
Bulan Ramadhan memiliki keistimewaan yang luar biasa dalam agama Islam, seperti adanya Lailatul Qadar, turunnya Alquran, dan kesempatan untuk mendapatkan ampunan dosa. Oleh karena itu, umat Islam di seluruh dunia senantiasa mengucapkan targhib Ramadhan, yang merupakan ungkapan cinta dan kecintaan terhadap bulan yang diistimewakan oleh Allah SWT.
KH. Akhyar juga membahas persiapan yang harus dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan dengan baik. Pertama, berdoa merupakan langkah awal yang penting. Para ulama terdahulu sudah mulai mendoakan agar mereka diberi umur panjang untuk dapat menunaikan puasa Ramadhan enam bulan sebelumnya. Doa tersebut memohon agar diberi umur panjang, membersihkan dosa, mendapatkan ampunan, dan keberkahan dalam hidup.
Selain itu, persiapan fisik juga penting untuk menjalani puasa Ramadhan dengan baik. Setiap muslim diharapkan menjaga kesehatan mereka agar tidak terhalang oleh penyakit selama bulan puasa. Bersihkan hati dan pikiran juga merupakan persiapan yang ditekankan dalam makalah ini. Menyambut bulan suci Ramadhan haruslah diiringi dengan membersihkan hati dari perbuatan jahat, memutuskan silaturahmi, dan menjauhi dosa-dosa lainnya.
Penguasaan ilmu pengetahuan tentang hukum dan tatacara berpuasa juga menjadi persiapan yang penting. Setiap muslim diharapkan memiliki pemahaman yang baik tentang puasa Ramadhan agar dapat melaksanakannya dengan benar sesuai dengan ajaran agama.
KH. Akhyar juga menyoroti pentingnya memperbanyak amalan sunnah di bulan Sya’ban sebagai persiapan menjelang bulan Ramadhan. Rasulullah SAW sendiri meningkatkan amalan-amalan sunnahnya di bulan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan beliau yang melaksanakan ibadah sujud yang panjang di malam nisfu Sya’ban. Sebagai umat yang mengikuti teladan Rasulullah, memperbanyak amalan sunnah di bulan Sya’ban diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk menyambut bulan Ramadhan.
Selain itu, KH. Akhyar juga mencakup tarhib sebagai aspek yang harus diperhatikan. Salah satu poin yang disoroti adalah larangan berbuka di siang hari Ramadhan tanpa alasan syar’i. Sebuah hadis menggambarkan konsekuensi yang buruk bagi mereka yang melanggar larangan tersebut.
KH. Akhyar juga menyinggung pentingnya mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan betapa pentingnya mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan. Orang yang tidak mengucapkan shalawat kepada Nabi dan yang keluar dari bulan Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan dianggap sebagai orang yang celaka. (Yogo Tobing)
muisumut.or.id, Medan, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Prof KH Ali Yafie, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 1998-2000 meninggal dunia pada Sabtu (25/2/2023) pukul 22:13 WIB.
Sosok yang juga pernah menjabat sebagai Rais Aam PB NU 1991-1992 ini meninggal dunia setelah menjalani perawatan akibat sakit di RS Bintaro, Tangerang Selatan. Jenazah akan dibawa ke rumah duka di Kompleks Menteng Residence, Jl Menteng V Blok FC 5 No 12, Sektor 7 Bintaro Jaya.
Dilansir dari situs resmi MUI Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof KH Ma’ruf Amin, mengisahkan bahwa Kiai Ali Yafie adalah sosok ulama senior yang menjadi panutan beliau. “Beliau adalah senior saya yang baik,” ucapnya saat menjenguk Kiai Ali Yafie sat itu masih dirawat, Kamis (16/02) lalu
“Saya bergaul lama dengan beliau dan beliau seorang alim ulama besar dan punya pengetahuan yang luas. Tidak hanya masalah-masalah keagamaan, tapi juga masalah-masalah kenegaraan, kebangsaan, kemasyarakatan dan saya kira jarang ulama sekaliber beliau yang keluasan ilmunya, dan juga keketuaannya yang patut menjadi contoh teladan,” kata dia menambahkan.
Menutup keterangan persnya, Wapres kembali menekankan bahwa Kiai Ali Yafie merupakan sosok ulama yang memiliki ilmu sangat tinggi dan diperlukan bagi masyarakat di sekitarnya, juga bangsa dan negara.
“Kita memang sangat memerlukan keadaan beliau. Walaupun beliau sudah sepuh, tapi beliau sangat mempunyai pengaruh yang besar,” ujar dia
Akan Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Dilansir dari situs Nahdlatul Ulama (NU), jenazah almarhum rencananya akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, pada Ahad (26/2/2023) hari ini, selepas shalat duhur.
Sekilas Riwayat Kiai Ali Yafie
Prof. Dr. KH. Ali Yafie lahir pada tanggal 1 September 1926 di Donggala, Sulawesi Tengah. Beliau merupakan putra dari KH. Mohammad Yafie. Wafat di Jakarta pada 25Februari 2023 di usianya yang ke 96 tahun
Prof. Dr. KH. Ali Yafie berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya KH. Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.
Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.
Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian diteruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.
Karya KH Ali Yafie Kiai Ali Yafie merupakan seorang ulama yang juga aktif menulis. Ia banyak menelurkan karya-karya tulis yang dijadikan buku. Berikut beberapa di antara karya-karya Kiai Ali Yafie.
Menggagas Fikih Sosial: dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi hingga Ukhuwah. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Mizan di Bandung pada 1995;
Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan. Dicetak oleh LKPSM di Yogyakarta pada 1997;
Beragama Secara Praktis agar Hidup Lebih Bermakna, diterbitkan oleh Penerbit Hikmah di Jakarta, pada 2002. Buku ini memuat tentang sebuah penafsiran terhadap ajaran agama yang menjadi salah satu kunci penyebab agama selalu menemukan hubungan dan kesesuaiannya. Buku ini salah satu bentuk tanggapan seorang ulama terhadap beragam perkembangan sosial.