Friday, July 24, 2026
spot_img
Home Blog Page 91

Muzakarah Kedua MUI Sumatera Utara: Amalan Prioritas Umat Islam Selama Bulan Ramadan

0

muisumut.or.id-Medan, Muzakarah kedua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara digelar dengan khidmat di Aula MUI Sumut pada tanggal 24 Maret 2024. Acara yang berlangsung ini dipandu oleh Dr. Ikbal Habibi Siregar, M.Pd., menyoroti beragam amalan prioritas dalam menyambut bulan penuh berkah tersebut. Narasumber pertama, Dr. H. Muhammad Nasir, Lc., MA, memberikan paparan mengenai praktik-praktik ibadah yang disarankan selama bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, yang memiliki makna mendalam dalam ibadah dan spiritualitas umat Islam, menjadi momen penting untuk memperdalam hubungan dengan Allah SWT. Berikut adalah beberapa amalan yang menjadi prioritas dan dianjurkan selama bulan suci tersebut:

  1. Puasa Ramadhan: Puasa Ramadhan bukan hanya sebuah kewajiban bagi umat Islam, namun juga merupakan momen penyucian diri. Dengan makna simbolis yang mengajarkan untuk ‘membakar’ dosa-dosa, puasa Ramadhan menghadirkan kesempatan untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik.
  2. Shalat Tarawih: Menunaikan shalat Tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun jumlah rakaatnya bervariasi, melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid menjadi suatu keutamaan yang patut diikuti.
  3. Sedekah: Memberi sedekah, baik berupa uang maupun bantuan lainnya, menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Pahala sedekah di bulan Ramadhan dilipatgandakan, sehingga menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
  4. Tilawah Al-Qur’an: Membaca dan mempelajari Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan pada bulan suci ini sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan membacanya akan mendatangkan pahala dan ketenangan hati.
  5. I’tikaf: Beri’tikaf di masjid menjadi amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Ini merupakan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berdiam diri di masjid dalam rangka ibadah.
  6. Melakukan Umrah: Melaksanakan umrah di bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Umrah di bulan suci ini dianggap setara dengan ibadah haji, sehingga menjadi kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
  7. Meningkatkan Keimanan: Bulan Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan keimanan, berdoa, merenungkan, dan memperbaiki diri. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Amalan-amalan ini menjadi prioritas utama bagi umat Islam selama bulan Ramadhan. Dengan melaksanakannya dengan ikhlas dan konsisten, umat Islam diharapkan dapat memperoleh banyak pahala serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (Yogo Tobing)

RAMADHAN, BUKTI KASIH SAYANG ALLAH

0

RAMADHAN, BUKTI KASIH SAYANG ALLAH

Oleh : Hasan Bakti Nasution

ekilas puasa Ramadhan akan difahami sebagai kesulitan bagi manusia, karena harus menahan lapar dan haus selama 13 jam lebih. Begitu teganya Tuhan, begitu kaum ateis menafsirkan. Tetapi jika dimaknakan secara lebih dalam dapat disimpulkana bahwa sesungguhnya puasa adalah bukti kasih sayang Allah, sesuai judul di atas.

Mengapa ?

Karena melalui puasa Ramadhan manusia diberi kesempatan untuk menyeimbangkan kebaikan dan kejahatan. Jika masuk surga yang menjadi target akhir dan itu bisa diraih jika “kebaikan mengungguli kejahatan”, atau “kebaikannya lebih banyak, lebih berat timbangannya dibanding kejahatan”.

Jika sudah bicara kuantitas dan kualitas, Ramadhan akan memberikan banyak fasilitas kepada manusia. Pertama, ibadah sunat selama Ramadhan akan dibalas dengan pahala seperti ibadah wajib. Kemudian, ibadah wajib akan dibalas dengan 10 kali lipat. Jika melaksanakan kewajiban selama satu bulan Penuh di bulan Ramadhan, maka akan memperoleh pahala sama dengan 10 bulan. Jika satu tahun 12 bulan, berarti 10 bulan sudah dilakukan dengan tingkat kebaikan yang maksimal.

Di sini lain, pada bulan Ramadhan Allah memberi peluang lainnya, yaitu malam Lailatul Qadar yang beribadah pada malam tersebut pahalanya sama dengan beribadah 1000 bulan atau sekitar 84 tahun. Jadi selama 84 tahun kita sudah melakukan kebaikan.

Sangat luar biasa tentunya kasih sayang Allah kepada kita. Oleh karena itu, mari memaksimalkan tawaran Ramadhan, di siang hari kita berpuasa, di malam hari qiyamullail, membaca al-Qur’an, memperbanyak bersedekah dan ibadah kebajikan lainnya, sehingga pahala beribadah 10 bulan dapat diraih. Kemudian, prinsip dalam beribadah ialah “I’mal li akhiratika kannaka tamutu ghada”, beramal untuk akhirat seolah-olah mati besok.

Maka mari beriirnsip seolah ini Ramadhan kita yang terakhir, sehingga kita melakukan ibadah secara maksimal. Tentu kita tetap berdo’a seperti tahun lalu, kiranya usia kita dipanjangkan Allah sehingga bertemu lagi dengan Ramadhan yang akan datang (1444/2023).

Jadi Ramadhan adalah bukti kasih sayag Tuhan dengan memberi kita banyak pelung untuk meraih surganya. Semoga !.

MENGAPA TAKWA SEBAGAI TUJUAN PUASA ! By Hasan Bakti Nasution

0

Catatan Harianku;S enin, 18 Maret 2024

muisumut.or.id, Salah satu pertanyaan ketika membaca ayat tentang puasa Ramadhan ialah tentang tujuan berpuasa, yaitu mengapa “taqwa” yang dijadikan sebagai tujuan berpuasa. Mengapa misalnya “agar beruntung”, “agar bahagia”, dan sebagainya. Yang namanya filsafat ya begitulah terus ditanya dan ditanya sampai tidak mungkin lagi ada pertanyaan.

Kembali ke judul di atas, jawaban sederhananya ialah karena peraih gelar taqwa akan beroleh kemudahan urusan di dunia dan akhirat. Di dunia akan memperoleh jalan keluar dari setiap persoalan hidup, sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat ath-Thalaq/65: 2, yang artinya: “Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluarg baginya”.

Kemudian di akhirat, orang bertaqwa akan masuk surga, juga sebagaimana ditegaskan ayat al-Qur’an surat al-Hajar/: 45, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu berada dalam surga-surga dan dekat mata air yang mengalir”.

Jika kemudahan hidup diraih di dunia, lalu apa lagi yang yang terbaik selain itu. Begitu juga, jika masuk surgalah yang menjadi cita-cita ideal, ternyata sudah dapat diraih oleh orang bertaqwa. Sebab itulah, taqwa dijadikan sebagai “raihan” dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Lalu siapakah orang bertaqwa itu ?

Secara syari’at, mereka ialah yang memiliki kesiapan melaksanakan peritah Allah dan menjauhi larangan Allah (imtitsalu awamiril-Lahi wajtinabu nawahi-Hi). Kemudian mereka yang tetap memberi infaq baik dalam keadaan sulit atau senang (allazina yunfiquna fis-sarrai wadh-dharrai), mampu menahan amarrah (wal kaziminal ghayza), dan memberi kemaaafan kepada sesama (wal a’fina ‘anin-nas), sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali Imran/3: 134.

Secara hakikat (tasawuf), kata Imam Qushayri dalam bukuya “Risalah al-Qushayriyyah”, mereka ditandai dengan huruf taqwa. Ta berarti “tawadhuk”, rendah hati, bukan arogan (takabbur). Qaf berarti “qana’ah”, memadakan apa yang ada. Wa berarti “wara‘”, hanya memakan dan meminum yang sudah jelas kehalalannya, dan Ya berarti “yaqin”, yang memiliki komitmen tinggi dalam beriman (hablumminallah) dan juga dalam bermu’amalah sesama manusia, yang dalam bahasa managmen disebut profesional.

Semoga taqwa menjadi kualitas individu kita pada Ramadhan tahun ini. Amin.

RAMADHAN, MENGAPA HARUS IMAN !  By Hasan Bakti Nasution

0

Catatan Harian____Sabtu 16 Maret 2024

muisumur.or.id      Ibarat ATM (anjungan tunai mandiri), iman merupakan nomor PIN, yang menentukan terbuka tidaknya sebuah ATM. Begitulah iman, ia menjadi kata kunci dinilai tidaknya prilaku kebaikan seseorang. Berapapun jumlah uang didalam ATM tanpa PIN, tidak ada gunanya, karena tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu, apapun dan berapapun prilaku kebaikan yang dilakukan, jika tidak didasarkan pada iman tidak akan dinilai sama sekali.

Hal ini dijlelaskan al-Qur’an pada surat al-Kahfi, yang artinya: “Katakanlah Muhammad, apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan pertimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku sebagai bahan olok-olok”.

Sebab itu narasi kaum liberal “yang penting adalah perbuatan yang dilakukan baik ia akan masuk surga”, artinya iman tidak perlu, menjadi tidak relevan, karena perbuatan sebaik apapun tidak dinilai tanpa iman, sesuai ayat di atas.

Selain penentu dinilai tidaknnya suatu prilaku kebaikan, iman juga berperan sebagai pendorong melakukan sesuatu, yang dalam hal ini berpuasa. Berpuasa hanya bisa dilakukan jika ada dorongan dalam bentuk motivasi berpuasa. Jika puasa diidentikkan dengan diet, orang berdiet biasanya memiiliki motivasi tertentu, seperti ingin sehat, ingin kurus, dan sebagainya.

Adapun orang berpuasa, motivasi awal dan akhirnya ialah “mematuhi perintah Allah”, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah/3: 183 yang sangat populer selama Ramadhan ini. Tiada perbuatan yang paling mulia dan kata yang paling indah selain mematuhi perintah Tuhan, sesuai komitmen “sami’na wa atha’na”.

Di sinilah diuji kekuatan iman seseorang. Ada dua pasangan badminton piala Korea Open yang bermain selama pada Ramadhan ini, salah satunya berbuka puasa yang satunya tidak. Hasilnya sama, yaitu sama-sama menang. Bedanya yang satu yakin, puasa tidak akan menyebabkan kekalahan permainan. Tuhan Maha Kuasa akan memberikan kekuatan kepada hamba yang pasrah kepada-Nya. Namun yang tidak berpuasa juga tetap beriman, karena memang terdapat rukhsakh dalam Islam, sebagai kemudahan beribadah dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti pekerja keras. Membawa nama negara tentu termasuk kerja keras, dan ini cukup memberinya alasan untuk tidak beruasa atau membatalkan puasanya.

Kembali ke judul di atas, iman adalah landasan, landasan keberadaan dan dan diakui ada tidaknya atau bernilai tidaknya suatu perbuatan, dan iman juga menjadi faktor yang kuat untuk mendorong seorang hamba melakukan puasa yang maha beerat bagi seorang, tetapi tidak bahkan menyenangkan bagi orang lain.

Semoga kita meraih taqwa sebagai sasaran akhir (goal) dari pelaksanaan ibadah puasa seperti direkamn dalam ayat puasa, yaitu surat al-Baqarah/2: 183.

Bulan Ramadan: Momentum Memperkokoh Taqwa dan Meraih Ampunan

0

muisumut.or.id-Medan, Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum memimpin khutbah Jumat di Mesjid Ar-Rahmah Komplek MUI Sumatera Utara pada 15 Maret 2024. Melalui ceramahnya yang memikat, Dr. Akmaluddin mengajak para jamaah untuk merenungkan esensi taqwa sebagai pondasi utama kehidupan yang membawa kebahagiaan sejati.

“Taqwa, sebagai landasan utama dalam menjalani kehidupan, merupakan kunci kebahagiaan yang hakiki,” ungkap Dr. Akmaluddin. Dia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati dapat diraih ketika seseorang memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dengan masuknya bulan suci Ramadan, Dr. Akmaluddin mengajak umat Islam untuk merenungkan arti penting ibadah dan keimanan dalam menjalani bulan penuh berkah ini. “Bulan Ramadan bukan hanya tentang berpuasa, tetapi juga tentang memperkokoh taqwa dalam diri kita, memohon ampunan, dan mengejar Lailatul Qadar,” tambahnya.

Dr. Akmaluddin menekankan bahwa bulan Ramadan adalah momen emas untuk melipatgandakan pahala, mendapatkan ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dia mengingatkan umat Islam akan keistimewaan bulan ini yang disertai dengan turunnya Al-Quran, kitab suci yang menjadi petunjuk bagi umat manusia.

Lebih lanjut, Dr. Akmaluddin juga menyoroti pentingnya memanfaatkan kesempatan yang diberikan di bulan Ramadan, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa jika bahkan di bulan Ramadan saja seseorang tidak mendapatkan ampunan, maka akan jauh lebih sulit untuk memperolehnya di bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, bulan Ramadan harus dijadikan momentum utama untuk memperbanyak ibadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

“Mari kita manfaatkan bulan Ramadan ini dengan sebaik-baiknya, khatam Al-Quran, beribadah dengan sungguh-sungguh, dan memperbanyak kehadiran di masjid,” tutup Dr. Akmaluddin, mengajak umat Islam untuk meraih keberkahan dan kebahagiaan sejati di bulan Ramadan.

Dengan pesan yang inspiratif, ceramah Dr. Akmaluddin Syahputra M. Hum di Mesjid Ar-Rahmah Komplek MUI Sumatera Utara hari ini menjadi sumber motivasi bagi umat Islam dalam menghadapi bulan Ramadan yang penuh berkah. (Yogo Tobing)

HAKIKAT RAMADHAN IALAH PENGENDALIAN

0

Begitulah Islam hadir yang diperuntukkan bagi semua manusia dengan multi dimensinya dari segi fisik, potensi, cara pandang, kecenderungan, kemampuan, dan lain-lain. “Al-Qur’anu wujuhun”, al-Qur’an memiliki banyak dimensi, begitu hadits Nabi ketika melukiskan al-Qur’an sebagai sumber inspirasi, aspirasi, dan tindakan bagi umat Islam. Ini tentu dimaksudkan bagaimana agar semua anak manusia merasa difasilitasi oleh al-Qur’an.

Jadi adalah menjadi kewajaran jika al-Qur’an menjadi landasan utama ajaran Islam bersama hadits Nabi sebagai penjelasan (tibyanan) dan informasi tambahan (i’laman), sebagai dua sumber yang memberi jaminan keselamatan bagi umat Islam yang mematuhinya, sesuai sabda Nabi Muhammad Saw, yang artinnya: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua hal yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu al-Qur’an dan hadits”.

Beberapa tulisan ke depan akan menguraikan puasa dalam perspektif filsafat, sebagai suatu ilmu yang berupaya memahami sesuai dengan cara pandang yang holistik (menyeluruh), atau sebagai “ilmu tentang segala yang ada sesuai dengan hakekatnya” (al-‘ilmu bil-mawjud bima huwa mawjud), kata Al-Kindy, filsuf Muslim pertama ketika melukiskan devinisi filsafat.

Filsafat Islam, dengan demikian, ialah “ilmu tentang segala yang ada sesuai dengan hakekatnya sesuai dengan cara pandang Islam yang bersumber al-Qur’an dan hadits”. Bagi Islam itu adalah raison d’eter, konsekuensi logis yang tidak bisa ditepis dari kesempurnaan kandungan al-Qur’an yang mencakup seluruh persoalan kemanusiaan, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Kembali ke judul di atas, jika pengertian umum puasa ialah “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa” (al-imsaku ‘anil mufthirat), maka hakikat Ramadhan atau puasa secara filosofis ialah pegendalian, yaitu agar manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu, walaupun itu dibenarkan.

Makan dan minum dibenarkan dan yang dimakan dan diminumpun ada, namun karena puasa tidak dillakukan. Menggauli isteri kapanpun dibenarkan, tetapi karena puasa tidak dilakukan di siang hari. Bayangkan bagaimana puasa mampu mengendalikan manusia untuk tidak melakukan sesuatu yang sesungguhnya bisa dilakukan.

Latihan sederhana tapi sulit ini diharapkan akan melatih jiwa untuk selalu siap meninggalkan sesuatu yang sesungguhnya bisa dilakukan, karena dibolehkan. Latihan jiwa ini diharapkan akan membentuk suatu kemampuan yang sudah terbiasa (sehingga menjadi habit) melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Hal ini maha penting ketika hari ini manusia dihadapkan pada berbagai kecukupan sehingga mampu melakukan apapun yang diingini.

Ambillah contoh seorang dengan kekayaannya tentu mampu melakukan apapun dengan uangnya, seperti mempengaruhi orang lain atau bahkan mempengaruhi kebijakan yang berkaitan dengan banyak orang. Namun karena puasa sudah melatihnya mengendalikan diri, dorongan menguasai orang karena banyak uang dinafikan. Contoh lain, seorang dengan kekuasaannya mampu sesungguhnya mengambil keuntungan dengan meraup uang atau fasilitas, namun itu tidak dilakukan karena puasa melatihnya untuk mengendalikan diri dari melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum dan agama.

Contoh lain yang sangat sederhana, seorang boleh mengatakan “sedang berpuasa” dengan bersikap layaknya orang berpuasa, lemas, haus, dan sebagainya, tapi tidak dilakukan, hanya karena sebuah kata, yaitu “puasa”. Wajarlah jika Allah mengatakan dalam sebuah hadits qudsi: “semua amalah anak Adam baginya kecuali puasa. Puasa bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya” (kullu ‘amali ibn Adam lahu illah-shawm, fainnahu Liy wa Ana Ajzi bihi).

Semoga hakikat puasa mampu melahirkan kita sebagai individu yang mampu mengendalikan diri dari sesuatu yang bisa dan boleh. Dengan kekuasaan bisa mempengaruhi orang lain bahkan menindas orang lain, dengan uang bisa membeli orang lain, dan sebagainya. Tetapi tidak dilakukan karena puasa. Jadi hakikat puasa ialah pengendalian diri.

Awal Ramadan, MUI Sumut Siapkan 180 Paket Sembako Untuk Disalurkan

0

muisumut.or.id-Medan, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (MUI Sumut) mengadakan kegiatan berbagi sebagai wujud kepedulian. Dalam semangat ukhuwah Islamiyah pada bulan Ramadan, MUI Sumut menyalurkan bantuan sembako berupa beras 10 Kg, minyak makan, dan gula pasir. Sebanyak 180 paket sembako telah disiapkan dan akan didistribusikan kepada penerima manfaat.

Ahmad Darwis Ritonga, yang menjabat sebagai kepala sekretariat MUI Sumatera Utara, turut serta dalam kegiatan ini. Beliau menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya nyata dari nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam membantu sesama, terutama di bulan yang penuh berkah ini.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Darwis Ritonga menyampaikan harapannya agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi para penerima, sekaligus menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berbagi dan peduli terhadap sesama. Semoga bantuan ini mampu memberikan kelegaan dan kebahagiaan bagi mereka yang menerima, serta menginspirasi masyarakat untuk terus melakukan kebaikan di segala kesempatan.

Lebih dari sekadar bantuan materi, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat ikatan sosial dan spiritual di antara anggota masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kegiatan ini menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkuat solidaritas sosial dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua pihak.

Tak hanya itu, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemanfaatan bantuan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Provinsi Sumatera Utara mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta berkontribusi melalui memberikan donasi. Dukungan finansial dapat disalurkan melalui rekening Bank Sumut Syariah dengan nomor 61002300015856 atas nama PP Wakaf Produktif MUI Sumut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari momentum “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan” yang diinisiasi oleh P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara, menunjukkan komitmen MUI Sumut dalam menjalankan peran sosial dan keagamaan untuk kesejahteraan masyarakat. (Yogo Tobing)

Bersama P2WP MUI Sumut, Ayo Wujudkan Ramadhan Penuh Berkah!

0

muisumut.or.id-Medan, Pusat Pengembangan Wakaf Produktif (P2WP) MUI Provinsi Sumatera Utara mengumumkan pelaksanaan kegiatan amal bertajuk “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan”. Kegiatan mencakup empat rangkaian acara yang bertujuan memberikan keberkahan kepada masyarakat sekitar. Pertama, “Berbagi Iftar” di KeWa Coffee Shop MUI Sumut, kedua, distribusi “Paket Sembako” untuk masyarakat kurang mampu, ketiga, pembagian “Sayuran Hidroponik”, dan terakhir, “Tausiyah Ramadhan Menjelang Berbuka Puasa”.

Menanggapi kegiatan ini, Direktur P2WP, Dr. Akmaluddin Syahputra M.Hum, menyatakan, “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi wujud nyata kepedulian kita terhadap sesama, terutama dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Melalui berbagai rangkaian kegiatan, kami ingin menyebarkan kebahagiaan dan keberkahan kepada mereka yang membutuhkan.”

Demi mendukung momentum berbagi keberkahan pada kegiatan “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan”, P2WP MUI Provinsi Sumatera Utara mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta berkontribusi melalui memberikan donasi. Dukungan finansial dapat disalurkan melalui rekening Bank Sumut Syariah dengan nomor 61002300015856 atas nama PP Wakaf Produktif MUI Sumut.

“Kami yakin, dengan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, kegiatan “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan” akan menjadi lebih bermakna dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat yang membutuhkan,” tandas Dr. Akmaluddin Syahputra M.Hum.

Dengan tema “Ramadhan 1445 H Berbagi Keberkahan,” P2WP MUI Sumut berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan memperkuat nilai-nilai kepedulian sosial di tengah-tengah bulan suci Ramadhan. (Yogo Tobing)

K.H Amir Panatagama Ingatkan Umat Islam: Jaga Kesucian Ramadan dan Berkumpul di Masjid untuk Memperkuat Spiritualitas

0

muisumut.or.id-Deli Serdang, 10 Maret 2024 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Deliserdang, melalui Ketua Umumnya, Kiai H. Amir Panatagama, mengungkapkan potensi terjadinya perbedaan masuk dan dimulainya ibadah puasa Ramadan 1445 Hijriah. Hal ini, meskipun menjadi bagian dari sejarah panjang umat Islam Indonesia, membutuhkan kewaspadaan agar tidak berujung pada perilaku yang merusak kesucian Ramadan.

Perbedaan awal bulan Ramadan dan hari raya Idulfitri, menurut Amir Panatagama, seharusnya menjadi penguat harmonisasi dan kesejukan di antara umat Islam. Namun, dia menekankan pentingnya untuk tidak terpengaruh oleh perbedaan tersebut dan menghormati keyakinan masing-masing individu.

“Dalam menyikapi perbedaan, kedewasaan dan penghormatan terhadap keyakinan sesama umat Islam harus terjaga. Yang paling penting adalah bagaimana bulan Ramadan bisa diisi dengan peningkatan amalan ibadah,” ungkap Amir Panatagama.

Dia juga menyoroti pentingnya menjaga kesucian bulan Ramadan dari perilaku yang mengarah kepada dosa dan merusak ibadah puasa. Terlebih lagi, dalam konteks suasana politik yang masih hangat akibat proses Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, dia menekankan agar umat Islam tidak terprovokasi yang dapat merusak pelaksanaan ibadah puasa.

“Jaga hati dan bersabarlah. Jangan sampai terprovokasi dan berdampak pada sikap yang dapat merusak ibadah puasa Ramadan kita,” tegasnya.

Semarakkan Masjid: Ajakan Memakmurkan Tempat Ibadah

Amir Panatagama juga mengimbau umat Islam untuk menyemarakkan masjid selama bulan Ramadan. Ia menekankan pentingnya memakmurkan masjid dengan berbagai ibadah, seperti salat, tadarusan Alquran, zikir, majelis pengajian ilmu, dan lain sebagainya.

Menurutnya, Ramadan adalah bulan suci yang penuh dengan kebaikan. Oleh karena itu, memakmurkan masjid selama bulan Ramadan adalah investasi spiritual yang amat berharga bagi umat Islam.

“Kami menyerukan umat Islam untuk menyemarakkan masjid dengan memakmurkannya selama Ramadan. Sangat rugilah orang yang kemudian tidak mendapatkan kebaikan dari bulan Ramadan,” paparnya.

Amir Panatagama juga percaya bahwa kemajuan umat Islam akan semakin gemilang jika pembangunan manusianya berbasis pada masjid, yang menjadi pusat kejayaan peradaban Islam, seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. (Yogo Tobing)

Sinergi MUI dan STAIN Madina: Pengalaman Lapangan Mahasiswa Ditutup dengan Haru

0

muisumut.or.id-Panyabungan, 8 Maret 2024 – Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mandailing Natal menjadi saksi keharuan pada hari ini saat melepas 11 mahasiswa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madina yang telah menyelesaikan PPL selama 2 bulan di kantor MUI Madina.

Acara penjemputan PPL ini dimulai dengan sambutan hangat dari Sekretaris MUI Madina, H. Ahmad Zainul Khobir, S.Ag., MM, yang menyatakan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kerjasama antara MUI dan STAIN Madina dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan keagamaan.

Para dosen pendamping lapangan, Rani Ismil Hakim, M.Pd., dan Ahmad Salman Farid, M.Sos., juga turut hadir memberikan dukungan dan arahan kepada mahasiswa PPL. Kehadiran mereka menegaskan komitmen STAIN Madina dalam melibatkan tenaga pengajar yang berkualitas untuk mendampingi mahasiswa dalam pengalaman lapangan.

Sebanyak 11 mahasiswa yang ditempatkan dalam program PPL ini berasal dari program studi bahasa dan sastra Arab serta manajemen dakwah. Mereka datang dengan semangat tinggi untuk belajar dan berkontribusi dalam kegiatan keagamaan di lingkungan MUI Madina. Dalam sesi berikutnya, para mahasiswa PPL diminta untuk membagikan kesan dan pesan mereka selama dua bulan mengabdi di Kantor MUI Madina. Dengan penuh antusias, mereka berbagi pengalaman dan pembelajaran yang didapat selama masa tersebut, merenungkan peran mereka dalam mengamalkan ilmu keagamaan dalam kehidupan nyata.

Sekretaris MUI Madina, H. Ahmad Zainul Khobir, S.Ag., MM, juga tak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh mahasiswa dan dosen pendamping atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam mendukung berbagai kegiatan keagamaan di kantor MUI Madina. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas segala ketidaksesuaian yang mungkin terjadi selama masa PPL, sembari berharap agar kolaborasi ini terus berlanjut dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik secara berkelanjutan.

Kesempatan ini tidak hanya menjadi momen berharga bagi para mahasiswa, tetapi juga menunjukkan sinergi yang erat antara lembaga pendidikan tinggi dan lembaga keagamaan dalam usaha mencetak generasi penerus yang berkualitas dan kompeten di bidangnya.

Semoga kerjasama yang baik ini terus berkembang, memberikan manfaat yang besar bagi kedua belah pihak, dan menciptakan suasana akademis yang inspiratif bagi mahasiswa dan dosen. (Yogo Tobing)