Thursday, July 23, 2026
spot_img
Home Blog Page 88

Saya Tau Saya Perlu Berjuang

0

Taufik Ismail Pohan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Padang Lawas.

Nama saya Taufik Ismail Pohan lahir di desa pangirkiran dolok,barumun tengah,Padang lawas,tepatnya pada Tanggal 23 April 2002. Saya anak Ketiga dari empat bersaudara buah hati dari Pasangan PORMEN POHAN dan ROKIMAH SIREGAR, TAUFIK adalah panggilan Akrab saya, dan terlahir di keluarga yang Sederhana, ayah Saya seorang petani. Sedangkan ibu, guru di sekolah dasar(SD) kampung kami, yang tidak jauh jaraknya dari rumah kami. Sejak kecil saya selalu dinasehati orang tua Untuk selalu rajin beribadah, kerja keras, jujur,dan baik terhadap orang lain.

Di waktu kecil saya seorang pengembala kambing dari pengalaman mengembala kambing tersebut banyak memberikan pelajaran hidup yang berharga termasuk kesabaran,tanggung jawab,dan kedisiplinan,menjaga kambing-kambing tersebut memerlukan kepatuhan dan rutinitas sehari-hari.kedisiplinan dalam merawat hewan ternak sangat penting untuk memastikan kesejahteraan mereka.
Ketika berumur 6 tahun saya memulai Pendidikan di SDN Pangirkiran dolok,Padang lawas, kemudian setelah lulus saya melanjutkan kePondok psantren musthafawiyah , purba baru,kecamatan lembah sorik merapi, kabupaten Mandailing Natal,selama 7(tujuh) tahun dan disitulah saya memulai hidup dengan mandiri, disana saya tinggal di pondok kecil (gubuk-kecil) yang mana pondok itu hanya berukuran sekitar 3×4 M, yang beratapkan daun pohon aren, tidur dengan tikar yang seadanya dan bantal yang kecil bahkan kadang-kadang tidak ada bantal karena di pakai kawan, dan disana saya itu memasak sendiri dengan alat masak yang sederhana, di pondok Itulah banyak kenangan yang pahit , manis dirasakan atau mungkin tidak pernah didapati lagi yang seperti itu dan tidak bisa dilupakan,sehingga melalui pelajaran hidup yang seperti itu kami disana tidak bisa bersifat Sombong kepada orang lain, peduli terhadap lingkungan dan lain-lain.
Pengalaman hidup di pondok pesantren telah membentuk saya menjadi pribadi yang Tangguh dan penuh empati.disana,saya belajar untuk hidup mandiri,menghargai kesederhana-an,dan peduli terhadap orang lain dan lingkungan.kenangan pahit manis dari masa itu telah mengajari saya nilai-nilai penting tentang rendah hati dan kepedulian,yang membentuk karakter saya untuk menjadi lebih baik.
Selain saya memiliki ketertarikan dalam bidang yang berhubungan dengan agama, saya juga hobby olahraga terutama bola kaki.bagi saya agama itu sangat penting dalam kehidupan karena tujuan hidup itu hanya akhirat bukan yang lain.
Dan sekarang saya mahasiswa di pendidikan tinggi kader ulama majelis ulama Indonesia Sumatera Utara(PTKU MUI SU) yang mana saya satu diantara 21 mahasiswa di pendidikan ini, disini kami memiliki fasilitas yang cukup memadai,ruangan kelas yang begitu nyaman,kamar yang adem, yang dilengkapi dengan adanya lemari masing-masing,Ac di setiap kamar,meja belajar pun ada,kamar mandi yang bersih,kami sangat bersyukur atas itu semua,dan disini kami di biayai penuh(full beasiswa).
Dan sekarang saya sudah berumur 22 tahun mudah-mudahan apa yang sudah di jalani di kehidupan ini menjadi iktibar bagi saya menjadi manusia yang lebih baik lagi.amiin.

Perjalanan Seorang Anak Petani Mengejar Mimpi

0

Roy Ismail Gajah, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Pakpak Bharat.

Nama saya Roy Ismail Gajah, lahir di Lae Marempat pada tanggal 24 April 2000. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayah saya bernama Nasrun Gajah dan ibu saya bernama Sarma Bancin. Saya dibesarkan di sebuah desa yang tidak terlalu besar, dekat dengan pegunungan yaitu di Desa Malum. Saya dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan didorong untuk mengejar pendidikan yang tinggi. Selama masa kecil saya hobi yang paling saya sukai ialah menyanyi baik itu lagu-lagu daerah maupun religius. Ketika hendak menyelesaikan pendidikan dasar, saya bermaksud melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP atau Tsanawiyah di salah satu pondok pesantren yang berada di Kabupaten Dairi. Di sana, saya menuntut ilmu selama enam tahun hingga menyelesaikan pendidikan SMA atau Aliyah pada tahun 2018.
Setelah lulus dari pendidikan menengah aliyah, saya mendaftar ke beberapa universitas di Padang dan Pekanbaru. Namun, karena belum ada jalan rezeki yang terbuka, saya tidak berhasil lulus di universitas tersebut. Hal ini menyebabkan saya mengalami periode di mana saya tidak melanjutkan pendidikan selama setahun penuh dan menjadi pengangguran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Selama periode tersebut, saya mendapatkan banyak pengalaman tentang betapa pahitnya menjalani kehidupan dan seberapa sulitnya mencari uang untuk sesuap nasi. Namun, hal itu tidak sebanding dengan perjuangan yang telah dirasakan oleh kedua orang tua, yang telah membesarkan saya sejak lahir hingga saat ini. Itulah juga yang mendorong saya untuk terus mengejar ilmu, agar saya dapat membuat kedua orang tua saya bahagia.
Pada tahun 2019, saya memutuskan untuk mengabdikan diri di pondok pesantren tempat saya dibesarkan. Selain mengabdikan diri di sana, saya juga bekerja sebagai pengajar dan dalam berbagai pekerjaan terkait dengan kegiatan pondok. Selama dua tahun tersebut, saya memperoleh banyak pengalaman yang berharga dari pengabdian saya, salah satunya adalah pemahaman akan pentingnya pendidikan yang tinggi atau memperoleh gelar akademis. Pengalaman ini menguatkan semangat saya dalam mengejar ilmu, dan mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan.
Pada tahun 2021, Majelis Ulama Indonesia membuka sebuah perguruan tinggi yang dikenal sebagai Pendidikan Tinggi Kader Ulama, memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk mengembangkan potensi mereka sebagai ulama yang siap membela agama, bangsa, dan negara. Saya tertarik dengan visi ini, sehingga pada tahun tersebut, saya mendaftarkan diri ke perguruan tinggi tersebut. Tujuan saya adalah untuk mendalami ilmu agama dan memperluas pemahaman saya, dengan harapan dapat mengembangkan dan berbagi pengetahuan yang saya peroleh, terutama di komunitas saya sendiri di kampung halaman. Dan hingga saat ini, saya masih belajar di Pendidikan Tinggi Kader Ulama tersebut, dan pada tahun ini, saya juga akan menyelesaikan pendidikan saya tingkat D3.

 

Perjalanan Pendidikanku

0

Hapijuddin Dalimunthe, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Labuhanbatu Selatan.

Nama saya Hapijuddin Dalimunthe, biasa dipanggil Hafidz. Saya lahir di Tj. Raya, 02 februari, 2002. Kami tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu peremuan. Saya merupakan anak bungsu, yang paling besar diantara kami ialah ialah laki-laki, ia bernama Sapruddin Rajo Ali Dalimunthe, dan yang kedua ialah perempuan bernama Sartika Dalimunthe. Saya lahir dari pasangan Asminan Dalimunthe dan Masriani Nasution, ayah saya seorang petani sedangkan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Sejak kecil ayah selalu menasehati kami agar jangan pernah meninggalkan sholat. Ayah saya selain petani ia juga guru mengaji bagi anak-anak yang ingin belajar di kampung itu. pernah satu ketika saat belajar mengaji dengan teman-teman dirumah ayah memarahiku karena bacaan yang slalu salah, aku berfikir bahwa ayahku pilih kasih karena hanya memarahiku seorang, saat sekarang saya sadar bahwa itulah kasih sayang seorang ayah jika ayah terus memanjakanku mungkin saat sekarang aku tidak lancar membaca Al-Qur’an.
Diusia 7 tahun, saya mulai mengenyam pendidikan di MIN 2 Pernantian. Dimana pada masa inilah diisi dengan bermain bersama teman-teman. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak disana bermain ke pekan melihat keramaian dan barang mainan yang dijual. Pernah suatu ketika kami tidak memiliki uang namun sangat ingin pergi ke pekan, akhirnya kami mencari ikan kesungai agar bisa dijual kepasar.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di MIN 2 Pernantian, mama saya awalnya berpikir agar saya sekolah di SMP di silangkitang, karena mama tidak ingin jauh dari anak terakhirnya, namun, keinginan untuk belajar di pesantren selalu membara dalam diri saya. Saya memaksa mama sampai menangis agar dia menyekolahkan ke pesantren, salah satu pesantren yang saya minati pada waktu itu adalah P.P. At-Thoyyibah Indonesia di Pinang Lombang, karena ayah saya sendiri salah satu alumni di pondok tersebut.
Disana banyak kenangan yang dirindukan, ada juga cerita lucu yang pernah saya alami saat di pondok itu. salah satunya, saya punya teman sekampung yang bernama Rosanul Fuadi Rambe, pada saat itu ia sangat rindu kepada orang tuanya dia menemui saya ke lapangan bola dan mengajak pergi ke asrama, saat tiba di asrama ia bertanya sambil menangis “ndak rindu kau Fidz”, saya menjawab “rindu” diapun mengajak saya menangis. kami berdua memiliki sifat pemalu. Karenanya kami mengunci pintu agar orang tidak tahu kami menangis sebab rindu kepada kedua orang tua. Saat kami benar-benar menangis tiba-tiba abang asrama datang, ia menggedor pintu lalu kami mengusap air mata sambil tertawa agar dia tidak tahu baha kami sedang menangis, ketika pintu dibuka dia bertanya “kenapa mata kalian, habis nangis klen ya ?. “tidak bang” jawab kami serentak. Kemudian Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia tahu kami sangat rindu sampai menangis. Sebab ia tentu sudah melewati masa-masa seperti kami. Kemudia ia meninggalkan satu nasihat “sungguh-sungguhlah la kalian belajar, buat bangga orang tua kalian, agar rindu kalian tidak sia-sia.
Ketika menginjak kelas IX, saya mengikuti lomba takraw antar kelas di P.P. At-Thoyyibah dan menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah. Pada tahun 2017, saya lulus dari sekolah menengah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya yaitu di P.P. Darul Ma’arif Basilam baru. model pendidikan berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi saya, banyak pelajaran yang tidak saya pelajari dipondok sebelumnya. Untuk megejar ketertinggaan pelajaran, saya menghabiskan waktu-waktu di luar jam pelajaran untuk belajar bersama ustadz-ustadz yang ada disana. Bahkan Saat teman-teman saya tidurpun saya tetap belajar. Dimasa itu Ada kalam guru yang selalu saya ingat salah satunya dari ayah taisir “jadilah pintar merasa bukan merasa pintar.
Di P.P. Darul Ma’arif banyak terlukis kenangan manis. Saat itu saya pernah menjuarai MTQ tingkat kecamatan bidang tilawah tingkat remaja putra, menjadi santri kepercayaan dalam olahraga badminton hingga masa itu saya diikut sertakan dalam latihan intensif sebagai persiapan agar bisa menjadi salahsatu pemain dispora labuhan batu selatan. Selain itu saya aktif mengikuti organisasi pesantren. Dalam beberapa kesempatan saya jupa kerap diutus oleh pesantren untuk mengikuti dakwah ke berbagai pelosok desa, dalam kegiatan-kegiatan itu saya sering menjadi pembaca al-Qur’an dan vokalis marawis. Hal ini ditujuan agar masyarakat melihat kemampuan santri-santri P.P. Darul Ma’arif.
Tiga tahun menimbah ilmu di P.P. Daru ma’arif akhirnya saya menjadi alumni (lulus tahun 2020). Masa itu sedang marak-maraknya kasus covid 19. Jadi bisa dikatakan kami ini adalah angkatan covid 19. Masa itu saya dilanda kebingungan, sebab tidak tahu harus lanjut pendidikan kemana. Mengisi kekosongan, saya menyampaikan keinginan untuk menghafal al-Qur’an, akhirnya saya dimasukkan ke P.P tahfidz Abul yatama al-Musthofa langkat. Disana saya mengikuti program tahfidz selama delapan bulan, selama delapan bulan itu Alhamdulillah saya menghafalkan 8 juz.
Melihat abang saya yang lulusan pendidikan formal, saya berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, saat itu tepat dengan beredarnya informasi pembukaan pendaftaran mahasiswa baru di kader ulama MUI SUMUT. Akhirnya saya mengikuti seleksi itu atas saran abang saya, ia adalah alumni dari kampus itu.
Alhamdulillah saya lulus, sampai sekarang saya berada disemester akhir dan dalam waktu dekat akan wisuda

WAHABI, Very Simplistic

WAHABI, Very Simplistic

Oleh: H. Hasan Bakti Nasution

Catatan ini merupakan lanjutan catatan sebelumnya yang berjudul Wahabi a History. Edisi catatan kedua ini mengambil judul di atas, yaitu Wahabi dipandang terlalu simplistic, yaitu terlalu menyederhanakan suatu kata dan konsep. Beberapa contoh dapat dijadikan sebagai argument statemen ini. Pertama, kata bid’ah diartikan dengan segala sesuatu yang tidak pernah terjadi pada zaman Nabi, sehingga menarik kesimpulan yang generalistik, yaitu segala yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi berarti bid’ah.

Akibatnya membid’ahkan semua yang terjadi hari ini, jika tidak pernah terjadi pada zaman Nabi. Ironinya kemudian terjebak pada konsep sendiri, yaitu kecuali teknologi (kulluhum bid’ah illa tecknoloziyah). Padahal masih terdapat makna bid’ah lain, misalnya “sesuatu yang tidak menyalahi syariat (mala yukhalifu as-syar’a).

Kedua, mengeneralisasi arti kata “kullu” dengan “semua’ pada kalimat “kullu bid’atin dhalalah” (semua bid’ah itu sesat). Padahal tidak semua kata kullu (semua) dengan makna kullu (semua), ada makna lain, yaitu sebagian besar, artinya masih ada sebagaian kecil yang tidak termasuk dalam lingkupannya. Misalnya kata kullu pada al-Qur’an surat al-Kahfi/18: 79, yang mengatakan “ya’khuzu kulla safinatin ghashaba” (mengambil semua sampan secara paksa).

Fakta menunjukkan bahwa yang diambil hanyalah sampan yang masih utuh tanpa cela, sedangkan sampan yang sudah rusak walau sedikit tidak diambil paksa, dan karena itu Nabi Hidhir merusak sampan yang ditomangi Bersama Nabi Musa, agar tidak diambil paksa pengasa di tempat tujuan.

Kasus lainnya ialah pada surat al-Anbiya’/21: 30, yang mengatakan: “waja’al-Na minal ma’i kulla syai’in hayyin” (Kami jadikan dari air semua menjadi hidup). Jika makna kulla di sini diartikan secara general (semua), akan bertentangan dengan fakta empiris, bahkan tidak semua yang ada dijadikan dari air. Misalnya, syetan diciptakan dari api, malaikat dari nur, dan sebagainya. Berarti kullu dalam ayat tersebut bermakna “sebagian besar”, bukan “semua”.

Akibatnya terjadilah generalisasi, yaitu setiap bid’ah sesat. Jika saja makna kullu tidak dimaknai secara generalistik sesuai makna al-Qur’an di atas, akan lahir konsep lain tentang bid’ah, yaitu yang tidak menyalahi syariat. Tapi makna ini gagal dilahirkan karena simplistikasi tersebut.

Cara pandang yang simplistik juga nampak ketika melihat sumber hukum Islam, yaitu berorientasi pada prilaku Nabi semasa hidupnya. Hal ini dijadikan sebagai penafsir utama dalam memahami al-Qur’an dan hadits di luar hadits fi’liyah, sehingga perintah al-Qur’an dianggap berlaku (tanfiz) jika pernah dilakukan Nabi. Misalnya, perintah berdo’a pada beberapa ayat al-Qur’an seperti surat al-Mukmin/40: 60. Ayat ini dianggap tidak memiliki daya perintah (amar) jika tidak pernah dipraktekkan Nabi Muhammad semasa hidupnya.

Jadi, jika ada orang yang berdo’a habis shalat berjamaah dianggap bid’ah, hanya karena tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabat. Padahal aktifitas berdo’a ini dilakukan sebagai aplikasi dari perintah al-Qur’an tentang berdo’a, seperti termaktub pada surat al-Mukmin/40: 60 di atas. Adapun berjamaahnya dikiaskan kepaad shalat yang dianjurkan berjamaah.

Lalu pertanyaannya, mengapa cara pandang yang simplistic ini digunakan ?.

Tentu banyak probobilitas jawaban, misalnya, simplikasi bisa disebabkan oleh tidak mau repot-repot mengkaji dalil yang ratusan tahun, cukup melihat seorang Ibn Taimiyah saja. Tidak mau repot-repot ini bisa juga diakibatkan oleh wawasan yang lemah atau dangkal, bisa juga karena ingin tasahul dalam beragama. Mungkin banyak jawaban lainnya, tapi menurut saya begitulah, dan itulah catatannya.

Dimana Ada Kemauan Disitu Ada Jalan

0

Kholid Jamhuri Harahap, mahasiswa MUI SUMUT utusan MUI Tapanuli Selatan.

Nama saya Kholid Jamhuri Harahap, saya lahir di Desa Nanggar Jati Huta Padang, pada 1 November 2002. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan almarhum Bapak Lapangan Harahap dan Ibu Nur Kholilan Siregar. Di kampung, saya sering dipanggil dengan nama Jamhuri, sedangkan di kampus saya dipanggil dengan nama depan saya, Kholid. Saya berasal dari keluarga sederhana; ayah saya seorang guru ngaji di kampung, dan ibu saya seorang petani. Sejak kecil, saya selalu dinasihati oleh ayah saya untuk selalu beribadah, jujur, dan baik terhadap sesama.
Ketika saya berumur enam tahun, saya memulai pendidikan di TK Hanopan Desa Aek Haminjon dari tahun 2008-2009. Setelah lulus, saya melanjutkan pendidikan ke SDN 100409 Huta Padang, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, dari tahun 2009-2015. Kemudian, saya melanjutkan sekolah ke Pesantren Modern Mangaraja Panusunan Achir Hasibuan Gunung Tua Pargarutan dari tahun 2015-2018, dan selanjutnya ke Pesantren Zakiyun Najah Sei Rampah dari tahun 2018-2021. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S1 di Pendidikan Tinggi Kader Ulama Provinsi Sumatera Utara (PTKU SU) dari tahun 2021-2024.
Waktu saya masih duduk di bangku SD, almarhum ayah saya berpesan, “Bersungguh-sungguhlah dalam belajar karena penyesalan selalu datang di akhir, Nak.” Kata-kata itulah yang selalu saya ingat ketika saya mulai goyah dalam belajar. Ketika ayah saya meninggal saat saya duduk di bangku Tsanawiyah kelas VIII, dunia ini terasa hampa. Hampir setiap hari saya menangis dan menganggap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk saat tidur. Melihat kondisi saya yang uring-uringan seperti itu, kakak saya menasihati saya dan berkata, “Kita semua merasa kehilangan, tapi jika bersedih terus, maka tidak akan mengubah apapun juga karena semua ini ketetapan Allah.” Mulai dari situ, saya perlahan bangkit dan mulai menjalani kehidupan seperti biasa. Walaupun terasa berat pada awalnya, perlahan tapi pasti, akhirnya saya dapat menerima kepergian ayah saya untuk selamanya.
Dengan perjalanan yang tidak mudah dan penuh tantangan untuk sampai di titik ini, mengingat saya adalah anak laki-laki sematawayang kedua orang tua saya yang harus bertanggung jawab atas keluarga saya semenjak ayah saya meningeal, ibu, kakak dan adik saya menaruh harapan besar kepada saya agar saya menjadi orang yang sukses. Setiap saya hendak pulang kampung dari kampung ke medan ibu saya selalu berpesan “selalu niatkan untuk menuntut ilmu jangan pernah ubah niat mu dan jangan tinggalkan sholat, perkara mau jadi apa kita di masa depan itu urusan Allah Swt.” Kata-kata itulah yang selalu mendongkrak semangat saya Kembali Ketika saya sedang malas dalam belajar. Dan saya berpesan kepada seluh pembaca tetaplah bersyukur sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi dan jalani, karna waktu itu cepat berlau dan berubah. Kesuksesan hanya datang kepada orang yang berusa dan bekerja keras bukan kepada orang yang duduk diam dan bermalas-malasan.

Perjalanan Hidupku

0

Ahmad Fauzi Panjaitan, mahasiswa PTKU MUI SUMUT utusan MUI Asahan.

Nama saya Ahmad Fauzi Panjaitan, biasa dipanggil fauzi. Saya lahir 23 september 2001 sei paham psr kanan Dsn VI Asahan. Saya anak ke 7 dari 7 bersaudara, 5 perampuan dan 2 laki-laki, SD saya sekolah nurul huda di sei paham, lulusan tahun 2013. SMP/SMA saya pindah ke medan, SMP saya di pesantren modern fajrul iman patumbak deli Serdang, lulusan tahun 2017. SMA saya di pesantren modern mawaridussalam batang kuis deli Serdang, lulusan tahun 2019-2020. Setelah saya tammat sekolah, saya masuk pesantren tahfidz az-Zaitunah di hamparan perak, lulusan tahun 2021.
Saya memiliki cita-cita dari kecil hingga sampai sekarang pingin masuk tantara (TNI), kenapa saya ingin masuk TNI? Kerna saya trinspirasi melihat seorang tantara membantu orang yg kesusahan dan membela tanah air yaitu Indonesia. Tapi orang tua saya tidak setuju masuk TNI kerna itu terlalu berbahaya dan membuat hilang nyawa saya, orang tua saya berkata : mau rupanya kau nanti ketika kami meninggal tidak ada mensholatkan kami, kerna kami ingin kalian anak laki dua-duanya yg mensholatkan kami jangan sampai orang lain yg menjadi imam kami ketika kami tiada. Saya pergi kesuatu tempat untuk merenungkan diri dan disitu saya di hampiri kakak saya yang bernama Erna Panjaitan, dia menceritakan tentang betapa susahnya orang tua yang melahirkan saya, kerna di masa kau jadi bayi dek itu darah keluar dari lubang hidung setiap malam sehingga di Tengah malam ayah berjalan kaki dan hujan lebat datang, dan ayah terus mencari obat walaupun tidak ada lampu di waktu itu tapi ayah berjuang untuk mencari obat supanya anaknya biar hidup.
Dan saya setelah tammat mondok tahfidz langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih serius yaitu kuliah di Pendidikan Tinggi Kader Ulama (PTKU) Provinsi Sumatera Utara. Selain sebagai mahasiswa saya juga di tuntut untuk mengabdikan diri atau berdakwah ke Daerah minioritas, karena memang dakwah adalah jurusan yang saya ambil untuk melanjutkan ilmu yang sudah pernah dapat dari pesantren dahulu.
Dari rencana besar perjalanan hidupku adalah setelah lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan, saya akan mengabdikan diri atau berdakwah di daerah minioritas sesuai bakat dan bidang dengan jurusan yang saya tekuni selama masa kuliah yaitu jurusan Dakwah, karena itu adalah keinginan kedua orang tua saya sebagai pendakwah.

Aksi Peduli Palestina, MUI Sumut “Berjihadlah dengan Harta Kita”

0

muisumut.or.id, Medan, MUI Sumut menyampaikan pesan pesan kemanusiaan pada Acara Aksi Damai Peduli Palestina yang dilaksanakan di depan Masjid Raya al Mashun Jalan Sisingamangaraja Medan pada Sabtu 1 Juni 2024. Kegiatan yang digagas oleh Forum Solidaritas Peduli Palestina Sumatera Utara Kembali dilaksanakan mengingat kondis Gaza Pelestina yang masih memprihatinkan, Genosida (pembataian) yang tak kunjung usai, bahkan sudah merambah ke Rafah.

Aksi Pelestina yang di hadiri ribuan umat Islam yang berkumpul terus meneriakkan Yel Yel “Free Palestine, Free Palestine,”  menyerukan boikot produk Israel dan produk yang berafiliasi dengan Israel” serta melaknat “Isreel teroris”

Dr. Akmaluddin Syahputra yang mewakili MUI Sumatera Utara mengawali orasinya dengan membaca firman Allah surat At taubah  ayat 24

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Akmaluddin yang juga merupakan Ketua Bidang Infokom MUI Sumut bahwa Jihad terbaik adalah dengan harta, dan saai inilah kita keimanan kita diuji untuk berjihad dengan harta benda kita. MUI Sumatera Utara terus menggalang dana, dan kemaren pada Kamis 30 Mei Kembali menyalurkan donasi tahap IV sejumlah 855 juta rupiah melalaui rek MUI Pusat.

Majelis Ulama Indonesia baik di Pusat maupun di derah terus berupaya dari segala sisi,  MUI Pusat terus berusaha untuk melakukan diplomasi agar penjajahan dan serangan dihentikan, MUI juga telah mengeluarkan fatwa no 83 tahun 2023 yang menyerukan wajib mendukung perjuangan palestina dan Haram mendukung agresi Israel. MUI juga sudah menyerukan untuk boikot produk Israil dan yang mendukungnya. Di samping itu MUI juga mengeluarkan fatwa yang membolehkan mendistribusikan zakat untuk perjuangan kemerdekaan Palestina

“kita tidak akan tinggal diam, kita akan bersama saudara kita, umat Islam bersaudara, kita seperti tubuh yang satu, jika di negeri Palestina tersakiti bumi Sumatera Utara, tanah kota Medan juga akan merasakan sakinya” ujarnya penuh semangat.

Pada akhir orasi Akmal mengajak seluruh umat Islam untuk menyisihkan sebahagian uang untuk dapat berdonasi, tetap boikot produk Israel, dan teruslah mendoakan saudara saudara kita.

“Ya Allah bantulah umat Islam di Palestina, hilangkan duka dari mereka. Ya Allah angkatlah bencana dari bumi  Palestina. Berikan kami keimanan untuk terus membantu dengan doa dan donasi terbaik kami”

DONASI UNTUK PALESTINA
BANK SUMUT CABANG SYARIAH
NOMOR REKENING 6100-2300-0000-09

Donasi bisa juga di terima langsung di kantor MUI Sumut Jalan Majelis Ulama/ Sotomo Ujung pada jam kerja

WAHABI A History

0

Catatan Harianku; 23 Mei 2024

WAHABI A History

By Hasan Bakti Nasution

Gerakan Wahabi sesungguhnya sudah lama menjadi perbincangan di dunia Islam. Paling tidak karena dua hal. Pertama, Gerakan ini berpusat di Saudi Arabiah dengan dua tanah haram sebagai basisnya, yaitu Mekkah dan Madinah, sehingga praktek keagamaan versi Wahabi yang ditampilkan disaksikan umat Islam dunia ketika melaksanakan haji atau umrah. Bahkan dijadikan sebagai faham resmi Kerajaan Saudi Arabiah.

Kedua, dari segi faham keagamaan yang ditampilkan cenderung reaksioner dengan ajaran yang berkembang di kalangan sunni, seperti larangan membaca qunut, ziarah kubur, yasinan, berdo’a usai shalat wajib secara berjamaah, dan sebagainya. Sesungguhnya ajaran dan faham seperti ini diusung juga oleh Gerakan lainnya, yaitu Muhammadiyah, namun tensinya lebih keras.

Seiring dengan era digital yang membahana, Gerakan Wahabi semakin semarak diiringi dengan penguasaan media digital yang dilakoni, sehingga ajaran dan pemahamannya secara mudah diakses dengan media sosial, seperti youtube, WA, Line, Twitter, dan sebagainya. Akibatnya terasa adanya gesekan internal yang semakin kurang harmoni di kalangan umat. Itulah yang membuat DP MUI SU mengadakan kajian dan diskusi mengenai Gerakan ini dalam beberapa kali pertemuan.

Apa yang menjadi catatan di sini tidaklah mewakili Lembaga MUI, hanya sifatnya pribadi. Sebagai sebuah Gerakan keagamaan Wahabi tentu ada plus minusnya, terutama dalam mengawal keotentikan ajaran Islam. Banyak komentar mengenai Wahabi ini, ada yang menjadikannya sebagai singkatan dari wawasan hanya bid’ah. Mungkin ada kaitannya dengan tema sentral ajarannya yang sarat dengan kata bid’ah. Tiada ceramah atau kata yang luput dari kata bid’ah.

Tentu banyak catatan dan kesan mengenai Gerakan ini, namun disederhanakan pada satu kata, a history, sesuai judul di atas. Yaitu Wahabi mencoba memutuskan mata rantai Sejarah dengan kembali kepada masa awal Islam, yaitu era Nabi dan sahabat. Semua ide, gagasan, konsep dan tindakan diarahkan pada era itu. Jika tidak ada ketika itu, maka divonis bid’ah dan setiap bid’ah sesat dan pastinya masuk neraka, sesuai jargon yang dikembangkan “kullu bid’atin dhalalah wakullu dhalalatin fin-nar”. Sesederhana itu.

Ironinya standard yang dijadikan alat ukur boleh tidaknya atau bid’ah tidaknya ialah para tokoh-tokoh Wahabi yang sesungguhnya hidup di era khalaf (modern), bukan era salaf (era Nabi sampai abad keempat hijriah). Sebutlah misalnya Syekh Ibn Taimiyah yang dijadikan rujukan lahir tahun 661 H, yang sudah masuk dalam kelompok khalaf (modern). Apalagi Syekh Abdullah Al-Baz yang wafat tahun 1999 yang lalu. Di sinilah trend a history menjadi catatan awal.

Jika melihat sejarah, masa antara Nabi Muhammad sampai dengan Ibn Taimiyah melewati enam abad dengan dinamika perkembangan Islam dalam berbagai aspeknya, seperti dalam bidang Aqidah dan hukum. Apalagi dengan Syekh Abdullah Albas yang hidup di era modern ini. Dengan menjadikan Ibn Taimiyah sebagai rujukan yang hidup 600-an tahun setelah Nabi wafat, berarti ada keterputusan Sejarah, dan inilah yang dimaksudkan a history tersebut. Wahabi mencoba menutup mata terhadap dinamikan pemahaman keislaman ratusan tahun dan menggangapna seolah tidak ada, karena langsung pada era Nabi dan sahabat.

Memutuskan matarantai Sejarah pemahaman tentulah hal yang tidak masuk akal, karena di setiap abadnya muncul letupan pemikiran hebat, yang tentu harus menjadi pertimbangan dalam pemahaman keislaman. Inilah yang dimaksud hadits Nabi yang artinya: “Sesungguhnya Allah mengutus seorang pembaru pada setiap seratus tahun”.

Itu berarti bahwa telah lahir pembaru abad 2,3,4,5,6 sebelum Ibn Taimiyah pada abad 7. Dengan menjadikan Ibn Taimiyah sebagai satu-satunya legal opinion dalam memahami agama berarti mengabaikan pembaharu lain pada abad 2, 3, 4, 5, dan 6. Tersebut.

Tentu ini a history !!!.

Diskusi Sore Pinbas Hasilkan Meeting Forum UMKM

0

muisumut.or.id, Medan, Pusat Ingkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI Sumatera Utara berkumpul di Kewa Cofeeshop MUI Sumut Jalan Majelis Ulama/ Sutomo Ujung, Kamis Sore 30 Mei 2024. Duskusi santai disore hari tersebut membicarakan  penguatan pembiayaan berbasis syariah dan marketing mix dalam persfektif Islam.

Diskusi sore yang digagas Ketua Pinbas, Drs. Putrama Alkhairi dihadiri beberapa pengurus Pinbas dan pengurus komisi Ekonomi MUI Sumut. Diantara yang hadir  Dr Saparuddin ahli Akuntansi syariah, yang juga merupakan salah satu Bendahara MUI Sumut, Dr Akmaluddin Syahputra, Direktur P2WP, , Dr Indra Utama, Ketua Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Sumut, Dr Haikal pelaku UMKM, Dr Salman Dosen Ekonomi Islam UMSU, Ali Suman Sekretaris komisi Infokom sumut, dan alferdiansyah barista coffe di Kewa Cofeeshop  MUI sumut

Pasca diskusi semua sepakat langkah pertama melakukan meeting forum dengan UMKM binaan Pinbas dan P2WP difasilitasi BPR Puduarta Insani pada Sabtu tanggal 8 juni 2024 di MUI sumut dengan sukses story saudara Palaceta owner Vokal Point, selanjutnya dalam persiapan platform yg disiapkan Pinbas menjelang acara, plus apa apa dokumen teknis yg diperlukan bagi penyehatan dan pendampingan UMKM binaan, selanjutnya melakukan peninjauan ke rumah rumah produksi dan skema skema lainnya

Sumut Terus Bersama Palestina, MUI Sumut Kembali Donasikan 855 Juta

0

muisumut.or.id, Medan, Umat Islam Sumatera Utara akan selalu bersama saudara kita di Palestina, MUI Sumatera Utara kembali menyalurkan donasi yang dihimpun dari umat Islam Sumatera Utara sejumlah delapan ratus limapuluh lima juta rupiah (855.000.000) yang disalurkan melalui MUI Pusat pada Kamis 30 Mei 2024.

Donasi ini merupakan kali keempat  dan merupakan wujud bahwa umat Islam tidak meninggalkan saudara seiman di Palestina.   Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum MUI Sumut Buya Maratua kembali mengingatkan untuk terus membantu saudara kita di Palestina. “dalam hal ini MUI Pusat sudah mengeluarkan fatwa no 83 tahun 2023 untuk membantu saudara kita di Palestina. Kita akan terus bersama saudara kita, kita terus memanjatkan doa setiap kesempatan khususnya seteleh shalat dan kita terus akan menggalang dana untuk perjuangan saudara kita. Kita wajib mendukung perjuangan Palestina dan Haram mendukung agersi Israil” ujarnya.

Pada Acara Ijtmia Ulama isu Palestina juga di bicarakan, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyampaikan dukungan atas posisi Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang selama ini sangat tegas dalam memperjuangkan Bangsa Palestina.

Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Hubungan Antarlembaga, Muhsin Syihab menyampaikan, Pemerintah RI melalui Kemenlu RI selama ini telah bersinergi secara kuat dengan MUI dalam rangka memperjuangkan Palestina.

“Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia selalu mendukung posisi MUI yang tegas dan memperjuangkan Bangsa Palestina,” kata Muhsin Syihab di Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, Selasa (28/5/2024) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Islamic Center, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Aksi Dukung Palestina

Umat Islam Sumatera Utara akan terus bersama saudara kita, Besok 01 Juni Aksi Dukung Palestina yang bertemakan Semilyar Laknat Untuk Palestina yang akan dilaksanakan di Kedubes Amerika Jakarta Pusat, Sumatera Utara melalui Forum Solidaritas Peduli Palestina juga melaksaakan Aksi Damai Peduli Palestina yang akan dilaksanakan Pada Sabtu 01 Juni 2024 di depan masjid Raya al Mashum, jalan Sisingamangaraja Medan.

Infokom MUI Sumut menghubungi kordinator Aksi Peduli Palestina Haris Sucipto, M. Si, menyampaikan “Kejadian pembantaian yang  terjadi di Rafah menunjukkan bahwa Israel telah melanggar keputusan PBB dan menambah catatan pembantaian dan genosida yg terjadi di palestina, maka kami mengajak seluruh elemen masyarakat utk tidak bosan menyuarakan kemerdekaan dan menghentikan tindakan genosida yg terjadi di Palestina.

Lebih lanjut  kami mengucapkan terima kasih kepada MUI Sumut yg terus bersama menjaga kekompakan umat Islam di Sumatera Utara khususnya dalam menguatkan masyarakat terkait kondisi palestina baik dukungan moral maupun materil